Kampuang Sarugo Butuh Publikasi Secara Masif

Wisata-214 hit 25-09-2020 11:56
Nagari Koto Tinggi yang terletak di Kabupateh Limapuluh Kota, memang masih asing di telinga masyarakat, terlebih bagi penggemar traveler yang sering menjajaki tempat-tempat wisata. (Dok : Istimewa)
Nagari Koto Tinggi yang terletak di Kabupateh Limapuluh Kota, memang masih asing di telinga masyarakat, terlebih bagi penggemar traveler yang sering menjajaki tempat-tempat wisata. (Dok : Istimewa)

Penulis: Amazwar Ismail | Editor: MN. Putra

Limapuluh Kota, Arunala - Nagari Koto Tinggi yang terletak di Kabupateh Limapuluh Kota, memang masih asing di telinga masyarakat, terlebih bagi penggemar traveler yang sering menjajaki tempat-tempat wisata.

Dimaklumi memang, nagari ini tidaklah se-favorid kawasan Mandeh di Pesisir Selatan yang identik dengan keindahan pantainya, ataupun se tenar Nagari Pariangan di Tanah Datar.

Namun, nagari yang terletak di jajaran Bukit Barisan ini dijamin mampu membius pelancong yang berkunjung ke tempat itu.

Baca Juga

Gambaran keelokan dan eksotiknya nagari ini di dokumentasikan Tim MMC Diskominfo Sumbar yang menjelajahi nagari itu, Rabu (23/9) kemarin.

Ada yang menarik di nagari ini, dimana pemerintah Nagari Koto Tinggi menyulap komplek rumah adat di kawasan Sei Dadok menjadi daerah kunjungan wisata budaya.

Kawasan ini dinamai Kampuang Sarugo. Mungkin banyak orang kenapa seperti itu nama tempat itu. Arti kata "Sarugo" di sini

merupakan akronim Saribu Gonjong, yang dalam Bahasa Indonesia berarti seribu bubungan rumah berbentuk tanduk yang merupakan ciri khas Rumah Gadang.

Di Kampuang Sarugo menawarkan nuansa eksotik khas alam pedesaan. Terletak di dataran tinggi, dan dibawahnya terlihat hamparan sawah serta dua sungai yang kemudian bertemu membentuk Batang Sinamar.

Tiap sore, sungai ini ramai dikunjungi anak-anak untuk berenang. Sambutan ramah penduduk lokal terasa saat memasuki kawasan tersebut.

Spanduk imbauan protokol kesehatan pun banyak terpajang pada setiap sudut Kampuang Sarugo.

Staf Kantor Wali Nagari Koto Tinggi, Yazid menyebutkan kepada Tim MMC Diskominfo Sumbar, Kampuang Sarugo dilaunching akhir Agustus 2019.

Semuanya ada 29 unit Rumah Gadang dengan ukuran sekitar 5 x 16 meter. Gonjong tiap rumah ada 5, mencerminkan Rukun Islam.

"Ketika akhir minggu, libur panjang atau panen raya jeruk, Kampuang Sarugo ramai dikunjungi wisatawan. Dari yang sekadar menikmati agrowisata Jeruk, bermain di sungai sampai bermalam," kata Yazid.

Meski belum semua Rumah Gadang dijadikan homestay, tutur dia, namun minat wisatawan tetap tinggi untuk menginap.

"Alhamdulillah, pemda setempat sangat membantu masyarakat di sini dalam mengelola kawasan ini. Berbagai pelatihan digelar Pemkab Limapuluh Kota untuk meningkatkan SDM masyarakat setempat," tutur Yazid.

Layaknya daerah pedesaan, kekurangan utama di Koto Tinggi adalah jaringan komunikasi. Dari pantauan, internet yang bisa diakses hanya lewat perangkat wifi yang dimiliki beberapa orang saja.

Tentu saja masalah tersebut menyebabkan sulitnya masyarakat Koto Tinggi mempromosikan potensi daerah keluar.

Padahal, Kampuang Sarugo sendiri masuk dalam Anugerah Pesona Indonesia (API) 2020 kategori Kampung Adat. Untung saja, Pemkab Limapuluh Kota melalui Dinas Komunikasi dan Informatika telah memfasilitasi pembuatan website dan media sosial Kampuang Sarugo guna lebih mengenalkan ke seluruh Indonesia.

"Kami juga mohon kepada Kominfo Sumbar turut mempublikasikan Kampuang Sarugo agar dapat API 2020. Jika dapat penghargaan, otomatis marwah Kampuang Sarugo terangkat dan lebih dikenal orang," pinta Yazid. (rel

Komentar