Penurunan Mental Anak sebagai Dampak Era Globalisasi

424 hit
Penurunan Mental Anak sebagai Dampak Era Globalisasi

Muhammad Arya Fathan Maulana

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang

Pada era globalisasi, Indonesia mulai mengalami penurunan kualitas mental terutama pada mental anak.

Dapat kita lihat dengan menurunnya nilai moral dan etika dalam kehidupan sosial anak di Indonesia, banyak kasus yang menandakan mulai menurunnya kualitas moral pada anak.

Seperti dilansir pada salah satu media, terdapat berita mengenai sekelompok anak sekolah yang menendang seorang nenek yang sedang berjalan.

Mirisnya, setelah menendang nenek tersebut sekelompok anak sekolah tersebut malah menertawakan hingga nenek tersebut lari ketakutan.

Selain itu di media yang lain, terdapat berita mengenai kasus seorang anak SD Cinere, Depok, berusia 12 tahun melakukan pembunuhan berencana kepada temannya akibat berebut sebuah ponsel.

Dari berita tersebut dapat kita ketahui bahwa kualitas moral anak bangsa Indonesia mengalami penurunan yang sangat drastis di era globalisasi saat ini.

Kebebasan dalam mengakses informasi menjadi alasan penyebab mental anak mengalami penurunan pada era globalisasi saat ini.

Sebab dengan bebasnya dalam mengakses informasi maka anak dapat lebih mengetahui tentang hal luar.

Jika hal yang diakses dapat mengembangkan potensi diri maka dapat membawa mental anak kearah yang lebih baik.

Sebaliknya, jika hal yang diakses malah memberikan dampak negatif bagi anak seperti hal yang tidak sesuai dengan umur anak maka anak akan mengalami penurunan mental yang berdampak pada kualitas moral anak dikemudian hari.

Dalam hal ini perlunya peran orang tua dalam mengawasi setiap aktivitas anak terutama ketika dalam masa tumbuh kembang, masa tumbuh kembang menjadi masa yang sangat penting untuk menentukan arah masa depan anak.

Oleh karena itu, pengawasan orang tua yang baik akan dapat menghasilkan sebuah anak dengan kualitas mental yang baik sehingga dapat mengembalikan kesehatan mental anak.

Tren yang semakin mengikuti budaya barat juga berpengaruh dalam perubahan kualitas mental pada anak sehingga dengan adanya tren yang semakin mengikuti budaya barat maka akan menyebabkan lunturnya budaya timur yang telah lama dianut oleh bangsa Indonesia.

Masih dilansir di sebuah media, menyebutkan bahwa budaya barat yang masuk akibat globalisasi ke Indonesia turut mengubah perilaku dan kebudayaan Indonesia, baik itu kebudayaan nasional maupun kebudayaan murni yang ada di setiap daerah di Indonesia.

Dengan hal seperti ini bisa dilihat dari ketidakmampuannya orang- orang di Indonesia untuk beradaptasi dengan baik terhadap budaya barat, sehingga menjadi terpengaruh sehingga cenderung bergaya hidup dengan ke barat-baratan dan memudarnya budaya timur sendiri.

Hal tersebut dapat terjadi karena anak yang menggunakan gadget tidak sesuai dengan fungsinya sehingga anak terbiasa memanfaatkan gadget untuk hal yang menyalahi norma.

Selain itu penyalahgunaan fungsi gadget akan membuat mental anak menjadi terus mengalami penurunan, sebab anak akan selalu mengikuti hal yang dianggapnya adalah hal yang menarik perhatian bagi anak.

Dengan adanya perkembangan teknologi yang makin pesat di era globalisasi ini, dan "kiblat" budaya di Indonesia yang semakin mengikuti kearah budaya barat, maka tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan suatu kebiasaan yang serba instan.

Kebiasaan serba instan dapat membuat anak tidak terbiasa dalam berusaha untuk mendapatkan sesuatu sehingga akan melunturkan sebuah mental berjuang pada anak.

Selain itu hal tersebut akan berdampak pada anak yang menyebabkan timbulnya sikap individualisme anak terhadap lingkungan sekitar.

Oleh karena itu, dengan timbulnya sikap individualisme yang tinggi pada anak ditakutkan akan berpengaruh pada kualitas mental anak dan akan mempengaruhi masa depan bangsa Indonesia dalam perkembangan di era globalisasi saat ini.

Dengan pesatnya perkembangan dalam segala bidang di era globalisasi saat ini mendorong anak untuk dapat beradaptasi dengan perubahan yang ada.

Dalam hal tersebut akan memberikan risiko pada masa depan anak dalam melakukan perubahan.

Salah satu hal yang dapat terjadi akibat perubahan yang terjadi adalah timbulnya sikap yang tidak sesuai dengan umur.

Seperti yang dilansir dari kompasiana bahwa kebanyakan para remaja di Indonesia terjebak akan perilaku seperti ini akibat minimnya pengetahuan mereka akan risiko dan tanggung jawab yang harus ditanggung nantinya.

Selain itu dengan sikap anak yang tidak sesuai dengan umur maka dapat mengakibatkan pada anak yang mudah terserang dengan gangguan psikologis.

