.
Dia menyebutkan, salah satu produk hilir kelapa sawit yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan di Indonesia adalah oleokimia.
Oleokimia merupakan industri yang mengubah minyak kelapa sawit menjadi bahan baku untuk berbagai produk kebutuhan sehari-hari, seperti kosmetik, farmasi, kesehatan, dan pertanian. Oleokimia juga dapat menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk impor yang berasal dari minyak bumi, seperti plastik dan pelumas.
"Oleokimia juga memiliki dampak positif bagi lingkungan, karena produk-produknya lebih ramah lingkungan dan biodegradable," tutur Kepala Divisi Teknologi Proses, Departemen Teknologi Industri Pertanian IPB University ini.
Sementara Wakil Rektor IV Universitas Andalas Dr Henmaidi ST MEng Sc mengatakan Unand juga berhasil menciptakan sebuah alat untuk pendeteksi kematangan buah kelapa sawit.
"Sensor ini dapat membantu petani dalam menentukan tingkat kematangan buah sawit yang lebih akurat, dan tepat waktu sehingga dapat mengoptimalkan waktu panen dan pengolahannya," tukasnya.
Pembina Industri pada Direktorat Industri Hasil Hutan dan Perkebunan Direktorat Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Jefrinaldi mengungkapkan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) RI menyarankan setiap industri kelapa sawit di tanah air berani menghasilkan berbagai macam hilirisasi produk selain minyak goreng terutama biodiesel.
"Kemenperin terus mendorong seluruh pengolahan kelapa sawit melalukan hilirisasi terutama memproduksi biodiesel," tuturnya.
Khusus di Kota Padang, Sumatera Barat, Kemenperin mendata terdapat empat perusahaan kelapa sawit yang sudah menghasilkan minyak goreng dan satu di antaranya berhasil mengolah kelapa sawit menjadi biodiesel. "Jadi, dari empat perusahaan ini baru satu yang melakukan hilirisasi lebih lanjut untuk memproduksi biodiesel," tukasnya. (*)


Komentar