Masyarakat Terancam Kehilangan Layanan Kesehatan

Metro-84 hit 03-10-2020 22:48
Kematian Dokter Makin Meningkat Masyarakat Terancam Kehilangan Layanan Kesehatan
Kematian Dokter Makin Meningkat Masyarakat Terancam Kehilangan Layanan Kesehatan

Penulis: Amazwar Ismail | Editor: MN. Putra

Jakarta, Arunala - Tim Mitigasi PB IDI bersama Perhimpunan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) dan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) menyebutkan per hari ini, (Sabtu 3/10) terdapat 130 dokter, 9 dokter gigi (6 dokter gigi umum, 3 dokter gigi spesialis) dan 92 perawat telah meninggal dunia akibat Covid-19.

Dari 130 dokter yang wafat, terdiri dari 67 Dokter Umum dengan 4 diantaranya merupakan guru besar, 61 dokter spesialis dengan 4 diantaranya adalah guru besar, serta 2 orang residen. Seluruh dokter tersebut berasal dari 18 IDI wilayah (provinsi) dan 61 IDI Cabang (kota dan kabupaten).

Angka kematian yang cepat ini membuktikan bahwa masyarakat tidak hanya abai terhadap pelaksanaan protokol kesehatan namun juga tidak peduli pada keselamatan tenaga kesehatan.

"Kehilangan para tenaga kesehatan merupakan kerugian besar bagi sebuah bangsa terutama dalam mempertahankan dan pengembangan aspek kesehatan," ungkap Wakil Ketua Tim Mitigasi PB IDI, dr Ari Kusuma, SpOG(K) melalui rilisnya yang diterima media, Sabtu malam (3/10).

Dia menyebut, jumlah tenaga kesehatan terutama dokter di Indonesia sebelum pandemi Covid sudah merupakan salah satu yang terendah di Asia dan dunia.

Dengan jumlah dokter yang ada, rata-rata 1 (satu) orang dokter diestimasikan melayani 3,000 (tiga ribu) masyarakat.

"Dengan banyaknya korban dari pihak tenaga kesehatan saat ini, maka kedepannya layanan kesehatan pada pasien baik covid maupun non covid akan terganggu karena kurangnya tenaga medis," sebut dr Ari Kusuma.

Tim Mitigasi PB IDI berharap masyarakat tidak menganggap remeh pandemi Covid ini. Semakin masyarakat abai terhadap protokol kesehatan, maka Indonesia akan sulit melewati masa pandemi ini, dan bukan hanya kerugian secara ekonomi namun juga korban jiwa baik tenaga kesehatan, keluarga, maupun diri sendiri.

Sedangkan Ketua Tim Protokol dari Tim Mitigasi IDI, DR dr Eka Ginanjar, SpPD-KKV mengingatkan, penggunaan masker yang baik dan benar sangat penting dalam upaya memutus rantai penularan Covid-19 termasuk menjaga diri sendiri dan orang lain yang disayangi dari tertular Covid-19.

"Maka langkah 3M harus dilaksanakan," katannya.

Eka menerangkan Langkah 3M tersebut yaitu: Masker, selalu memakai masker dengan baik dan benar menjadi barrier jalur masuk dan keluar dari proses penularan Covid-19 yang menular melalui droplet atau bahkan aerosol pada kondisi ruangan dengan sirkulasi yang tidak baik.

Hal ketua yakni Menjaga jarak > 1 meter, menghindari kerumunan apalagi beraktifitas bersama dalam waktu lama dengan sirkulasi udara tertutup, termasuk makan bersama.

Ketiga adalah Mencuci tangan selalu dengan air mengalir dan sabun dengan benar selama 40 hingga 60 detik atau bila tidak, ada dapat menggunakan Handsanitizer berbasis alkohol.

"Pelaksanaan 3M ini harus dilaksanakan secara masif oleh semua orang tanpa kecuali. Dengan demikian penyebaran Covid-19 ini dapat dikendalikan dengan baik sehingga dapat menekan jumlah korban dan kerugian yang lebih besar dari berbagai sektor," sebut Eka.

"Disiplinkan diri untuk menggunakan masker dan melaksanakan 3M dalam kehidupan sehari-hari seraya mengingatkan keluarga, teman, ataupun rekan kerja dan orang terdekat lainnya untuk menerapkan hal yang sama," tegas Eka.

Komentar