Padang, Arunala.com--Indonesia merupakan salah satu produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Sudah seharusnya negara ini memaksimalkan nilai tambah dari hilirisasi kelapa sawit agar mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional.
"Sekarang sudah ada 26 provinsi di Indonesia penghasil sawit. Dimana 22 di antaranya masuk kategori penghasil terbesar. Oleh karena itu sudah sepantasnya nilai tambahnya itu ada di Indonesia bukan di negara lain," kata Peneliti Surfactant and Bioenergy Research Center (SBRC) LPPM IIPB University Prof Dr Ir Erliza Hambali MSi dalam Workshop "Hilirisasi Minyak Sawit menjadi Produk Oleopangan, Oleokimia dan Biofuel: Peluang dan Tantangannya" didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) dan APOLIN, di Truntum Hotel Padang, Kamis (4/7/2024).
Ia mengatakan jadi kalau sekarang baru bisa membuat produk minyak sawit ratusan jenis maka ke depannya diharapkan bisa 500 jenis. "Oleh sebab itu kita perlu bermitra dengan semua universitas di setiap provinsi penghasil sawit," kata .
Ia menyebutkan jika semua dosen, peneliti dan mahasiswa ikut memikirkan bagaimana mencari satu juta kebaikan dari sawit. "Nah ini bisa dipercepat dan rodanya bisa berputar kemudian menghasilkan produk-produk yang baik tentunya," ucapnya.
Hilirisasi industri kelapa sawit, sebutnya, adalah proses pengolahan CPO dan PKO menjadi produk-produk bernilai tambah lebih tinggi. Baik untuk tujuan ekspor maupun untuk substitusi produk impor.
“Ada tiga kelompok besar produk hilir kelapa sawit, yaitu oleo pangan, oleokimia, dan biofuel,” ujarnya.
Sebagaimana diketahui, oleo pangan adalah produk pangan yang berasal dari minyak kelapa sawit, seperti minyak goreng, margarin, shortening, dan ghee.
Sedangkan, oleokimia adalah produk kimia yang berasal dari minyak kelapa sawit, seperti surfaktan, sabun, deterjen, shampo, biolubricant, biomaterial, dan bioplastik.
Kemudian, biofuel adalah bahan bakar nabati yang berasal dari minyak kelapa sawit, seperti biodiesel, bioethanol, dan biogasnext


Komentar