>
Selama mendapatkan pembiayaan UMi, kata Rhesma, anggota juga mendapat pendampingan. “Kami menjadwalkan untuk pelatihan anggota pada awal Juli mendatang. Sedangkan pendampingan di lapangan, diagendakan ketika turun ke lapangan, saat penagihan atau survei,” ucapnya.
Pendampingan dilakukan secara rutin untuk memberikan motivasi dan konsultasi terkait dengan usaha yang sudah dilakukan. Apabila menemui masalah akan diberikan solusi untuk mengatasinya.
“Dalam pendampingan biasanya kami hanya memberi saran. Di antaranya berupa perbaikan kemasan produk, higienitas makanan, label produk. Bagi sektor warung makanan diingatkan untuk memperhatikan kedaluarsa makanan yang dijual. Jika ditemukan, kami menyarankan untuk dipisah,” tutur alumni STEI Yogyakarta ini.
Di sinilah, tutur Rhesma, esensi sebenarnya dari pembiayaan UMi tersebut. “Dengan pembiayaan dan pembinaan diberikan, usaha ultra mikro ini dapat tumbuh berkembang. Bahkan naik kelas menjadi bankable, dan memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap perekonomian daerah,” harap Rhesma.
Secara sisi kinerja keuangan hingga akhir 2023 setelah menyalurkan pembiayaan UMi ini, aset KSPPS BMT Jati Rp 3,4 miliar. “Dalam mengelola pembiayaan yang mendukung usaha UMKM ini kami tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian. Hal ini terbukti dengan status koperasi syariah yang sehat,” ungkap Rhesma. next


Komentar