Positif Corona Bukanlah Aib

271 hit
Positif Corona Bukanlah Aib

Genius Umar

Wali Kota Pariaman

SEJAK diumumkan ada satu orang warga Kota Pariaman dinyatakan positif Covid-19 tanggal 15 April lalu, membuat kami semua tersentak.

Warga yang positif 01 di Kota Pariaman dengan inisial "Ca", adalah karyawan rumah sakit RSUD Pariaman yang merupakan milik Pemprov Sumatera Barat. Yang bersangkutan tertular dari pasien positif Corona sebut saja "B" yang berasal dari Kabupaten Padang Pariaman.

Sedangkan "B" ini tertular dari warga positif corona di Kota Bukittinggi "C" yang tertulas dari suaminya yang pulang dari Malaysia. Hal ini berarti proses penularan virus Corona di Sumatera Barat telah bersifat lintas kabupaten kota dan lintas Negara.

Menerima berita positif tersebut, kami secara cepat melakukan penelusuran perjalan saudara "Ca" atau dalam istilah tracking. Kesan pertama korban Covid-19 ini memang terkesan menutupi kemana dia telah berjalan atau berkunjung.

Setelah dilakukan pendekatan ternyata yang bersangkutan mengaku telah duduk di warung dekat rumahnya dan kami langsung melakukan tracking juga di warung tersebut, siapa saja yang duduk berdekatan dan warga yang telah kontak langsung dengan pasien positif tersebut agar langsung memberitahu petugas dan melakukan isolasi mandiri di rumah masing-masing.

Kesannya adalah sebagian masyarakat masih enggan secara terbuka bahwa mereka telah terindikasi atau kontak dengan pasien positif Corona mungkin merasa malu kalau disampaikan secara terbuka.

Padahal dengan penyampaian informasi riwayat kontak ini secara terbuka maka akan menudahkan kami dalam melakukan tracking riwayat pasien positif virus Corona.

Berkaitan dengan pemahaman masyarakat seperti inilah tugas kita bersama untuk selalu mensosialisasikan kepada masyarakat bahwa positif Corona bukanlah aib.

Sejatinya selama ini aparat gabungan di Kota Pariaman telah bekerja keras untuk melakukan berbagai tindakan supaya Covid-19 ini tidak sampai menular ke warga Kota Pariaman. Banyak hal yang telah dilakukan antara lain: penyemprotan disinfektan kepada berbagai fasilitas publik, seperti pasar, sekolah, kantor kantor, dan rumah rumah warga.

Lalu pemeriksaan kendaraan yang melewati perbatasan Kota Pariaman baik kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat ke atas.

Selanjutnya menggalakan penggunaan masker, dan juga membagikan masker di tempat keramaian seperti pasar.

Kemudian membuat posko utama Covid-19 di Balaikota Pariaman; dijadikan sebagai pusat komando Covid-19 di kota ini.

Setelah itu lakukan sosialisasi secara terpadu antara BPBD, Dinas kesehatan, Kodim, Polres, Pol PP dan seluruh anggota Gugus Tugascovid19 Kota Pariaman ke seluruh wilayah Kota Pariaman sampai ke pedesaan.

Kemudian penerapan Belajar dari rumah bagi anak anak sekolah se Kota Pariaman. Dan terakhir pelaksanaan ibadah dari rumah, untuk sementara semasa mewabah Covid-19 ini kegiatan ibadah dan shalat di masjid dan Surau yang mendatangkan banyak orang diganti dengan ibadah dan shalat di rumah. Hal ini juga didukung oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Pariaman.

Sebenarnya, saya menilai Corona ini bisa dicegah dengan social distance, mengurangi kerumuman, menghindari kotak langsung, dan selalu memperkuat daya tahan tubuh melalui istirahat yang cukup, makan makanan dengan gizi yang seimbang, dan senantiasa melaksanakan olahraga di rumah masing masing.(*)

Komentar