Di Balik Hari Pers: Pelajaran Retorika bagi Generasi yang Hidup di Era Algoritma

76 hit
Di Balik Hari Pers: Pelajaran Retorika bagi Generasi yang Hidup di Era Algoritma

Dr. Lusi Komala Sari, M.Pd.

Dosen Retorika UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Setiap peringatannya sungguh bukan hanya peristiwa seremonial bagi insan media, melainkan momen reflektif bagi kehidupan bahasa publik kita.

Di tengah dunia yang dipenuhi notifikasi, linimasa yang bergerak cepat, serta arus informasi yang disaring oleh algoritma, kita cenderung memandang surat kabar sebagai peninggalan masa lalu.

Sebuah media yang kalah cepat dari gawai di genggaman. Namun justru dalam situasi inilah, surat kabar menemukan kembali relevansinya yang paling mendasar; sebagai ruang retorika publik, tempat bahasa bekerja bukan sekadar untuk memberi tahu, tetapi untuk menalar, meyakinkan, dan membentuk kesadaran bersama.

Sejak kelahirannya, surat kabar tidak pernah benar-benar netral dalam arti hampa makna. Ia selalu menjadi arena tempat realitas dituturkan melalui pilihan kata, sudut pandang, struktur informasi, dan penekanan tertentu.

Setiap berita adalah hasil seleksi; setiap tajuk rencana adalah sikap; setiap kolom opini adalah tawaran cara melihat dunia. Di sinilah retorika hidup.

Retorika bukan sekadar seni berpidato seperti yang sering dibayangkan, melainkan seni mengelola bahasa dalam ruang publik agar gagasan dapat dipahami, dipertimbangkan, bahkan diperdebatkan secara rasional.

Surat kabar, dengan demikian adalah panggung retorika sosial yang berlangsung setiap hari, sering kali tanpa kita sadari.

Dalam teks-teks pers, kita dapat melihat bagaimana kredibilitas dibangun melalui konsistensi redaksi, reputasi media, dan praktik verifikasi.

Di saat yang sama, argumentasi disusun lewat data, rujukan, dan analisis yang berusaha menautkan peristiwa dengan konteks yang lebih luas.

Tidak jarang pula dimensi emosional dihadirkan melalui kisah manusia, diksi yang menyentuh, atau nada keprihatinan terhadap persoalan sosial.

Kerja bahasa semacam ini memperlihatkan bahwa persuasi publik yang sehat bukanlah hasil manipulasi, melainkan perpaduan antara kepercayaan, penalaran, dan kepekaan kemanusiaan.

Surat kabar, dalam bentuk terbaiknya, mengajarkan bahwa memengaruhi orang lain menuntut tanggung jawab etis. Namun lanskap media telah berubah. Algoritma media digital kini menentukan apa yang muncul di layar kita. Popularitas, kecepatan, dan daya kejut sering lebih menentukan daripada kedalaman analisis.

Retorika tidak menghilang di ruang digital; ia justru berlipat ganda, tetapi kerap dalam bentuk yang lebih singkat, terpotong, dan emosional.

Judul provokatif, potongan video tanpa konteks, atau narasi viral yang menyederhanakan persoalan kompleks menjadi hitam-putih adalah wujud retorika zaman algoritma.

Persoalannya bukan pada keberadaan retorika itu sendiri, melainkan pada kualitasnya. Ketika argumentasi digantikan oleh sensasi, dan dialog digantikan oleh gema pendapat sejenis, ruang publik kehilangan salah satu fondasi demokratisnya sebagai ruang perdebatan rasional.

Dalam situasi ini, surat kabar termasuk yang telah bertransformasi ke platform digital tetapi tetap memegang etika jurnalistik menjadi semacam jangkar intelektual.

Ia mengingatkan bahwa informasi perlu diverifikasi, bahwa isu perlu dipahami dari berbagai sudut, dan bahwa bahasa publik tidak boleh dilepaskan dari tanggung jawab sosial.

Struktur berita yang runtut, laporan mendalam, serta tajuk rencana yang argumentatif memperlihatkan model retorika yang tidak terburu-buru. Di sana, persuasi dibangun melalui penjelasan, bukan sekadar pemancing emosi. Dengan kata lain, pers menawarkan alternatif terhadap retorika instan yang mendominasi linimasa.

Kebiasaan membaca surat kabar pada dasarnya adalah latihan berpikir. Pembaca belajar mengikuti alur argumentasi, mengenali perbedaan antara fakta dan opini, serta memahami bahwa satu peristiwa dapat ditafsirkan dari berbagai perspektif.

