Pasar Kuliner Luak Nan Tigo Hadirkan Selera Tradisional

Metro- 16-06-2022 08:49
Ketua DPRD Sumbar Supardi berbaur dengan pelaku usaha yang ikut dalam pasar kuliner tradisi Luak Nan Tigo, di Payakumbuh, Rabu malam (15/6). (Dok : Istimewa)
Ketua DPRD Sumbar Supardi berbaur dengan pelaku usaha yang ikut dalam pasar kuliner tradisi Luak Nan Tigo, di Payakumbuh, Rabu malam (15/6). (Dok : Istimewa)

Penulis: Arzil

Payakumbuh, Arunala - Pagelaran pameran seni dan pasar kuliner tradisi Luak Nan Tigo, di Medan Nan Bapaneh Ngalau Indah, Kota Payakumbuh, resmi dibuka Ketua DPRD Sumbar Supardi, Rabu malam (15/6).

Kegiatan ini difasilitasi Dinas Kebudayaan Sumbar ini berlangsung selama tiga hari (15-17/6). Di tempat itu disajikan berbagai jenis kuliner khas Luak Nan Tigo dan ada juga digelar pameran seninya.

Supardi saat memberikan sambutan mengatakan, kegiatan pasar seni merupakan upaya untuk mengenalkan makanan tradisional Minang khususnya di Luak Nan Tigo untuk lebih dikenal hingga mancanegara, diharapkan kuliner tradisional yang ditampilkan bisa dinikmati minimal oleh turis negara tetangga, seperti Malaysia, Brunei hingga Singapura.

Baca Juga

"Hingga saat ini, masih banyak makanan tradisional kita yang belum terekspos bahkan ada sebagian makanan tradisional yang ditampilkan pada pameran ini, menjadi persyaratan wajib dalam pernikahan Minang," katanya.

Dia menjelaskan makanan tradisional kita, jauh lebih bergizi dari makan cepat saji yang dihadirkan oleh restoran luar negeri, dengan banyaknya masyarakat Sumbar melirik makanan tradisional akan mempengaruhi konsep ketahanan pangan yang menjadi isu utama dari pasar seni ini.

Supardi berharap tidak hanya makanan tradisional saja yang maju ke mancanegara, namun juga tarian-tarian tradisi luhak nan tigo bisa keliling Eropa untuk mengemban misi kebudayaan.

Kepala UPTD Taman Budaya Sumbar, Hendri Fauzan, menyebutkan, pasar seni Payakumbuh diadakan guna mempromosikan kekayaan kuliner tradisional Minangkabau dengan segala potensinya, terutama yang berhubungan dengan ketahanan pangan.

"Acara ini difasilitasi oleh UPTD Taman Budaya Sumbar untuk lebih mengenalkan lagi kekayaan kuliner kita. Tujuannya juga untuk edukasi soal nilai-nilai ketahanan pangan yang ada pada kuliner-kuliner tersebut," jelasnya.

Ketahanan pangan merupakan salah satu isu penting yang tengah mendapat perhatian di nasional mau pun internasional. Terutama di masa-masa pandemi, ketahan pangan mendapat perhatian lebih.

Beberapa pihak, kemudian mencoba menggali lebih jauh konsep-konsep ketahanan pangan yang dimiliki oleh kebudayaan lokal, termasuk Minangkabau.

Tradisi lokal dianggap bisa menjadi solusi atau sumber inspirasi untuk menghadapi ancaman krisis pangan di tingkat global saat ini. Minangkabau sendiri, menurut kurator Pasar Seni Payakumbuh, Zuari Abdullah, memiliki konsep ketahan pangan sendiri yang tampak dari tata letak Rumah Gadang.

Komentar