Model Ekonomi Balapih dan Covid 19

340 hit
Model Ekonomi Balapih dan Covid 19

Asyari

Wakil Rektor I IAIN Bukittinggi

Meski menimbulkan berbagai dampak, Covid-19 saat ini adalah "pendamping" di tengah kita melakoni rutinitas. Kurang "menyenangkan" namun kita belum kuasa mengenyahkannya. Dampak Covid-19 semakin dirasakan di ranah kesehatan, sosial, dan ekonomi. Dalam ekonomi, kian nyata dan dalam dampaknya. Ekonomi dalam kontraktif. Momen persiapan keberangkatan calon jamaah haji tahun 2020 yang sudah dibatalkan dan Tahun Ajaran Baru Pendidikan di bulan Juli ini, mulai PAUD sampai PT melengkapi kondisi ekonomi kian melemah. Efek konsumsi dari aggregat demand dua momen tersebut sebagai daya ungkit ekonomi nan kian melemah hanya tinggal harapan. Pola tatap maya dan daring yang berlangsung sampai Desember 2020 akan berimplikasi pada pengurangan aktivitas luar rumah.

Physical distancing dan social distancing tetap berlaku sebagai bentuk mitigasi meluasnya Covid-19. Pembatasan aktivitas dan mobilitas secara ekonomi menimbulkan trade off. Aktivitas ekonomi di sektor perdagangan dan transportasi, dan pariwisata serta berbagai sektor turunanya terimbas. Secara mikro, rumah tangga menjadi sektor yang terkena imbas berat dalam kesulitan ekonomi. Tak dapat diketahui kapan Covid-19 "bercerai" dengan kehidupan kita. Sementara kehidupan harus tetap berjalan. Asap dapur harus tetap mengepul. Hidup harus survive. Ketahanan ekonomi dalam menghadapi hantaman dampak Covid-19 sangat diperlukan. Energi mesti dicurahkan kepada pertahanan ekonomi bukan pada memikirikan kapan Covid-19 berakhir.

Mobilitas masyarakat yang terbatas dan melambat berimplikasi pada melambatnya pergerakan barang dan jasa. Muaranya adalah pada transaksi barang dan jasa lainnya di masyarakat. Masyarakat yang berada di kluster pekerja non formal, kondisi ini sangat rentan bagi ketahanan dan keberlanjutan ekonomi mereka. Data BPS Februari 2019 menunjukkan, persentase masyarakat yang bekerja sebagai tenaga kerja sektor formal 42,73 persen. Sektor informal masih lebih mendominasi, yakni 57,27 persen. Di Sumatera Barat pada tahun 2019, pekerja sektor informal sebanyak 1.659.339 orang, naik dibanding tahun 2018 yang berjumlah 1.594.744 orang. Jenis pekerjaan di sektor informal meliputi angkutan: penarik becak, delman, dan gerobak, pedagang kaki lima, pedagang asongan, makanan, minuman, pakaian, barang bekas, alat tulis, dan keperluan rumah tangga, membuat makanan dan minuman, industri kayu, dan bahan bangunan. Lalu tukang teraso, kayu, besi, dan batu, tukang jahit, semir sepatu, reparasi arloji, dan radio.

Sementara International Labour Organization (ILO) menyebut pekerja informal sebagai pekerja rentan. Mereka tidak mendapatkan hak dasar layaknya pekerja formal seperti jaminan kecelakaan kerja, jaminan kesehatan, jam kerja serta tunjangan lainnya. Kerentanan tersebut juga semakin terlihat jelas dengan rendahnya produktivitas dan pendapatan yang jauh lebih rendah.

Di kluster masyarakat sebagai pekerja harian lepas harus tetap bekerja di luar rumah untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka. Hidup harus tetap dipertahankan, dapur harus berasap, perut harus diisi. Bagi mereka, tetap berada di dalam rumah atau membatasi mobilitas memunculkan survive risk bagi mereka. Pilihan tersedia hanya tetap bekerja di luar rumah demi "perut" anggota keluarga.

Sedangkan BPS merilis tiga jenis lapangan kerja terdampak; yang termasuk dalam sektor pariwisata yaitu perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor; transportasi dan pergudangan; serta sektor penyediaan akomodasi dan makan-minum. Sebanyak 70,39 persen responden yang bekerja di sektor perdagangan besar dan eceran, serta reparasi mobil dan sepeda motor mengaku mengalami penurunan pendapatan. Sebanyak 62,6 persen reponden yang bekerja di sektor transportasi dan pergudangan mengaku mengalami permasalahan serupa selama pandemi Covid-19. Dan 76,84 persen responden yang bekerja di sektor penyediaan akomodasi dan makan-minum paling terdampak atau paling banyak mengalami penurunan pendapatan (Badan Pusat Statistik Juli 2020).

Berbeda dengan pekerja formal (white collar employee) seperti staf kantor, manajer, direktur, analis, guru, dosen, dokter, dan sejenisnya yang memiliki income tetap meskipun terkena dampak namun relatif tidak berat dan dalam, dibanding mereka yang bekerja di sektor informal.

