Padang, Arunala.com - Wakil Ketua Himpunan Tjinta Teman (HTT) Padang, Albert Hendra Lukman, menyampaikan, komunitas etnis Tionghoa di Sumatera Barat (Sumbar) tidak akan melaksanakan Festival Cap Go Meh pada perayaan Imlek tahun ini.
Keputusan tersebut diambil sebagai bentuk penghormatan kepada umat Muslim yang akan menjalankan ibadah puasa Ramadan.
Albert menjelaskan, perayaan Imlek tahun ini jatuh pada 17 Februari, sementara awal bulan suci Ramadan diperkirakan mulai pada 18 Februari.
Dengan berdekatan dan beririsan langsungnya kedua momentum keagamaan tersebut, komunitas etnis Tionghoa memilih untuk tidak menggelar kegiatan festival Cap Go Meh yang biasanya menjadi rangkaian perayaan Imlek.
"Seperti biasanya, setiap Imlek ada rangkaian Cap Go Meh. Namun karena tahun ini Cap Go Meh jatuh di bulan puasa, maka kami dari komunitas etnis Tionghoa tidak melaksanakan festival tersebut. Ini sebagai bentuk penghormatan kepada saudara-saudara Muslim yang sedang menjalankan ibadah Ramadan," ujar Albert kepada Arunala.com di Padang, Rabu (28/1/2026).
Lebih lanjut, Albert menegaskan, sikap saling menghormati antarumat beragama telah menjadi komitmen kuat komunitas Tionghoa di Sumbar.
Menurutnya, kebersamaan dan toleransi merupakan nilai utama yang terus dijaga dalam kehidupan bermasyarakat.
Terkait momentum Imlek itu sendiri, Albert menyampaikan bahwa perayaan tetap dimaknai sebagai ajang mempererat kebersamaan dan kepedulian sosial.
Komunitas Tionghoa, lanjutnya, juga berupaya mengambil peran dalam membantu masyarakat, khususnya melalui kegiatan sosial dan solidaritas antarkomunitas.
"Momentum Imlek ini kami harapkan menjadi sarana untuk memperkuat kebersamaan, saling membantu, dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Prinsipnya, kita ingin terus hidup berdampingan secara harmonis dengan seluruh elemen masyarakat," katanya.
Ia berharap semangat toleransi dan saling menghargai yang telah terbangun selama ini dapat terus dipelihara, sehingga Sumbar tetap menjadi daerah yang rukun, damai, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan lintas budaya dan agama. (dpg)


Komentar