Buah Tungau: Buah Hutan Langka Yang Mulai Dilupakan

25 hit
Buah Tungau: Buah Hutan Langka Yang Mulai Dilupakan

Aini Cahyadi

Prodi Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas

Di tengah hutan dan perbukitan terdapat sebuah buah tradisional yang kini mulai jarang ditemukan. Buah ini dikenal masyarakat dengan nama buah tungau.

Dulu buah ini cukup dikenal oleh masyarakat kampung, terutama anak-anak yang sering bermain di hutan atau kebun. Namun sekarang, keberadaan buah tungau semakin sulit ditemukan karena pohonnya mulai berkurang dan jarang dibudidayakan.

Buah tungau memiliki bentuk bulat kecil dengan kulit berwarna coklat muda dan tekstur kulit yang tebal serta agak kasar. Jika dibuka, di dalamnya terdapat daging buah dengan biji berwarna merah mengkilap yang terlihat unik dan menarik.

Rasanya asam manis sehingga cukup disukai masyarakat yang pernah mencicipinya. Walaupun sederhana, buah ini menyimpan banyak cerita dan kenangan bagi masyarakat.

Pada masa lalu, buah tungau tumbuh liar di hutan-hutan sekitar kampung. Pohonnya tidak ditanam secara khusus, tetapi tumbuh alami bersama tumbuhan lainnya.

Masyarakat biasanya menemukan buah ini saat pergi keladang, mencari kayu bakar, atau berburu di hutan. Anak-anak kampung juga sering menjadikan buah tungau sebagai cemilan alami ketika bermain di alam.

Buah ini biasanya matang pada musim tertentu. Ketika sudah matang, kulitnya terasa lebih dan aroma khasnya mulai tercium. Untuk memakannya,kulit yang tebal harus dibuka terlebih dulu.

Setelah itu, bagian dalam buah dapat langsung dimakan. Perpaduan rasa asam manis membuat buah ini terasa segar, apalagi jika dimakan saat cuaca panas setelah berjalan jauh di hutan.

Masyarakat tua dikampung percaya bahwa buah tungau bukan hanya sekedar makanan hutan biasa. Buah ini dianggap sebagai dari kekayaan alam yang diwariskan nenek moyang.

Dulu, banyak jenis buah hutan yang mudah ditemukan, seperti rambai, sijontik, karimuntiang dan buah tungau. Namun seiring berjalannya waktu, banyak hutan mulai berkurang karena pembukaan lahan dan perubahan lingkungan.

Akibatnya, pohon buah tungau juga semakin sedikit. Selain karena faktor lingkungan, buah tungau mulai jarang dikenal karena generasi muda sekarang lebih akrab dengan buah modern yang dijual dipasar atau minimarket.

Anak-anak zaman sekarang lebih sering mongonsumsi makanan instan dibanding mencari buah liar di hutan. Hal ini membuat pengetahuan tentang buah tradisional perlahan mulai hilang.

Padahal, buah-buah lokal seperti buah tungau memiliki nilai budayayang sangat penting. Buah ini menjadi bagian dari identitas masyarakat daerah.

Setiap daerah di Indonesia memiliki kekayaan alam dan makanan khas sendiri, termasuk buah-buah hutan yang mungkin tidak ditemukan di tempat lain.

Jika tidak dijaga dan dikenalkan kembali kepada generasi muda, maka buah seperti tungau bisa benar-benar hilang suatu hari nanti.

Keunikan buah tungau juga terlihat dari tampilannya. Kulit luarnya tampak sederhana, tetapi ketika dibuka akan terlihat biji merah mengilap yang membuat buah ini terlihat cantik dan berbeda dari buah lainnya.

Banyak orang yang baru pertama kali melihatnya merasa penasaran dengan bentuk dan rasanya.

Selain menjadi makanan ringan alami, buah tungau juga menyimpan nilai kebersamaan bagi masyarakat lampung, dulunya anak-anak sering mencari buah ini bersama-sama dihutan.

Mereka memanjat pohon, mengumpulkan buah, lalu memakannya sambil bercanda dengan teman-teman. Hal sederhana itu menjadi kenangan indah yang sulit ditemukan pada masa sekarang.

Saat ini, sebagian masyarakat kampung masih bisa menemukan buah tungau di beberapa hutan yang belum banyak berubah.

Namun jumlahnya tidak sebanyak tidak sebanyak dulu. Banyak orang muda bahkan belum pernah melihat langsung buah tersebut.

Karena itu, penting bagi masyarakat untuk mulai menjaga pohon-pohon buah hutan yang masih tersisa agat tidak punah.

Pelestarian buah tungau bisa dimulai dengan cara sederhana, seperti mengenalkan buah ini kepada anak-anak, menanam kembali pohonnya, dan menceritakan sejarahnya kepada generasi muda.

Dengan begitu, buah tungau tidak hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi tetap hidup dan dikenal di masa depan.

Selain itu, buah tungau juga dapat dijadikan bagian dari wisata alam dan budaya daerah.

Kabupaten Limapuluh Kota terkenal dengan keindahan alamnya, terutama kawasan Harau yang memiliki lembah dan perbukitan yang indah.

Jika buah-buah khas seperti tungau diperkenalkan kepada wisatawan, maka masyarakat luar juga bisa mengenal kekayaan alam daerah tersebut.

Hal ini tentu dapat membantu menjaga keberadaan buah tungau sekaligus memperkenalkan budaya lokal kepada banyak orang.

Di era modern sekarang, menjaga kekayaan alam daerah menjadi hal yang sangat penting. Banyak tanaman lokal yang mulai hilang karena kurang diperhatikan.

Padahal setiap tanaman memiliki cerita, manfaat, dan hubungan erat dengan kehidupan masyarakat setempat.

Buah tungau adalah salah satu contoh kecil dari kekayaan alam yang harus dijaga sebelum benar-benar hilang dari ingatan masyarakat.

Buah tungau mungkin tidak terkenal seperti durian, mangga, atau rambutan. Namun bagi masyarakat Pilubang dan sekitarnya, buah ini memiliki tempat tersendiri di hati mereka.

Rasanya yang asam manis, kulitnya yang tebal, serta kenangan masa kecil yang melekat membuat buah tungau menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat kampung.

Melalui cerita tentang buah tungau, kita bisa belajar bahwa alam menyimpan banyak kekayaan yang berharga. Tidak semua kekayaan harus berupa sesuatu yang mahal atau modern.

Kadang, sesuatu yang sederhana seperti buah hutan justru memiliki nilai budaya dan kenangan yang sangat besar.

Oleh karena itu, menjaga alam dan melestarikan tanaman tradisional adalah tanggung jawab bersama agar generasi mendatang masih dapat mengenal dan menikmati kekayaan alam daerahnya sendiri. (*)


(Disclaimer : isi dalam tulisan ini diluar tanggung jawab penerbit)

Komentar