Tahun Depan Tidak Ada Kemiskinan Ekstrim di Kota Pariaman

Metro- 03-10-2022 10:05
Wali Kota Pariaman, Genius Umar memimpin Rapat Koordinasi Kemiskinan, bertempat di ruang rapat walikota, Balaikota Pariaman, Senin (3/10). (Foto : Istimewa)
Wali Kota Pariaman, Genius Umar memimpin Rapat Koordinasi Kemiskinan, bertempat di ruang rapat walikota, Balaikota Pariaman, Senin (3/10). (Foto : Istimewa)

Penulis: Arzil

Pariaman, Arunala.com - Kita menginginkan di Kota Pariaman tidak ada lagi kemiskinan ekstrim, karena itu, kita harus bekerja bersama, saling support antar lintas OPD dan sektoral, untuk dapat mewujudkan hal tersebut.

Hal ini disampaikan oleh Wali Kota Pariaman, Genius Umar, ketika memimpin Rapat Koordinasi Kemiskinan, bertempat di ruang rapat walikota, Balaikota Pariaman, Senin (3/10). Rapat ini juga dihadiri oleh Asisten I, Yaminurizal, Asisten II, Elfis Candra, Kepala OPD (Organisasi Perangkat Daerah), dan juga dihadiri oleh Kepala BPS Kota Pariaman, Yuliandri dan jajaran.

"Pada Tahun 2020 lalu, angka kemiskinan ekstrim kita berada di angka 0,77 persen, atau sebanyak 685 orang, dan sampai saat ini, di Tahun 2022, angka kemiskinan ekstrem kita sudah berada di angka 0,4 persen, atau hanya tinggal 280 orang lagi, dan kami yakin, tahun depan kita sudah tidak ada lagi kemiskinan ekstrem di Kota Pariaman," ujarnya.

Baca Juga

Genius juga menginstruksikan agar angka 280 orang ini, harus sudah ada datanya by name by adrees, kordinasikan dengan desa dan camat, berapa orang didaerahnya yang termasuk dalam kategori kemiskinan ekstrem ini, ucapnya.

"Setiap OPD harus paham dengan apa yang akans dikerjakan, mulai dari pengurangan angka kemiskinan, memperbanyak lapangan kerja, penguatan pariwisata sebagai daya ungkit ekonomi daerah, dan juga program-program sosial yang langsung menyasar kepada masyarakat miskin tersebut," ungkapnya.

Orang nomor satu di Kota Pariaman ini juga menyebutkan, agar seluruh OPD bersemangat untuk melakukan pekerjaan yang mulia ini, dalam mengentaskan kemiskinan ekstrem di Kota yang terkenal dengan budaya Tabuik nya ini.

"Kita harus dapat mengukur sejauh mana program dan bantuan yang diberikan, dapat membantu dan mengurangi angka kemiskinan ekstrem ini, di Kota Pariaman, sehingga program yang tepat sasaran dan partisipatif dari masyarakat, menjadi pola kolaboratif dari Pemko Pariaman, untuk mencapai tujuan tersebut," tukasnya

Lebih lanjut Genius menuturkan, penyesuaian harga BBM diyakini berdampak bagi perekonomian masyarakat, yang berpotensi meningkatkan angka pengangguran yang tentunya akan menambah tingkat kemiskinan. Selain itu, juga akan timbul penurunan daya beli dalam jangka pendek karena income effect yang mengalami penurunan, khususnya kelompok rumah tangga miskin.

"Pemerintah Kota Pariaman terus memperhatikan dampak bagi penyesuaian harga BBM di masyarakat, dengan memberikan dukungan melalui berbagai program kegiatan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat miskin, dengan tujuan, pendapatan masyarakat dan daya beli masyarakat kelompok miskin tetap terjaga, serta meningkatkan kemampuan mereka melakukan konsumsi," tutupnya. (*)

Komentar