Adrian Sebutkan Data BPS Penting bagi Wartawan

Metro- 06-10-2022 14:51
Komisioner KI Sumbar Adrian Tuswandi ketika jadi pembicara dalam workshop yang diadakan BPS Sumbar, di Padang, Kamis (6/10). (Dok : Istimewa)
Komisioner KI Sumbar Adrian Tuswandi ketika jadi pembicara dalam workshop yang diadakan BPS Sumbar, di Padang, Kamis (6/10). (Dok : Istimewa)

Penulis: Arzil

Padang, Arunala.com - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumbar gelar workshop wartawan 2022 bertemakan Kolaborasi Statistik dan Jurnalistik, Kunci Sukses Membangun Nagari, Kamis (6/10).

"BPS tanpa pers maka indikator ekonomi pembangunan tidak tersampaikan ke masyarakat luas. Apalagi penyampaian statistik BPS tidak bisa dipahami semua orang tanpa narasi pers yang disajikan oleh wartawan," ujar Kepala BPS Sumbar Herum Fajarwati saat membuka workshop, Kamis pagi tadi.

Kegiatan dimaksud tentu untuk memperkaya khasanah wartawan dalam membuat pemberitaan sesuai fakta data peristiwa.

Baca Juga

"Output tentu wartawan mampu berkolaborasi dengan BPS lewat berita kuat data yang dihasilkan BPS untuk bersinergi membangun negeri," ujar Herum.

Workshop juga dalam rangka mensukseskan Sensus Pertanian 2023 yang dilaksanakan BPS setiap 10 tahun sekali.

"Sensus pertanian ini penting untuk mengupgrade data A hingga Z sektor pertanian, tentu wartawan sebagai mitra strategis BPS bisa menjadi support informasi untuk sukseskan program nasional 2023," ujar Herum.

Workshop digelar BPS Sumbar menghadirkan narasumber dari Komisioner Komisi Informasi (KI) Sumbar, Adrian Tuswandi.

Dia menyampaikan materi bertajuk Jurnalis Hebat Kuat Data, juga ada pakar statistik yang menjadi narasumber dari Kamis pagi sampai siang.

"Berita fakta dan peristiwa tanpa data A1 dari BPS, maka karya itu hambar, karya hebat jurnalis itu harus kuat dengan data, sekaligus dengan data itu bisa menangkal penyebaran informasi hoaks," ujar Adrian.

Adrian Komisioner dua periode, pemegang Kartu Utama Dewan Pers menegaskan data produksi BPS adalah data penting, peran jurnalis dalam menyajikannya menarik sebelum disajikan kepada masyarakat.

"Hebat lagi, data dikeluarkan BPJS jika dirujuk pers maka dipastikan pers terhindar dari delik pers, tapi bagi orang yang berkepentingan terutama mempertahankan kekuasaan misalnya pasti kejang-kejang ketika data angka kemiskinan dan pengangguran dirilis BPS," ujar Adrian Tuswandi mengakhiri.

Komentar