Memperkuat daya tahan ekonomi keluarga di saat kondisi ekonomi kontraktif dan di saat keterbatasan bantuan dari pihak luar, merupakan hal penting dilakukan. Penulis pernah melakukan penelitian literatur terkait model bertahan hidup oleh rumah tangga di saat kian berat dan sulitnya beban ekonomi rumah tangga. Di China yakni pada daerah pedesaan, dilakukan model migrasi ke daerah lain untuk bekerja. Sedangkan di bagian perkotaan, dilakukan dengan merubah struktur konsumsi dan pengurangan pengeluaran misalnya untuk pakaian, peralatan rumah, biaya kesehatan, komunikasi, hiburan, tempat tinggal dan jasa.

Beberapa negara di Afrika, ditemukan melakukan pengembangkan hubungan social dalam berbagai tujuan memperoleh pinjaman, menjual kayu bakar, pindah ke daerah lain dan bekerja walau dengan upah yang rendah. Bahkan ada sebagian mereka menempuh cara ekstrem pindah agama dan menjual darah langsung ke orang yang membutuhkan atau ke rumah sakit/bank darah. Selain itu, ada juga yang memeras pemilik/pengendara yang memarkir mobil di parkiran dan mengkonsumsi obat-obat terlarang untuk memunculkan penampilan yang menakutkan.

Semua model itu untuk tujuan agar hidup tetap survive di saat ekonomi sulit. Beberapa riset di Indonesia menemukan model bertahan hidup di tengah ekonomi kian susah dengan melanggar aturan atau norma yang ada ketika terdapat peluang keuntungan lebih besar dari biaya yang dikeluarkan pada saat patuh pada norma. Meminjam uang ke tetangga meskipun dengan bunga nan melilit. dan mengembangkan jaringan sosial, serta tak jarang pula menjadi pekerja seks komesil. (Asyari 2016).

Sumatera Barat mayoritas pemilik etnis Minangkabau memiliki model yang unik dengan Model Ekonomi Balapih (meminjam istilah Muhamad Taufik). Orang Minang memiliki kearifan dalam memprediksi adanya gangguan atau kondisi sulit dalam kehidupan mereka. Ungkapan adagium Minang menggambarkan hal tersebut, samusim bareh ka maha, harago sudah diketahui, dan bakulimek sabalum habih. Segala persiapan untuk menghadapi kondisi susah itu dilakukan. Bersiap dengan kondisi ekonomi sulit sudah dalam "paruik" orang Minang. Idealnya masyaraat MInang relatif lebih siap dan memiliki ketahanan ekonomi dalam menghadapi kondisi ekonomi yang kontraktif di masa Covid-19. Keunikan orang Minang terletak pada model ekonomi balapih dengan membentuk diversifikasi sumber income.

Variasi sumber income ini diungkap dalam adagium, batanam nan bapucuak dan mamaliharo nan banyawa serta di dulang ameh di sungai, ditambang ameh jo loyang dan ditaruko gurun jo bancah. Dalam hal memperoleh hasil dari diversifikasi sumber income ini digambarkan dengan pepatah padi manguniang, ayam batalua, jaguang maupiah dan taranak bakambang biak. Semua ini mengambarkan orang Minang memiliki sumber income yang bervariatif dan menjadi daya survive bagi ekonomi di saat ekonomi sulit. Jika satu sumber income terkoreksi karena kondisi ekonomi sulit maka hidup masih dapat dipertahankan. Asap dapur masih bisa menggepul dan perut masih bisa diisi. Dengan demikian sejatinya, orang Minang tidak mengenal income tunggal.

Dari parapan di atas, model ekonomi balapih menjadi model ketahanan ekonomi. Azyumardi Azra (2003) menjelaskan, surau di Minang selain media pendidikan juga pusat penguatan ekonomi. Surau menjadi lokus penanaman semangat wirausaha dan swasembada bagi masyarakat Minangkabau. Dikemukakan bahwa ekonomi surau digerakkan oleh murid yang mengolah sawah yang diberikan masyarakat yang peduli pada kegiatan surau. Selain itu, murid juga memproduktifkan ladang selain berdagang. Surau dekat dengan pasar. Model ini membuat pundi-pundi keuangan (ekonomi) surau semakin kuat.

Model ekonomi balapih merupakan local wisdom Minang yang harus selalu dilestarikan dan diadopsi bisa dalam bentuk lain, namun semangat yang sama walapun dalam ruang waktu yang sudah berbeda. Sekarang Covid-19 menjadi acaman dan menganggu ketahanan ekonomi dan khususnya ketahanan ekonomi keluarga. Ke depan kita tidak dapat memprediksi apa yang membuat ekonomi kontraktif.

Penting diperhatikan ungkapan Ekonom Charles P. Kindleberger, satu-satu peristiwa yang tak pernah usang dalam ilmu ekonomi adalah krisis. Krisis selalu terjadi dari waktu ke waktu. Untuk itu, pemerintah daerah dan stakeholder terkait seperti Pemerintahan Nagari, KAN, LKAAM serta lembaga pendidikan duduk bersama merumuskan konsep model ekonomi balapih dalam konteks kekinian. Semoga! (*)

Komentar