Mendes PDTT Dua Hari di Sumbar

Metro- 11-12-2021 19:36
Mendes PDTT, Abdul Halim Iskandar disambut Gubernur Mahyeldi dan Wakil Gubernur, Audy Joinaldy saat tiba di Sumbar, Sabtu (11/12). (Dok : Istimewa)
Mendes PDTT, Abdul Halim Iskandar disambut Gubernur Mahyeldi dan Wakil Gubernur, Audy Joinaldy saat tiba di Sumbar, Sabtu (11/12). (Dok : Istimewa)

Penulis: Arzil

Padang, Arunala - Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, Transmigrasi (Mendes PDTT), Abdul Halim Iskandar bersama istrinya Lilik Umi Nasriiyah dan rombongan hadir di Sumbar, Sabtu (11/12).

Kehadiran menteri yang akan melakukan beberapa kegiatan di Sumbar selama dua hari ini (11-12/12) disambut langsung Gubernur Mahyeldi Ansharullah, Wakil Gubernur, Audy Joinaldy serta beberapa kepala daerah dan pejabat lainnya di Pemprov Sumbar dan kabupaten kota.

"Kedatangan Mendes PDTT ini merupakan anugerah bagi Sumbar karena akan banyak program Kementerian Desa yang akan digelontorkan, tentunya itu akan sangat membantu Sumbar," kata Mahyeldi.

Baca Juga

Sedangkan Audy Joinaldy menyampaikan, Sumbar dulunya merupakan salah satu kawasan transmigrasi pada masa pemerintahan Presiden RI Soeharto.

Menurutnya, warga transmigrasi yang ada di Sumbar kebanyakan berasal dari Pulau Jawa. Telah puluhan tahun mereka hidup damai.

"Meski, memiliki belakang budaya dan agama yang berbeda-beda tetap menjaga kerukunan," kata Audy Joinaldy.

Sebelumnya, Bupati Pesisir Selatan (Pessel), Rusma Yul Anwar menyebutkan Menteri Desa PDTT akan hadir di Pessel dalam memperingati Hari Bakti Transmigrasi Nasional 2021.

"Agenda kehadiran Pak Abdul Halim Iskandar itu ke Pessel selain berkaitan peringatan Hari Bakti Transmigrasi Nasional 2021 yang dipusatkan di Painan, juga berhubungan dengan ada duanya lokasi transmigrasi di kabupaten saya ini yaitu di Kecamatan Lunang dan Kecamatan Silaut," kata Rusma Yul Anwar.

Pertimbangan lain Kemendes PDTT menunjuk Pessel, sambungnya, karena dua lokasi transmigrasi yang ada itu tidak ada munculnya persoalan-persoalan yang berarti di dua tempat itu sampai sekarang.

"Bahkan, sejak lokasi transmigrasi yang dibuka sejak 1973 di Pessel itu, justru kehidupan dua etnis yang berbeda di daerah transmigrasi ini malah hidup berdampingan," kata Rusma Yul Anwar.

Komentar