Pakaian Berbahan Kain Tradisional jadi Tren Fashion Kekinian

Metro- 21-11-2022 22:02
Hasil rancangan Saruang Bugih karya desainer Feymil Chang dipamerkan saat Payakumbuh Local Pride 2022, Minggu (20/11). (Dok : Istimewa)
Hasil rancangan Saruang Bugih karya desainer Feymil Chang dipamerkan saat Payakumbuh Local Pride 2022, Minggu (20/11). (Dok : Istimewa)

Penulis: Fajril

Payakumbuh, Arunala.com - Memiliki daya tarik pada kekayaan adat dan budaya Minangkabau seperti ragam tekstil, upacara adat, dan kerajinan tangan, membuat desainer asal Payakumbuh, Feymil Chang selalu memasukan unsur lokal pada karyanya.

Perancang busana ini mengatakan dalam pemilihan material, ia menyukai tenun, sarung, songket yang dikombinasikan dengan aplikasi-aplikasi unik yang menjadi ciri khasnya.

Karya Feymil Chang ini tidak hanya bisa dipakai dalam acara khusus, melainkan juga sebagai busana sehari-hari.

Baca Juga

Feymil - akrab dipanggil memamerkan karya terbarunya berjudul Saruang Bugih yang hasilnya terdapat sisipan kain tradisional.

Karyanya tersebut ditampilkan saat Payakumbuh Local Pride 2022 di trotoar kawasan Ramayana Plasa Kota Payakumbuh, Minggu (20/11).

"Melalui rancangan saya, saya ingin mengenalkan bahan dan motif-motif kain tradisional kepada anak-anak muda zaman sekarang," kata Feymil kepada Arunala.com .

Feymil berharap generasi zaman sekarang bisa bangga menggunakan kain tradisional sebagai pakaian sehari-hari sesuai cara dan gaya mereka sendiri.

Seperti halnya masyarakat zaman dahulu. Melalui dunia fesyen, Feymil mengaku Ia bisa bebas bereksperimen dan berekspresi.

"Saya bebas mencampur berbagai gaya, warna, bahan, dan kerajinan tangan. Saya benar-benar merasa ini adalah tempat bermain saya," tuturnya.

Untuk koleksi Saruang Bugih ini, sebut Feymil, dia ingin kembali memperkenalkan kain tradisional ini bisa digunakan untuk fashion kepada generasi muda saat ini. Bukan lagi sekadar untuk sarung atau kain sandang saja.

"Apalagi selama ini kita ketahui, kain saruang bugih digunakan kaum laki-laki di Minangkabau sebagai sarung untuk salat. Atau sandang dibahu dalam acara adat dan budaya. Bisa juga dijadikan sebagai tando ke anak laki-laki yang akan berumah tangga," tutur Feymil.

Ia berharap melalui koleksi Saruang Bugih ini, muncul lagi daya minat generasi muda saat ini untuk melestarikan kain wastra Minangkabau.

"Jika dibanding daerah lain di Indonesia, perkembangan tren fashion dengan bahan dasar kain tradisional berkembang pesat. Malah makin dikenal dikancah internasional," ungkapnya.

Tak kalah pentingnya, sebut Feymil, dengan hasil rancangannya ini dapat mengangkat perekonomian UMKM bidang wastra kain tradisional, khususnya kain sarung bugih ini.

"Sekaligus menjadi tuan rumah di negeri sendiri dalam hal dunia fesyen tentunya," harap Feymil.

Komentar