Sekarang semuanya terasa serba cepat. Mau makan tinggal pesan lewat aplikasi, mau belanja tinggal klik, mau hiburan tinggal buka media sosial. Bahkan kalau lagi bosan pun, orang tinggal scroll video pendek berjam-jam tanpa sadar waktu jalan terus.
Di satu sisi memang memudahkan, tapi kadang saya merasa kebiasaan hidup instan ini pelan-pelan juga mengubah cara berpikir anak muda sekarang.
Saya sendiri juga ngerasa jadi bagian dari itu. Kadang baru beberapa menit nunggu sesuatu aja sudah mulai nggak sabar.
Padahal dulu orang bisa antre lama atau menjalani proses pelan-pelan tanpa terlalu banyak mengeluh. Sekarang semuanya maunya cepat.
Kalau internet lambat sedikit langsung kesal, pesan makanan lama datang langsung komplain, bahkan nunggu balasan chat aja kadang bikin orang nggak tenang.
Kalau dipikir-pikir, kebiasaan seperti ini lama-lama bikin orang terbiasa ingin hasil tanpa proses panjang. Banyak yang pengen cepat sukses, cepat terkenal, cepat punya uang, tapi nggak semua siap menjalani proses yang lama dan capek.
Media sosial juga ikut bikin pola pikir itu makin kuat. Orang sering lihat kehidupan orang lain yang kelihatannya langsung berhasil, padahal kita nggak tahu proses panjang di belakangnya.
Kadang saya lihat banyak anak muda sekarang gampang merasa tertinggal cuma karena lihat orang lain di internet. Ada yang umur 20-an sudah punya bisnis, ada yang viral, ada yang kelihatan hidupnya sempurna.
Akhirnya banyak yang jadi buru-buru dan merasa hidup harus cepat berhasil juga.
Padahal hidup sebenarnya nggak selalu jalan cepat. Ada banyak hal yang memang butuh waktu. Belajar, membangun hubungan, mencari pengalaman, bahkan memahami diri sendiri juga nggak bisa instan.
Tapi karena terlalu terbiasa dengan hal cepat, banyak orang jadi susah menikmati proses.
Saya pernah ngerasa sendiri waktu lagi belajar sesuatu. Baru beberapa hari dicoba, kalau hasilnya belum kelihatan langsung muncul rasa malas. Rasanya pengen pindah ke hal lain yang lebih cepat bikin puas.
Dan ternyata banyak teman saya juga ngerasa begitu. Fokus jadi gampang hilang karena otak sudah terbiasa cari sesuatu yang cepat dan langsung menyenangkan.
Media sosial menurut saya punya pengaruh besar dalam hal ini. Video pendek, konten cepat, semuanya dibuat supaya orang terus scroll tanpa berhenti.
Akibatnya, banyak orang jadi susah fokus lama. Baru baca beberapa paragraf aja sudah bosan. Baru nonton video yang agak panjang sedikit langsung skip.
Saya kadang sadar sendiri, dulu saya lebih tahan baca buku atau duduk lama ngobrol sama orang.
Sekarang, kadang lima menit tanpa pegang HP aja rasanya aneh. Dari situ saya mulai sadar kalau kebiasaan kecil ternyata bisa mengubah cara berpikir pelan-pelan.
Selain soal fokus, kebiasaan instan juga bikin orang gampang menyerah. Karena terbiasa semua serba cepat, begitu ketemu sesuatu yang sulit sedikit langsung capek duluan.
Padahal dulu banyak orang bisa bertahan dalam proses panjang karena memang terbiasa hidup tanpa semuanya serba mudah.
Menurut saya, teknologi sebenarnya bukan masalah utama. Yang jadi masalah mungkin cara kita memakainya. Karena teknologi memang dibuat untuk membantu hidup manusia.
Tapi kalau semua hal selalu dicari yang paling cepat dan paling mudah, lama-lama orang bisa lupa cara menghargai proses.
Saya juga sering lihat sekarang banyak orang lebih suka hasil yang kelihatan cepat daripada sesuatu yang benar-benar bertahan lama.
Misalnya belajar cuma buat cepat dapat nilai, kerja cuma mikirin cepat kaya, atau bikin konten cuma supaya viral sesaat. Padahal nggak semua hal harus langsung menghasilkan sesuatu.
Kadang ada juga orang yang sebenarnya punya kemampuan bagus, tapi berhenti di tengah jalan karena merasa prosesnya terlalu lama.
Ini yang menurut saya cukup disayangkan. Karena banyak hal besar justru lahir dari proses yang panjang dan nggak instan.
Saya juga pernah ngalamin sendiri waktu mencoba belajar hal baru. Awalnya semangat banget, tapi pas mulai susah sedikit langsung muncul rasa pengen berhenti. Rasanya maunya cepat bisa tanpa mau sabar belajar pelan-pelan.
Dari situ saya sadar ternyata kebiasaan hidup instan memang diam-diam memengaruhi cara kita menghadapi sesuatu.
Di sisi lain, saya juga nggak bisa sepenuhnya nyalahin generasi sekarang. Lingkungan memang berubah.
Dunia sekarang bergerak cepat, jadi orang juga ikut terbawa cepat. Persaingan makin banyak, tuntutan makin besar, dan semua orang seperti berlomba-lomba menunjukkan hidup terbaiknya.
Makanya nggak heran kalau banyak anak muda sekarang gampang cemas dan overthinking soal masa depan.
Karena setiap hari yang dilihat adalah pencapaian orang lain. Lama-lama orang jadi lupa menikmati hidupnya sendiri.
Menurut saya, mungkin yang perlu dipelajari lagi sekarang adalah bagaimana tetap hidup di zaman modern tanpa kehilangan kesabaran dalam menjalani proses.
Nggak semua hal harus langsung berhasil hari ini juga. Kadang sesuatu memang perlu waktu buat berkembang.
Saya sendiri sekarang mulai mencoba pelan-pelan mengurangi kebiasaan yang terlalu instan. Misalnya lebih membatasi waktu main media sosial, mencoba fokus waktu belajar, atau menikmati hal-hal kecil tanpa buru-buru.
Memang nggak langsung berubah, tapi setidaknya jadi lebih sadar sama kebiasaan sendiri.
Pada akhirnya, hidup instan memang bikin banyak hal terasa mudah. Tapi kalau tidak disadari, kebiasaan itu juga bisa mengubah cara berpikir kita. Orang jadi gampang bosan, gampang menyerah, dan susah menikmati proses.
Padahal hidup bukan cuma soal cepat sampai tujuan, tapi juga soal bagaimana kita bertahan dan belajar selama perjalanan itu berlangsung. (*)
(Disclaimer: isi dalam tulisan diluar tanggung jawab penerbit)


Komentar