Pekanbaru, Arunala.com--Dunia pendidikan Indonesia sedang bersiap menghadapi lompatan besar dalam transformasi digital. Era papan tulis konvensional kini mulai bertransisi menuju pemanfaatan teknologi mutakhir di dalam ruang kelas. Menjawab tantangan tersebut, Telkomsel secara resmi meluncurkan program "Terpujilah GURU", sebuah inisiatif pelatihan dan pengembangan kompetensi yang dirancang khusus bagi para tenaga pendidik di seluruh penjuru negeri. Program ambisius ini bertujuan untuk membantu para guru beradaptasi dengan kilatnya perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), sekaligus mendorong peran strategis mereka sebagai Educator, Creator, dan Innovator.
Sebagai titik awal, kota Pekanbaru dipilih menjadi salah satu lokasi pelaksanaan yang meriah. Bertempat di Laksamana Muda Coffee & Live Space, Kota Pekanbaru, agenda ini berhasil melibatkan lebih dari 250 guru yang datang dari berbagai wilayah di Pekanbaru. Kehadiran ratusan pahlawan tanpa tanda jasa ini menandai tingginya antusiasme mereka untuk meningkatkan kapabilitas mengajar di era modern.
Acara yang berlangsung interaktif ini turut dihadiri oleh GM Mobile Consumer Business Region Sumbagteng, Dedfriady Masta, Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru, Dr. Alek Kurniawan, Sp., M.Si. Kepala Balai Guru Dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Provinsi Riau, Reisky Bestary, S.Pd., M.Pd, CEO PT Digital Decision Indonesia, Ilham Fadhillah Amka serta Tenaga Ahli Ditjen Komunikasi Publik Dan Media Kementerian Komdigi, Motulz Anto.
Di tengah percepatan transformasi digital yang masif, peran seorang guru kini telah mengalami pergeseran paradigma yang cukup signifikan. Guru tidak lagi sebatas bertindak sebagai penyampai materi searah di depan kelas, melainkan memegang tanggung jawab besar sebagai mentor yang membimbing siswa dalam memahami dan memanfaatkan teknologi secara bijak.
Tantangan ini terasa semakin mendesak jika berkaca pada data nasional. Berdasarkan hasil Uji Kompetensi Guru (UKG), saat ini tercatat sekitar 81% guru di Indonesia belum mencapai standar minimum yang ditetapkan. Realitas ini menjadi alarm penting bahwa penguatan kapasitas pendidik di bidang literasi digital sudah tidak bisa ditunda-tunda laginext


Komentar