Badan Bahasa Implementasikan UKBI Adaptif Merdeka

Edukasi- 03-03-2022 11:39
Suasana acara Diseminasi Nasional Kemahiran Berbahasa yang digelar secara virtual oleh Badan Bahasa, Selasa, (1/3) kemarin. (Dok : Istimewa)
Suasana acara Diseminasi Nasional Kemahiran Berbahasa yang digelar secara virtual oleh Badan Bahasa, Selasa, (1/3) kemarin. (Dok : Istimewa)

Penulis: Arzil

Jakarta, Arunala - Perkembangan penggunaan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) Adaptif Merdeka makin masif setelah diluncurkan secara resmi pada akhir bulan Januari 2021 oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim.

Seiring dengan perkembangan yang masif itu, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa terus meningkatkan komitmen dalam pemajuan kebahasaan dan kesastraan, salah satunya melalui acara Diseminasi Nasional Kemahiran Berbahasa, Selasa, (1/3) kemarin.

Acara yang diselenggarakan secara hibrida tersebut dihadiri oleh pemerintah daerah, guru dan tenaga kependidikan, siswa, serta komunitas, dan pegiat kebahasaan di Indonesia yang telah secara aktif menggunakan dan menerima manfaat dari UKBI Adaptif Merdeka.

Baca Juga

"UKBI itu betul-betul memiliki validitas yang tinggi, menguji keterampilan dan kemahiran berbahasa seseorang sesuai dengan karakter dirinya, sesuai dengan kompetensinya," jelas Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), E Aminudin Aziz saat membuka acara diseminasi secara resmi melalui media virtual.

Aminudin melanjutkan, UKBI Adaptif Merdeka telah diikuti 168.464 peserta uji setelah resmi diluncurkan. Angka ini cukup fantastis, ada penambahan sekitar 100.000 peserta dalam 1 tahun terakhir.

"Ini merupakan sebuah pencapaian luar biasa. Saya ucapkan selamat untuk tim UKBI terhadap pencapaian tersebut dan apresiasi atas kontribusi yang diberikan," ucapnya.

Keberhasilan penambahan peserta yang mengikuti UKBI tersebut tak lepas dari seluruh pemerintah daerah dan pemangku kepentingan di dunia pendidikan dasar, menengah, dan tinggi, termasuk kementerian/lembaga yang telah menggunakan UKBI sebagai alat uji kompetensi.

Sementara itu, Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Abdul Khak, menyampaikan paparan bertajuk "Kebijakan Kemahiran Berbahasa Indonesia".

Ia mengatakan bahwa diperlukan dukungan regulasi kemahiran berbahasa Indonesia yang tepat sesuai dengan kondisi para pelaku ataupun penerima manfaat.

"Sebagai contoh dinas pendidikan, sekolah dapat mendorong pelajar untuk secara aktif dan masif mengikuti UKBI sesuai dengan ketentuan tanpa dikenai biaya," ujarnya.

Pada sesi diskusi praktik baik, Kepala Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 2 Papua, Imelda, mengungkapkan kegembiraannya setelah menggunakan UKBI Adaptif Merdeka di sekolah yang dipimpinnya.

"Harapan saya, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa terus secara rutin menyelenggarakan sosialisasi penggunaan UKBI di berbagai sekolah agar makin banyak pelajar yang terukur kemahiran berbahasanya dan tentunya memperoleh manfaat yang baik," tegasnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, Nurhayati, menyampaikan bahwa dalam hal mengukur kemahiran penggunaan bahasa Indonesia, salah satunya bagi para mahasiswa, alat uji kemahiran berbahasa tidak hanya sekadar mengujikan tata bahasa kepada masyarakat, tapi juga harus disosialisasikan kepada para dosen fakultas.

"Dengan menggunakan bahasa Indonesia secara baik, mahasiswa akan lebih percaya diri. Mereka akan mampu mengungkapkan apa yang mereka inginkan," urai Nurhayati.

Selanjutnya, perwakilan salah satu asosiasi profesi, Bahrul Hayat menambahkan bahwa sebagai sebuah tes, instrumen UKBI telah memiliki pijakan teori yang kokoh, telah menggunakan analisis psikometri, dan telah memiliki skala penilaian yang baku.

"Selain itu, UKBI telah memperhatikan administrasi tes dengan menggunakan sistem yang canggih serta telah membuat deskripsi untuk variabel-variabel yang diukur. Semua itu merupakan ciri tes yang bermutu dan modern," kata Bahrul Hayat.(*)

Komentar