Indonesia Bisa jadi Superpower Perdagangan Karbon

Ekonomi-103 hit 08-10-2021 17:57
Mendag Lutfi menghadiri sesi pleno tingkat menteri yang mengangkat beberapa pembahasan utama, antara lain Innovation and Inclusive Pathways to Net-Zero dan Working Lunch dengan tema Promoting Trade for All. (Dok : Istimewa)
Mendag Lutfi menghadiri sesi pleno tingkat menteri yang mengangkat beberapa pembahasan utama, antara lain Innovation and Inclusive Pathways to Net-Zero dan Working Lunch dengan tema Promoting Trade for All. (Dok : Istimewa)

Penulis: Fajril

Jakarta, Arunala - Lawatan Menteri Perdagangan RI Muhammad Lutfi ke Paris, Prancis, untuk menghadiri Pertemuan Dewan Menteri OECD (Organisation for Economic Co-operation andDevelopment/OECD Ministerial Council Meeting) pada 5 - 6 Oktober 2021 menghasilkan potensibesar bagi Indonesia. Dalam sesi pleno Building A Green Future, terutama dalam perdagangan karbon, Indonesia berpotensi sebagai negara superpower dunia.

"Indonesia berpotensi menjadi carbon offset superpower di dunia melalui perdagangan karbon sukarela secara internasional. Namun, kerja sama internasional diperlukan untuk mendorong kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta dalam rangka pengembangan kerangka regulasi kebijakan yang efektif," jelas Mendag Lutfi, melalui keterangan resminya, Jumat (8/10).

Dalam sesi tersebut, Indonesia secara tegas juga menyampaikan komitmennya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebagaimana tercantum dalam kesepakatan Paris Agreement. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui kebijakan carbon pricing.

Baca Juga

Keikutsertaan Indonesia dalam Pertemuan Dewan Menteri OECD ini bertujuan untuk memperkuat kerja sama dengan berbagai negara di dunia serta membahas berbagai isu perdagangan terkini.

Dalam kunjungannya, Mendag turut didampingi Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Djatmiko Bris Witjaksono.

Dalam pertemuan ini, Mendag menghadiri sesi pleno tingkat menteri Building a Green Future yang membahas Innovation and Inclusive Pathways to Net-Zero, serta mengadiri kegiatan working lunch dengan tema Promoting Trade for All.

Hal lain yang dibahas pada sesi Building a Green Future adalah upaya mendorong agenda pemulihan ekonomi yang kini juga dikemas untuk mendukung agenda transisi menuju ekonomi hijau, inovasi, dan peluang ekonomi baru bagi para pekerja. Untuk mencapai upaya pemulihan ekonomi yang dipadukan dengan pencapaian target net zero emission, tentunya memerlukan kerja sama internasional.

Hal ini dapat dilihat dari beberapa inisiatif yang diluncurkan beberapa Negara seperti Green Deal (Uni Eropa), Build Back Better World (G7), Beyond Zero initiative (Jepang), dan Blue Dot Network (Amerika Serikat, Jepang, dan Australia).

Sedangkan, dalam sesi working lunch, para menteri memastikan manfaat perdagangan dapat dirasakan seluruh pihak lapisan masyarakat dan lingkungan. Pada dasarnya, para menteri menyadari bahwa adanya urgensi untuk mengembangkan kebijakan perdagangan yang dapat berkontribusi atas permasalahan sosial, ekonomi dan lingkungan. Termasuk antara lain perlindungan kesejahteraan pekerja, wanita dan anak-anak, serta kompetisi, subsidi, kelestarian lingkungan, dan tujuan pembangunan berkelanjutan. (*)

Komentar