Tajuk rencana menunjukkan bagaimana suatu masalah diurai secara sistematis sebelum sampai pada sikap tertentu. Kolom opini memperlihatkan bagaimana penulis mempertahankan gagasan melalui alasan dan bukti.

Bahkan laporan investigatif mengajarkan bahwa kebenaran sering kali tersembunyi di balik detail yang perlu ditelusuri dengan sabar. Semua ini adalah praktik berpikir kritis yang berlangsung di ruang publik.

Di tengah budaya digital yang serba cepat dan ringkas, keterampilan semacam ini semakin penting. Generasi yang terbiasa dengan potongan informasi singkat memerlukan latihan membaca teks yang utuh agar mampu melihat persoalan secara komprehensif.

Surat kabar, dalam pengertian ini, berfungsi sebagai sekolah berpikir kritis yang terbuka bagi siapa saja. Ia melatih kesabaran intelektual dalam bentuk kesediaan untuk membaca, mempertimbangkan, dan menunda penilaian sebelum mengambil kesimpulan.

Demokrasi yang sehat memerlukan warga yang tidak hanya cepat bereaksi, tetapi juga mampu merenung. Peran pers juga tidak dapat dilepaskan dari sejarah pembentukan identitas bangsa.

Di banyak negara, surat kabar menjadi medium penting dalam menyebarkan gagasan kebangsaan, menyatukan beragam suara lokal, dan membangun kesadaran kolektif tentang "kita".

Melalui narasi tentang perjuangan, keadilan, kemajuan, atau krisis, pers turut membentuk imajinasi sosial tentang siapa yang termasuk dalam komunitas bangsa dan nilai apa yang layak diperjuangkan.

Pilihan kata seperti "rakyat", "kepentingan umum", atau "masa depan bangsa" bukanlah istilah netral; ia membawa muatan retoris yang menautkan peristiwa sehari-hari dengan horizon kebangsaan yang lebih luas.

Di era globalisasi digital, identitas kebangsaan menghadapi tantangan baru. Arus informasi lintas batas, budaya populer global, serta polarisasi wacana dapat melemahkan kohesi sosial.

Dalam konteks ini, pers memiliki peran strategis sebagai penjaga bahasa publik yang berimbang dan reflektif. Ia membantu memastikan bahwa diskursus kebangsaan tidak semata dibentuk oleh slogan atau ujaran emosional, melainkan melalui dialog rasional yang memberi ruang bagi perbedaan.

Pers, dengan demikian, bukan hanya pencatat sejarah, tetapi juga salah satu aktor yang ikut membentuk arah sejarah melalui narasi yang dibangunnya.

Bagi generasi digital, pelajaran dari Hari Pers tidak berhenti pada apresiasi terhadap profesi jurnalistik. Pelajaran yang lebih mendasar adalah kesadaran bahwa bahasa memiliki kekuatan membentuk realitas sosial. Cara suatu isu diberitakan dapat memengaruhi persepsi, sikap, bahkan tindakan masyarakat.

Literasi media karena itu tidak cukup hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan membaca retorika; memahami bagaimana argumen disusun, bagaimana emosi dimobilisasi, dan bagaimana kredibilitas dikonstruksi.

Surat kabar menyediakan contoh konkret tentang bagaimana wacana publik seharusnya dikelola secara etis. Ia menunjukkan bahwa berbicara di ruang publik bukanlah tindakan sewenang-wenang, melainkan praktik yang menuntut tanggung jawab terhadap kebenaran, terhadap dampak sosial, dan terhadap martabat manusia.

Dalam dunia yang sering terjebak pada kecepatan dan kebisingan, pelajaran ini terasa semakin mendesak. Masa depan demokrasi tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi komunikasi, tetapi oleh kualitas bahasa yang kita gunakan untuk berdebat, berbeda pendapat, dan mencari titik temu.

Maka, ketika kita memperingati Hari Pers, sesungguhnya kita sedang diingatkan untuk merawat kualitas retorika publik kita.

Surat kabar mengajarkan bahwa persuasi dapat berjalan seiring dengan etika, bahwa perbedaan pandangan dapat dikelola melalui argumentasi, dan bahwa bahasa dapat menjadi jembatan, bukan sekadar senjata.

Di situlah relevansi pers bagi generasi digital bukan sebagai nostalgia media cetak, melainkan sebagai sumber pelajaran tentang bagaimana berbicara dan berpikir secara beradab di ruang publik yang semakin kompleks. (*)

(Disclaimer: isi tulisan diluar tanggung jawab penerbit)

Komentar