Oknum Wali Nagari dan Lima Tersangka Lainnya Ditangkap

Metro-670 hit 16-07-2020 15:50
Polda Sumbar saat lakukan ekspose pelaku penambangan liar yang ditangkap jajaran Unit IV Tipidter Ditkrimsus Polda Sumbar, di Mapolda Kamis (16/7). (Dok : Istimewa)
Polda Sumbar saat lakukan ekspose pelaku penambangan liar yang ditangkap jajaran Unit IV Tipidter Ditkrimsus Polda Sumbar, di Mapolda Kamis (16/7). (Dok : Istimewa)

Penulis: Darizon Y | Editor: MN. Putra

Padang, Arunala - Seorang oknum wali nagari di Kabupaten Dharmasraya, berinisial "SH" bersama enam tersangka lainnya, ditangkap Polda Sumbar, Kamis (2/7) lalu sekira pukul 14.00.

Kabid Humas Polda Sumbar Kombes Pol Stefanus Satake Bayu Setianto menyampaikan hal itu kepada media saat gelar konfrensi pres tindak pidana ilegal mining dan Migas di Mapolda Sumbar, Kamis (16/7).

"Para tersangka ditangkap karena diduga terlibat tambang pasir dan batu serta emas ilegal aliran sungai jorong Koto Beringin Nagari Koto Beringin Kecamatan Tiuman," kata Bayu.

Baca Juga

Para tersangka yang ditangkap terlibat aksi penambang ilegal itu yakni "SH" (34), "TA" (33), "MH" (40), "MS" (43), "RW" (25), "HHP" (34) dan "MT" (40).

Bayu menyebutkan, aktivitas penambang liar ini diduga sudah lama dilakukan para tersangka di aliran Sungai Batang Hari Kenagarian Koto Beringin Kecamatan Tiuman Kabupaten Dharmasraya.

Bayu menyampaikan, tertangkapnya para tersangka atas informasi masyarakat tentang adanya kegiatan pertambangan tanpa izin usaha pertambangan (IUP) berupa penambangan batu, pasir serta emas dengan menggunakan alat berat berupa excavator serta mesin dompeng di aliran sungai Batang Hari.

"Unit IV Tipidter Ditkrimsus Polda Sumbar mendatangi lokasi, setiba di lokasi saat itu (Kamis, 2/7) yang ada di Jorong Koto Beringin Nagari Koto Beringin Kecamatan Tiumang.

"Di tempat itu petugas melihat ada aktivitas penambangan batu dan pasir gunakan alat berat berupa excavator merk Hitachi 210 MF sedang dioperasikan tersangka "TA", petugas lalu menangkap tersangka "TA" dan menyita alat berat digunakan menggali serta angkat pasir dan batu," kata dia.

Selang beberapa saat setelah menangkap "TA" dan menahan sebuah

excavator, lanjut Bayu, petugas kemudian juga mendengar ada suara mesin dompeng tidak jauh dari TKP.

"Mendengar itu petugas langsung menuju sumber suara. Setiba dilokasi petugas melihat ada aktivitas penambangan emas ilegal dengan menggunakan mesin dompeng," sambung Bayu.

Di lokasi tersebut, tukasnya, petugas kemudian menangkap lima tersangka yakni "HPP", "MT", "MS", "MF", dan "RW" serta menyita satu unit dompeng dan sejumlah barang bukti lainya di lokasi penambangan emas ilegal tersebut.

Dia menambahkan, dari keterangan lima orang tersangka yang ditangkap itu, diketahui penanggungjawab aksi penambangan ilegal di dua tempat terpisah itu mengarah pada tersangka "SH" yang merupakan wali nagari dan bertindak selaku pemilik lahan

"Selanjutnya petugas membawa semua tersangka serta menyita barang bukti aktivitas penambangan liar ke Mapolda Sumbar," ucap Bayu.

Pihak Polda Sumbar, jelas dia, hingga kini masih melakukan penyelidikan dan pengembangan kasus penambangan liar tersebut.

"Para tersangka dijerat Pasal 158 UU Nomor 3 Tahun 2020 Tentang Perubahan atas UU nomor 4 Tahun 2008 Tentang Mineral dan Batu Bara dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara dan denda sebesar satu miliar rupiah," jelas Bayu.

Komentar