Refa Cs Harumkan Nama Unand di Kompetisi Internasional

Metro- 16-02-2022 17:29
Refa Rahmaddiansyah bersama tim saat menerima penghargaan usai memenangkan kompetisi Asean Innovative Science Enviroment and Enterpreneur Fair 2022 yang diadakan di Undip Semarang beberapa waktu lalu. (Dok : Istimewa)
Refa Rahmaddiansyah bersama tim saat menerima penghargaan usai memenangkan kompetisi Asean Innovative Science Enviroment and Enterpreneur Fair 2022 yang diadakan di Undip Semarang beberapa waktu lalu. (Dok : Istimewa)

Penulis: Arzil

Padang, Arunala - Dua tim dari Universitas Andalas (Unand) yang mengikuti kegiatan ilmiah tingkat internasional yakni Asean Innovative Science Enviroment and Enterpreneur Fair 2022 di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, berhasil meraih dua medali emas. Kegiatan yang diadakan pada 2 - 6 Februari 2022 lalu, menitikberatkan pada ajang kompetisi ini pada aspek inovasi berbagai bidang dari mahasiswa baik Indonesia maupun Internasional.

Dua tim peserta yang dikirim Unand diajang kompetisi Internasional itu berjumlah lima orang mahasiswa yakni tim 1 terdiri dari Wahida Rahmi dan Refa Rahmaddiansyah untuk kategori Industrial Application. Sedangkan untuk tim 2, terdiri Faishal Arif Kurniawan, Muhammad Zidan Amriza dan Refa Rahmaddiansyah untuk kategori Innovative Science.

"Alhamdulillah, dalam ajang kompetisi internasional ini, dua tim kami ini berhasil meraih medali emas, bahkan tim untuk kategori Innovative Science dapat tambahan penghargaan berupa special award dari panitia," kata Refa Rahmaddiansyah, saat dihubungi Arunala.com , Rabu siang (16/2).

Baca Juga

Refa menyebutkan, medali emas yang diraih timnya karena tim penguji menilai karya penelitian dan inovasi yang dibuat dia dan timnya cukup mengesankan.

"Ini karena penelitian yang kami buat untuk Dia juga menerangkan, ada lebih 447 tim (387 tim penilaian via online) dari 20 negara yang ikut ajang Asean Innovative Science Enviroment and Enterpreneur Fair 2022 itu. Dan penilaiannya dibagi dua yakni secara daring dan luring.

"Cuma yang datang ke Undip hanya 60 tim yang jadi finalis untuk lakukan presentasi secara langsung dihadapan sejumlah tim juri, dan mengingat masih pandemi, maka yang diundang hadir di Undip itu hanya tim dari Indonesia yang berasal dari berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta," terang Refa.

Dalam ajang kompetisi ini, Refa menerangkan, sebelum lomba dimulai, terlebih dulu tim yang ikut mengirimkan abstrak dari makalah penelitian mereka ke pihak panitia.

Setelah itu, kirimkan lagi karya ilmiah yang dibuat dan juga posternya, kemudian bagi 60 tim yang masuk penilaian finalis akan lalukan presentasi dihadapan tim penilai di Undip.

Adapun kriteria penilaian tim juri terhadap karya ilmiah mahasiswa itu lanjutnya, yaitu menyangkut ide, kemudian presentasi, selanjutnya kemampuan argumentasi dalam sesi tanya jawab dengan dewan juri dari beberapa negara termasuk Indonesia.

Refa mengaku, ide karya ilmiah yang dibuat bersama teman satu timnya itu menyangkut bidang inovasi dengan membuat permen keras dari katekin gambir untuk obat radang sendi.

Ia menjelaskan alasan dia bersama tim buat karya ilmiah yang inovatif itu, karena dirinya menilai gambir memiliki banyak manfaat, tidak hanya untuk buat bahan pewarna kain atau teman untuk makan sirih saja, tapi bisa juga dimanfaatkan sebagai bahan obat-obatan.

"Setelah diteliti dan kebetulan saya mahasiswa kedokteran di Unand, menemukan katekin gambir rupanya bisa dijadikan obat pencegah radang sendi yang lebih dikenal dengan nama rematik (rheumatoid arthritis)," beber Refa.

Terkait katekin gambir yang dibuat dalam bentuk permen keras, Refa mengaku hal itu dilakukan sebagai bentuk inovasi baru, sekaligus juga untuk meningkatkan nilai jual dari katekin gambir tersebut.

"Selain itu, inovasi yang kami teliti ini tidak hanya sekadar sebagai terapi dan mengobati, tapi kami akan membuat untuk pengobatan juga," kata Refa Rahmaddiansyah.

Komentar