Delapan Mahasiswi jadi Korban, Oknum Dosen Dinonaktifkan

Metro- 23-12-2022 19:54
Wakil Rektor I Unand Prof Dr Mansyurdin, Dekan FIB Unand Prof Dr Herwandi MHum dan Ketua Tim Satgas PPKS Unand, Dr dr Rika Susanti SpFM (K). (Foto : Fajril)
Wakil Rektor I Unand Prof Dr Mansyurdin, Dekan FIB Unand Prof Dr Herwandi MHum dan Ketua Tim Satgas PPKS Unand, Dr dr Rika Susanti SpFM (K). (Foto : Fajril)

Penulis: Fajril

Padang, Arunala.com - Universitas Andalas dihebohkan dengan kasus dugaan pelecahan seksual yang dilakukan oknum dosen terhadap mahasiswi.

Hingga saat ini, kasus yang ditangani Satgas Penanganan dan Pencegahan Kekerasan Seksual (PPKS) Universitas Andalas tersebut dalam tahap finalisasi.

"Minggu depan, kami tim PPKS Unand akan memberikan hasil rekomendasi terkait kasus dugaan pelecahan seksual itu kepada rektor Unand. Kemudian, Rektor Unand akan menindak lanjuti hasil rekomendasi tersebut," kata Ketua Tim Satgas PPKS Unand, Dr dr Rika Susanti SpFM (K) kepada wartawan di Ruang Rapat Senat Unand, hari ini (23/12).

Baca Juga

Ia mengatakan tim satgas telah bekerja sejak 4 Oktober lalu untuk mendalami kasus tersebut. Pihaknya bekerja mengacu pada Persesjen Kemendikbudristek No 17 Tahun 2022 tentang Pedoman Pelaksanaan Permendikbud No 30 Tahun 2021 tentang PPKS di Perguruan Tinggi.

"Bahwa kehati-hatian dan kerahasiaan sangat kami jaga. Dan keberpihakan pada korban pun kami jaga juga," ungkap Rika.

Tim satgas, sebut Rika, juga telah berkoordinasi dengan Inspektorat Jenderal (Itjen) Kemendikbud.

"Jadi kami tidak bekerja sendiri dalam penanganan kasus tersebut," ujar Rika.

Ia menyebutkan pihaknya sudah memintai keterangan 8 mahasiswi menjadi korban dan terlapor berinisial K.

"Tidak hanya mintai keterangan saja, kami juga melakukan tes pemeriksaan psikologis terhadap korban dan terlapor," sebut Rika.

Bahkan, tutur Rika, pihaknya telah mengumpulkan sejumlah barang bukti.

"Di antaranya, rekaman percakapan telepon, rekaman percakapan biasa, chat dan alat bukti lainnya," paparnya.

Dalam penanganan kasus itu, sebut Rika, tim harus keluar kota untuk menemui para korban.

Pasalnya, para korban ini berdomisili di luar kota. Dimulai mengunjungi korban hingga menilai psikologis.

"Sebenarnya kami menginginkan korban dibawa dan didampingi di sini (Unand, red) ternyata korban keberatan," tuturnya.

Rika menyebutkan dari hasil dimintai keterangan dan tes pemeriksaan psikologis, hanya satu korban digolongkan kategori berat. Sementara tujuh korban lagi dikategorikan tidak terlalu berat.

"Sementara terlapor K, sejak awal pemeriksaan sampai saat ini sudah dinonaktifkan sebagai dosen," ungkap Rika.

Rika mengatakan tindakan lain juga telah dilakukan tim, menawarkan kepada korban untuk membuat laporan ke kepolisian.

"Kalau mau lapor polisi, yok kita dampingi. Apalagi keputusan itu ada korban. Bukan universitas yang membuat laporan ke kepolisian," ucapnya.

Bagi tim satgas, tutur Rika, paling utama itu keselamatan dan keberlangsungan proses pendidikan korban di Unand.

"Melalui wakil rektor I sudah disampaikan keinginan mereka untuk kembali kuliah jika kasus ini telah selesai," ungkap Rika.

Rika juga mengatakan dasar menjatuhkan hukuman ini sangat hati-hati. Tidak bisa berdasarkan hal-hal yang tidak memberatkan korban. Sanksi tegas bagi pelaku kekerasan seksual harus dilakukan secara adil dan proporsional.

"Yang dihitung bukan berdasar peluang pelaku untuk memperbaiki diri. Melainkan berdasar penderitaan atau kerugian yang dialami korban dan perguruan tinggi. Hal itulah yang dipertimbangkan dalam menjatuhkan sanksi," tegas Rika.

Sementara Dekan Fakultas Ilmu Budaya Prof Dr Herwandi MHum mengatakan terduga merupakan salah satu dosen di Fakultas Ilmu Budaya tepatnya di Departemen Sastra Minangkabau.

"Terduga berinisial K usia 50-an," ujar Herwandi. Ia mengatakan terduga saat ini telah dinonaktifkan menjadi dosen di Unand.

"Akan tetapi terduga saat ini masih aktif sebagai aparatur sipil negara," sebutnya.

Wakil Rektor I Prof Dr Mansyurdin, mengatakan Unand berkomitmen secara tegas untuk menindaklanjuti kasus pelecahan seksual ini.

"Rektorat akan memberikan sanksi yang tegas tanpa memandang bulu, entah itu dosen ataupun mahasiswa. Perlindungan terhadap korban pun akan tetap terjaga kerahasiaannya," tegasnya.

Komentar