bulan terakhir ini kita melihat fenomena yang sangat memprihatinkan, hampir semua SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) terjadi antrian Panjang kendaraan, kendaraan mengantri sepanjang lebih dari 2 Km.
Pemandangan antrean panjang di SPBU kini bukan lagi sesuatu yang mengejutkan. Di berbagai kota, kendaraan mengular sejak pagi hingga malam. Pengendara rela menunggu berjam-jam hanya untuk mendapatkan beberapa liter BBM
Awalnya antrian hanya terjadi di semua kendaaraan yang menggunakan bahan bakar solar, hal ini terjadi karena kendaraan berbahan bakar solar beralih ke Bio Solar, yang sebelumnya memakai Dexlite atau pun Pertamina Dex.
Saat pemerintah, dengan sangat terpaksa menaikkan harga Bahan Bakar Minyak Jenis Solar (Dexlite dan Pertamina Dex) yang kenaikannya sangat signifikan, maka konsumen yang biasa menggunakan jenis BBM diatas , rata-rata beralih ke BBM Solar jenis Bio Solar yang merupakan BBM bersubsidi dan tidak dinaikkan oleh pemerintah.
Sebenarnya tidak ada kelangkaan minyak yang terjadi, yang terjadi hanyalah perubahan penggunaan jenis bahan bakar yang digunakan konsumen.
Demikian juga dengan konsumen pengguna Bahan Bakar Minyak Bensin, yang awalnya konsumen dengan kendaraan menengah keatas rata-rata menggunakan BBM Jenis Pertamax dan Pertamax Turbo, sekarang beralih ke Pertalite, sehingga di setiap SPBU mengalami antrian yang panjang.
Namun yang kita bicarakan disini, bukan hal diatas yang utamanya, karena hal-hal yang disebutkan diatas sesuatu yang wajar dan normal.
Namun, di tengah kondisi itu, muncul sebuah ironi yang sulit diabaikan.
Saat masyarakat kesulitan mendapatkan BBM di SPBU, penjual minyak ketengan justru hampir selalu tersedia. Botol-botol berisi bensin masih berjejer di pinggir jalan, bahkan di lokasi yang tidak jauh dari SPBU yang sedang kehabisan stok.
Pertanyaannya sederhana.
Kalau SPBU kehabisan BBM, mengapa penjual minyak ketengan tetap memiliki stok?
Pertanyaan ini bukan berarti menuduh semua penjual eceran melakukan pelanggaran. Di banyak daerah terpencil, penjual BBM eceran memang membantu masyarakat yang jauh dari SPBU.
Namun, ketika fenomena ini terjadi di wilayah yang memiliki banyak SPBU dan berlangsung terus-menerus, wajar jika publik mulai mempertanyakan rantai distribusinya. Berbagai pihak menjelaskan bahwa antrean panjang tidak selalu berarti stok nasional habis. Antrean dapat dipicu oleh lonjakan permintaan, perpindahan konsumen ke BBM subsidi, gangguan distribusi, hingga pembelian berulang oleh pihak tertentu. Di sisi lain, masyarakat juga melihat kenyataan di lapangan: ketika SPBU kosong atau antreannya sangat panjang, BBM eceran tetap bisa dibeli, meski dengan harga yang lebih mahal. Ironinya, masyarakat kecil harus mengorbankan waktu, tenaga, dan biaya untuk mengantre. Sementara itu, selalu muncul pertanyaan apakah ada pihak-pihak yang memperoleh keuntungan dari kondisi tersebut. Karena itu, yang dibutuhkan bukan sekadar penjelasan bahwa stok tersedia, tetapi juga pengawasan distribusi yang benar-benar transparan. Jika memang pasokan cukup, maka masyarakat berhak mengetahui mengapa antrean terus terjadi.
Jika ada penyalahgunaan distribusi atau pembelian berulang untuk dijual kembali, maka penegakan aturan harus dilakukan secara tegas tanpa pandang bulu.
Kepercayaan publik dibangun bukan hanya dengan pernyataan, tetapi dengan kondisi yang mereka lihat setiap hari. Selama masyarakat masih menyaksikan antrean panjang di SPBU, sementara minyak ketengan tetap mudah ditemukan kapan saja, pertanyaan itu akan terus muncul: Sebenarnya yang habis itu BBM, atau sistem pengawasannya yang harus ditingkat lagi?
(Disclaimer: isi dalam tulisan diluar tanggung jawab penerbit)


Komentar