Pemko Pariaman Satukan Visi Atasi Stunting

Metro- 04-08-2022 16:29
Wako Genius Umar saat diskusi dengan sejumlah stakeholder terkait penangganan stunting di kota itu, Kamis (4/8). (Dok : Istimewa)
Wako Genius Umar saat diskusi dengan sejumlah stakeholder terkait penangganan stunting di kota itu, Kamis (4/8). (Dok : Istimewa)

Penulis: Arzil

Pariaman, Arunala -- Wali Kota Pariaman Genius Umar membuka diskusi panel manajemen kasus stunting di ruang rapat wali kota, Kamis (4/8). Diskusi digelar untuk menyikapi isu stunting yang sudah menasional.

"Menjadi tugas kita bersama menurunkan angka stunting di Indonesia khususnya Kota Pariaman. Hal ini sangat penting dilakukan karena masa depan bangsa salah satunya tergantung dengan kesehatan anak. Kita pemko Pariaman sampai saat ini telah melakukan berbagai macam upaya untuk menurunkan angka stunting bahkan mencapai 0 persen," kata Genius Umar dalam diskusi itu.

Dia mengakui, meski penangganan kasus stunting tergolong tidak mudah, namun dengan kerjasama yang baik semua akan bisa diatasi.

Baca Juga

Genius menjelaskan, sesuai hasil Survei Status Gizi Indonesia(SSGI) 2021, angka prevalensi kasus stunting di Kota Pariaman adalah 20,3 persen. Di bawah angka prevalensi stunting Sumbar yaitu 23,5 persen.

"Berdasarkan instruksi Presiden, pada tahun 2024 angka prevalensi stunting harus menyentuh angka 14 persen. Karena itu, sisa waktu lebih kurang 3 tahun, perlu sekali kerja yang ekstra untuk bisa dilakukan percepatan penurunan stunting ini khususnya di Kota Pariaman," ucap Genius Umar lagi.

Menyikapi target itu, Genius lalu mengimbau stakeholder di Pemko Pariaman untuk bisa bekerjasama dalam upaya percepatan penurunan stunting itu.

"Intervensi stunting harus kita mulai dari hulu yaitu kepada remaja dan calon pengantin, pastikan remaja-remaja memahami akan pentingnya kebutuhan gizi sejak dari remaja serta menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Kemudian calon pengantin pastikan telah melakukan pemeriksaan kesehatannya di layanan kesehatan setempat,mendapatkan bimbingan perkawinan serta KIE dari petugasdi lapangan atau Tim Pendamping Keluarga(TPK), tukasnya.

Ia menambahkan pemantauan kepada ibu hamil sampai punya anak bayi dua tahun dapat dilakukan agar masa emas1000 hari pertama kehidupan (1000 HPK) berjalan optimal,baik di sisi kesehatan maupun pola asuh yang diterapkan.

Keluarga yang memiliki pasangan usia subur pasca persalinan agar mendapatkan pelayanan KB, agar dapat mengatur jarak kehamilan dari sebelumnya, sehingga optimal pengasuhan dan kasih sayang kepada anak yang dilahirkan.

"Terakhir, yakni kepada anak hingga umur balita pastikan mendapatkan ASI eksklusif, imunisasi lengkap, vitamin, makanan tambahan setelah umur lebih enam bulan serta memantau dan mendampingi tumbuh kembang anak secara optimal," kata Genius Umar.

Komentar