.
“Untuk tenaga kesehatan, sebanyak 364.002 nakes dan named diskrining HBsAg. Hasilnya, 359.677 HBsAg non-reaktif dan 267.574 belum memiliki antibodi sehingga layak divaksinasi,” terangnya.
Untuk penyakit hepatitis C, pada 2017 hingga Juni 2024, sebanyak 967.330individu berisiko tinggi telah menjalani skrining hepatitis C. Berdasarkan hasil skrining, 42.292 orang dinyatakan positif untuk antibodi Hepatitis C (anti-HCV). Lalu, hanya 67,4% atau 28.504 yang melanjutkan ke tahap pemeriksaan selanjutnya, yaitu pemeriksaan viral load (VL) untuk RNA HCV. Dari 28.504 orang yang menjalani pemeriksaan VL HCV RNA, sebanyak 16.327 orang memerlukan pengobatan karena memiliki infeksi hepatitis C aktif.
Upaya ketiga adalah pengobatan. Menurut dr Imran, pemerintah telah menyediakan obat Direct Acting Antiviral (DAA) untuk pengobatan hepatitis C. Pengobatan ini diyakini memiliki tingkat keberhasilan mencapai 90 persen.
“Untuk pengobatan DAA ini, kami sudah menyediakan di 33 provinsi dan pada tahun 2024 ini ditargetkan semua provinsi itu sudah punya rumah sakit yang bisa memberikan layanan pengobatan Hepatitis C dengan DAA,” ungkapnya.
Sejak 2017 hingga Juni 2024, tercatat lebih dari 11.689 pasien telah memulai terapi pengobatan hepatitis C. Namun, hanya 8.364 orang yang menyelesaikan pengobatan, dan 3.139 di antaranya dinyatakan sembuh.
dr Imran menjelaskan, meskipun prevalensi hepatitis telah menurun secara signifikan, angka kasus di Indonesia masih cukup tinggi. Menurut WHO, Indonesia menempati peringkat keempat di kawasan Asia Tenggara atau South-East Asia Region (SEARO) untuk kejadian dan kematian akibat penyakit liver.
“Tercatat baru 56 ribu yang didiagnosis, artinya sebetulnya masih banyak banget penderita hepatitis B yang tidak terdiagnosis karena tidak terskrining. Orang-orang inilah yang kemungkinan besar menularkan ke orang lain,” terangnya.
Dia berharap, peringatan Hari Hepatitis Sedunia 2024 yang mengangkat tema “Bersama Lawan Hepatitis, Sekarang” dapat menjadi momentum untuk bertindak bersama dan mengambil langkah nyata untuk memberantas Hepatitis di Indonesia.
“Upaya penanggulangan hepatitis harus terus ditingkatkan mengingat tahun 2030 Indonesia bersama negara lain di dunia telah berkomitmen mencapai eliminasi hepatitis C pada tahun 2030,” kata dia berpesan.(*)


Komentar