Gangguan psikologis tersebut dapat berupa seperti anak dapat mudah depresi, mudah marah, hingga dapat berakhir dengan bunuh diri.

Oleh karena pesatnya perkembangan teknologi di era globalisasi ini perlu menjadi perhatian bagi masyarakat Indonesia dalam mendidik anak agar dapat memanfaatkan perkembangan teknologi dengan baik, sehingga anak dapat terdidik menjadi pribadi yang layak menjadi penerus bangsa dimasa depan.

Perkembangan teknologi yang semakin pesat di era globalisasi saat ini juga dapat menyebabkan lunturnya ciri khas bangsa Indonesia, seperti sikap gotong royong dan sikap nasionalisme.

Lunturnya ciri khas bangsa Indonesia dapat terjadi karena kualitas mental anak yang semakin merosot akibat perkembangan teknologi di era globalisasi ini.

Selain lunturnya ciri khas bangsa Indonesia, ada juga dampak yang dapat dirasakan yaitu terdorongnya sikap konsumtif pada anak.

Jika sikap konsumtif terjadi pada anak maka yang akan terjadi adalah anak akan terbiasa untuk memenuhi hasrat kepuasannya tanpa memikirkan fungsi serta dampaknya.

Dengan hal tersebut maka mental anak di era globalisasi perlu untuk ditingkatkan kembali agar dapat mencapai sehat secara mental bukannya secara fisiknya saja.

Dengan sehatnya mental pada anak maka akan meningkatkan juga kualitas bangsa Indonesia di mata dunia.

Lantas dengan adanya berbagai permasalahan akibat perkembangan di era globalisasi yang menyebabkan penurunan kualitas mental, perlu upaya-upaya yang ditujukan agar dapat mengembalikan kualitas mental anak menjadi sehat kembali.

Dalam prosesnya perlu peran serta dari berbagai komponen baik keluarga maupun masyarakat sekitar agar dapat mencapai tujuan tersebut.

Orang tua menjadi sosok yang penting dalam membentuk mental anak yang baik, sebab anak akan mendapat pendidikan pertama yang berasal dari keluarga.

Oleh karena itu, perlunya sosialisasi kepada orang tua dari anak mengenai pentingnya peran orang tua dalam mengawasi anak terutama di era globalisasi, maka diharapkan setelah dilakukan sosialisasi.

Maka orang tua akan lebih mengerti tentang peran dan fungsi dalam mendidik anak di era globalisasi.

Selain itu orang tua juga dapat membatasi anak dalam mengakses gadget dengan memberikan gadget khusus anak agar anak hanya dapat mengakses hal-hal yang sesuai dengan umur anak sehingga anak tidak terpapar dampak negatif dari gadget.

Orang tua juga dapat mengajak anak untuk melakukan kegiatan sosial di lingkungan sekitar seperti berinteraksi dengan masyarakat sekitar melalui kegiatan kerja bakti sehingga anak terlatih dalam berinteraksi dengan orang lain dan terlatih inisiatif untuk membantu lingkungan sekitar.

Dengan adanya kegiatan tersebut maka anak akan menemukan dunia baru selain dalam sebuah gadget sehingga anak akan dapat mengeksplorasi kemampuan dalam diri anak yang dapat berdampak pada perkembangan mental anak.

Dalam proses perkembangan anak perlunya orang tua menerapkan konsep bermain yang baik sesuai dengan usia anak, dengan penerapan konsep bermain anak yang baik.

Maka diharapkan anak dapat mengeksplorasi kemampuan dalam diri anak sehingga anak tidak hanya bermain dari gadget melainkan juga bermain dengan mainan yang diberikan.

Selain itu dengan adanya konsep bermain yang sesuai dengan usia anak maka anak dapat meningkatkan berbagai perkembangan yang ada dalam diri anak, seperti perkembangan sensoris dan motorik, perkembangan kognitif, dan perkembangan kreativitas pada anak.

Kurangnya edukasi pada anak mengenai batas-batas mengakses informasi yang ada di internet yang dilakukan oleh orang tua menyebabkan anak mencari informasi sendiri yang dampaknya anak akan meniru informasi tersebut tanpa menilai tentang baik ataupun buruk dari informasi tersebut.

Oleh karena itu pentingnya edukasi oleh orang tua kepada anak untuk memberikan informasi mengenai hal-hal yang belum waktunya untuk mereka ketahui agar anak mendapatkan pengertian sehingga anak tidak mencari informasi sendiri dan tidak masih dalam pengawasan orang tua.

Selain itu perlunya menumbuhkan budaya literasi sejak dini dengan tujuan dapat menumbuhkan wawasan yang luas sehingga harapannya dengan wawasan yang luas, anak dapat memiliki taraf kesehatan mental yang tinggi.

Dengan melihat fenomena-fenomena yang terjadi saat ini yang menggambarkan penurunan kualitas mental pada anak maka pentingnya bagi seluruh lapisan masyarakat untuk menganggap penurunan kualitas mental anak menjadi suatu hal yang penting sehingga anak dengan menganggap hal tersebut penting diharapkan dapat memperbaiki kualitas mental anak di Indonesia menjadi sehat kembali.

Bukankah dengan mental anak yang sehat akan menjadikan negara yang terpandang juga di masa depan kelak?

Komentar