Kemenkes Komitmen Akhiri Endemi HIV AIDS Tahun 2030

Metro- 01-12-2022 19:28
Ilustrasi Peringatan Hari AIDS Sedunia pada 1 Desember. (Dok : Istimewa)
Ilustrasi Peringatan Hari AIDS Sedunia pada 1 Desember. (Dok : Istimewa)

Penulis: Fajril

Jakarta, Arunala.com - Hari AIDS Sedunia (HAS) rutin diperingati pada 1 Desember setiap tahunnya. Peringatannya dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan kemandirian masyarakat akan pentingnya pencegahan dan mendorong peran aktif masyarakat dalam pengendalian HIV/AIDS.

Tema Global peringatan Hari AIDS Sedunia tahun 2022 yaitu "Equalize". Tema ini dipilih mengingat pentingnya mengakhiri ketidaksetaraan yang mendorong terjadinya AIDS di seluruh dunia, khususnya pada perempuan, anak, dan remaja.

Tanpa tindakan nyata dan terukur terhadap ketidaksetaraan, dunia termasuk Indonesia berisiko tidak mencapai target untuk mengakhiri AIDS pada tahun 2030.

Baca Juga

Sementara tema nasional yang diambil adalah Satukan Langkah Cegah HIV, Semua Setara Akhiri AIDS. Tema ini mengajak kita semua untuk mengulurkan tangan, bergerak bersama, sebagai kekuatan terbesar untuk mengakhiri AIDS di Indonesia dengan mengusung kesetaraan bagi semua, khususnya perempuan, anak, dan remaja.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular, Imran Pambudi menegaskan komitmen Kementerian Kesehatan RI berkomitmen untuk mengakhiri endemi HIV pada tahun 2030.

Sebagai bentuk dari komitmen tersebut, Kemenkes melakukan upaya penanggulangan HIV-AIDS dengan menempuh jalur cepat 95-95-95.

"Artinya mencapai target indikator 95 persen estimasi Orang Dengan HIV (ODHIV) diketahui status HIV-nya, 95 persen ODHIV diobati dan 95 persen ODHIV yang diobati mengalami supresi virus," sebutnya dalam laman sehatnegeriku.kemkes.go.id.

Namun, menurut data tahun 2018-2022, capaian target tersebut khususnya pada perempuan, anak dan remaja masih belum optimal.

Sebab, baru 79 persen Orang Dengan HIV (ODHIV) mengetahui status HIV-nya, baru 41 persen ODHIV yang diobati dan 16 persen ODHIV yang diobati mengalami supresi virus.

Berdasarkan data modeling AEM, tahun 2021 diperkirakan ada sekitar 526,841 orang hidup dengan HIV dengan estimasi kasus baru sebanyak 27 ribu kasus. Yang mana, sekitar 40 persen dari kasus infeksi baru tersebut terjadi pada perempuan.

Penyebabnya beragam mulai dari pandemi Covid-19, retensi pengobatan ARV yang rendah, adanya ketidaksetaraan dalam layanan HIV.

Bahkan masih dirasakannya stigma dan diskriminasi yang berawal dari kurangnya pengetahuan masyarakat tentang HIV-AIDS.

"Hal ini menunjukkan upaya pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak masih memerlukan penguatan," kata Direktur Imran.

Penguatan strategi triple 95 dilakukan dengan menggencarkan promosi kesehatan, upaya pencegahan perilaku beresiko, penemuan kasus (skrining, testing, tracing) dan tatalaksana kasus.

Tak hanya itu, Kemenkes juga mencantumkan strategi pengendalian HIV-AIDS bagian dari Standar Pelayanan Minimum di Fasyankes.

Strategi ini tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 4 Tahun 2019 tentang Standar Teknis Mutu Pelayanan Dasar Pada Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan.

Selain dilakukan kepada perempuan, anak dan remaja. Upaya tersebut juga dilakukan kepada semua siklus hidup mulai dari bayi baru lahir, balita, anak usia sekolah dasar, remaja, dewasa dan lansia.

Hal ini untuk memastikan setiap orang mendapatkan pelayanan pencegahan dan pengobatan sesuai kebutuhannya.

"Setiap orang yang berisiko terinfeksi HIV dapat datang ke fasyankes untuk melakukan tes. Bila hasil tes menyatakan terinfeksi HIV, segera minum ARV yang disediakan pemerintah di fasilitas layanan kesehatan mampu tes dan pengobatan HIV," ujar Direktur Imran.

Terpisah, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Tropik dan Infeksi RSUP M Djamil Padang, dr Armen Ahmad SpPD KPTI FINASIM juga menegaskan hal demikian.

"Ini sebuah pekerjaan yang berat untuk mencapainya. Oleh karena itu perlu satukan langkah," tegasnya.

Untuk mencapai itu, sebut Armen, perlu mencari semua orang yang punya faktor risiko di tes 95 persennya.

Kemudian, mendata pasien yang sudah mendapatkan obat. Tak hanya dinas kesehatan saja, perlu keterlibatan keluarga dan institusinya untuk terus mengajak pasien datang berobat.

"Kemudian, kita periksa virus 95 persennya hingga tidak terdeteksi. Ini butuh modal yang besar serta kemauan yang besar. Jika ini tercapai barulah tujuan kita ini bisa tercapai," harap Armen. (*)

Komentar