Gubernur Nilai Geotekstil jadi Alternatif Pencegahan

Metro- 24-05-2022 12:38
Gubernur Mahyeldi saat pimpin rapat koordinasi bupati dan wali kota terkait abrasi di beberapa kawasan di Sumbar, Senin (23/5). (Dok : Istimewa)
Gubernur Mahyeldi saat pimpin rapat koordinasi bupati dan wali kota terkait abrasi di beberapa kawasan di Sumbar, Senin (23/5). (Dok : Istimewa)

Penulis: Darizon Y

Padang, Arunala - Kawasan pantai dan danau yang rawan abrasi jadi topik bahasan yang dilakukan Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah dengan bupati dan wali kota se Sumbar dalam rapat koordinasi (rakor) di auditorium gubernuran, Senin (23/5) kemarin.

Dari pembahasan itu, Mahyeldi menilai pengembangan dan pemanfaatan potensi Geotekstil akan jadi alternatif dalam upaya pencegahan abrasi di lokasi pantai dan danau tersebut.

"Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah abrasi, diantaranya penanaman mangrove dan pembangunan alat pemecah ombak di sekitar pantai maupun danau," kata Mahyeldi.

Baca Juga

Untuk tanaman mangrove misalnya, sebut Mahyeldi, berfungsi sebagai paru-paru dunia, tinggalnya habitat flora dan fauna, hingga sebagai pengendali bencana.

Dari data yang didapat Mahyeldi, kawasan pantai maupun danau yang rawan abrasi itu antara lain kawasan pantai Muaro, kawasan Pantai Sungai Limau, kawasan Danau Maninjau, Danau Singkarak, Kawasan Wisata Pantai Jati di Mentawai, dan lainnya.

"Kami (pemprov, red) dan BNPB pusat beberapa waktu lalu telah merancang untuk menambah daratan dan menanami tanaman mangrove di kawasan Pantai Padang hingga Pariaman. Termasuk daerah Pesisir Selatan, Padangpariaman, Pasaman Barat, Kepulauan Mentawai dan seluruh daerah yang dekat dengan kawasan perairan," ujarnya.

Selain permasalahan abrasi, Mahyeldi juga menyampaikan permasalahan pembuangan limbah yang ada di kawasan Muaro dan kawasan Danau Maninjau.

"Untuk pengerukan sampah di dua kawasan itu perlu biaya besar dan pemprov masih mengupayakan limbah-limbah tersebut akan dibuang ke mana," ujar Mahyeldi lagi.

Dalam laporannya, Pemprov Sumbar sudah mengajukan dana puluhan miliar ke Kementerian Kelautan dan Perikanan yang sampai sekarang belum terlaksana, sedangkan kedalaman Danau Maninjau dan Danau Singkarak akibat sedimen terus berkurang.

"Sudah terjadi penurunan kedalaman danau di kawasan tersebut karena berkurangnya sedimen, menumpuknya sampah, dan permasalahan lainnya. Begitu juga dengan Pantai Ulakan, yang berlokasi di Padangpariaman yang terdapat longsor dan banjir yang mengakibatkan sedimen pantai terus berkurang," tuturnya.

Karena itu, lanjut Mahyeldi, perlunya pemanfaatan Geosintetik, yang merupakan fasilitas penahanan limbah yang berfungsi untuk pemisahan, drainase, filtrasi dan penguatan alat Geotekstil tersebut.

"Geosintetik ini memiliki peranan penting dalam aplikasi penahan limbah, karena serba guna, memiliki umur yang panjang, hemat biaya, dan memiliki sifat mekanik yang baik," ucap Mahyeldi.

Mendukung hal tersebut, perwakilan konsultan dari PT Sobo Rejo, Beni, mengatakan untuk mengatasi permasalahan abrasi, penggunaan karung Geotekstil sebagai konstruksi pemecah ombak sangat baik dan cocok digunakan karena lebih efektif dari segi biaya dan waktu pengerjaan daripada konstruksi konvensional.

"Kelebihan dari Geotekstil sendiri lebih tahan terhadap scourcing (gerusan ombak) terhadap konstruksi di laut, dikarenakan sifat geotekstil yang fleksibel dan faktor berat dari karung Geotekstil tersebut," terang Beni.

"Teknologi karung Geotekstil ini dipasang dibawah laut ini, mempunyai banyak manfaat. Antara lain tidak mengganggu pemandangan wisatawan, di samping itu teknologi ini dapat mengurangi abrasi dan menciptakan reklamasi alami. Di mana garis pantai semakin bertambah dan meluas ke arah laut," pungkasnya.

Komentar