TPS jangan Sampai Membahayakan Disabilitas

Metro- 29-11-2020 18:17
Sosialisasi pemilihan serentak yang diadakan KPU Sumbar kepada Rertuni Sumbar di Padang, Minggu (29/11). (Foto : Arzil)
Sosialisasi pemilihan serentak yang diadakan KPU Sumbar kepada Rertuni Sumbar di Padang, Minggu (29/11). (Foto : Arzil)

Penulis: Arzil

Padang, Arunala -- Proses memberika hak pilih di bilik suara (TPS) bagi penyandang tunanetra dimasa pandemi ini menjadi pertanyaan mendasar bagi para tunanetra ini.

Pertanyaan ini mencuat ketika KPU Sumbar melaksanakan sosialisasi pemilihan serentak 2020 kepada kelompok Disabilitas dari kalangan tunanetra yang tergabung dalam Persatuan Tuna Netra Indonesi (Pertuni) Sumbar, di Padang, Minggu (29/11).

"Selama masa pandemi ini, bagaimana teknis kami milih di billik suara nantinya. Misalnya bersentuhan dengan pendamping tentu tidak bisa sekarang soalnya kini masih pandemi. Untuk itu kami mau tahu bagaimana teknisnya," ujar Ketua Pertuni Sumbar, Arisman kepada Arunala.com di sela-sela acara sosialisasi itu.

Baca Juga

Dia menerangkan, kalau pada pemilu atau pilkada sebelumnya, mereka dipandu atau didampingi oleh petugas di TPS. Namun karena pandemi, bisakah para tunanetra itu didampingi oleh istri, suami atau anak mereka.

Dia juga tidak mengomentari banyak soal kondisi TPS yang dibuat penyelenggara pilkada nanti. Apakah kondisinya agak menanjak maupun menurun, bagi mereka yang tunanetra tidak begitu dipersoalkan.

"Tapi yang perlu saya tegaskan, sepanjang TPS itu aman bagi pemilih non Disabilitas maka aman pula bagi kami (tunanetra). Sebaliknya, bila TPS membahayakan bagi non Disabilitas, jelas tentu membahayakan pula bagi kami," tukas Arisman.

Tidak lupa Arisman meminta para pengurus Pertuni se Sumbar yang hadir dalam sosialisasi KPU itu bisa jadi duta bagi anggota tunanetra di daerah masing-masing. Sehingga informasi yang didapat dalam sosiaslisasi ini dapat diketahui mereka.

Terakhir, Ketua Pertuni Sumbar ini meminta KPU Sumbar agar meminta KPU kabupaten kota untuk lakukan sosialisasi yang seperti ini dengan melibatkan kelompok Disabilitas terutama tunanetra.

Komisioner KPU Sumbar Izwaryani mengatakan, berdasarkan undang-undang yang mengatur, bahwa semua masyarakat berhak mengikuti pemilu serentak, karena maayarakat yang berkewarganegaraan Indoensia adalah pemilih yang sah termasuk penyandang Disabilitas.

"Sosialisasi ini dilakukan agar karena kita pemilih yang sah, jangan kita jadi tamu di negeri sendiri, maka kita yang tentukan nasib negeri kita pada pilkada serentak nanti," kata Izwaryani.

Dia menjelaskan, dari data yang ada, jumlah pemilih Disabilitas Sumbar untuk Pilkada serentak 2020 hampir mencapai 11 ribu lebih. Rinciannya Disabilitas Fisik sebanyak 5.057 pemilih, Disabilitas intelektual 1.139 pemilih, Disabilitas mental 2.794 pemilih dan Disabilitas Sensorik 2.865 pemilih.

Terkait pelayana untuk kelompok Disabilitas tunanetra, Izwaryani menyebutkan KPU sudah menyediakan templet surat suara di tiap sejumlah TPS. "Alasannya tidak semua pemilih yang tunanetra mampu baca huruf Braille," ucap Izwaryani.

Kemudian soal pendamping pemilih tunanetra di TPS, dia menerangkan, bagi pendampingnya anak-anak berusia dibawah 10 tahun, KPU hanya membolehkan sampai pintu masuk TPS saja.

"Soalnya anak-anak pada usia itu rentan tertular atau terpapar Covid, makanya cukup sampai di pintu masuk saja. Dan itu merupakan anjuran dari tim Satgas meski KPU memastikan TPS aman dari penularan Covid-19," jelas Izwaryani lagi.

Tapi, sebut dia, bagi anak-anak yang usianya di atas 10 tahun boleh masuk sampai ke bilik suara mendampingi orang tua mereka atau sanak saudara mereka yang tunanetra.

"Dalam hal ini itu KPU juga siapkan petugas pendamping dari TPS jika pemilih tunanetra itu membutuhkan pendampingan," kata Izwaryani.

Komentar