Mangilang Tabu, Tradisi Lama yang Masih Ada di Lawang

Ekonomi-355 hit 28-07-2020 08:55
Kilang pengolahan Saka Lawang yang ada di kawasan Lawang Agam masih dilakukan secara tradisional dengan menggunakan tenaga kerbau. (Dok : Istimewa)
Kilang pengolahan Saka Lawang yang ada di kawasan Lawang Agam masih dilakukan secara tradisional dengan menggunakan tenaga kerbau. (Dok : Istimewa)

Penulis: Amazwar Ismail | Editor: MN. Putra

Agam, Arunala - Perkembangan zaman nyatanya tidak mempengaruhi pola hidup tradisional yang masih melekat dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.

Hal itu terlihat dengan masih hidupnya proses pengolahan gula merah tebu lebih dikenal sebutan mangilang tabu yang dikerjakan secara tradisional dengan menggunakan tenaga seekor kerbau di beberapa tempat di Sumatera Barat (Sumbar).

Salah satu tempat yang masih mempertahankan pola tradisional pengolahan tradisional mangilang tabu yang terdapat di kawasan wisata Puncak Lawang, Kabupaten Agam.

Baca Juga

Meski kawasan ini sudah menjadi tempat wisata, namun usaha tradisional masyarakat tetap saja berjalan, layaknya usaha pengelola kilang tebu tradisional Uni Des, milik Asrul.

Pria berumur 60 tahun ini mengaku sudah menjalani usaha manggilang tabu Saka Lawang itu sudah puluhan tahun.

"Bahkan usaha yang kini digelutinya itu merupakan usaha keluarganya yang sudah berlangsung turun temurun," kata Asrul di Puncak Lawang, Agam, Minggu (26/7).

Dia mengaku, pengolahan gula tebu secara tradisional dengan memanfaatkan tenaga kerbau untuk menghasilkan Saka Lawang. Itu akan

dia pertahankan dan lestarikan sebagai daya tarik bagi wisatawan saat berkunjung ke kawasan wisata berhawa sejuk ini.

"Dulu saya pernah menggunakan mesin selama 15 tahun. Hasilnya bisa mencapai 100 kg per hari, namun kualitasnya tidak bagus, hasilnya kotor semua," kata bapak lima anak ini.

Ia mengaku pengolahan melalui alat tradisional proses penyaringannya memakan waktu yang lama dimana dalam 4 kali penyaringan menghasilkan 25 kg/hari.

"Namun hasilnya bila dibandingkan dengan menggunakan mesin, sangat bersih dan bisa langsung dimakan," ucapnya.

Sekilas, Asrul menjelaskan bagaimana proses pembuatan Saka Lawang itu, mulai dari menyiapkan kerbau untuk kemudian diikatkan pada alat penggiling yang sering disebut pangkilangan dalam bahasa setempat. Mata Kerbau ditutupi dengan tempurung kelapa dan kain agar kerbau tersebut mau berjalan.

Selanjutnya, air perasan tebu dimasak hingga mengental dan hasil tersebut dibentuk pada alat cetak hingga mengering dan menghasilkan gula merah "Saka Lawang".

Paket wisata yang disediakan Asrul pada usaha kilang tebu tradisional miliknya, membuat wisatawan yang berkunjung dapat menyaksikan proses pembuatan gula merah dari proses awal tebu diperas menggunakan tenaga kerbau.

Ditanya apakah saat pandemi Covid-19 beri pengaruh terhadap usaha yang dibuatnya ? Asrul menjawab tentu ada dampak bagi usahanya.

"Biasanya banyak wisatawan mancanegara yang datang, salah satunya dari Malaysia, namun saat ini tidak ada lagi," kata Asrul.

Sekadar diketahui, Gula merah tebu atau dalam bahasa lokal disebut dengan "gulo saka" atau "Saka Lawang" merupakan bahan pemanis alami yang digemari oleh masyarakat. Selain harganya terjangkau, gula merah tebu juga baik untuk kesehatan. Hal ini karena gula merah tebu mengandung antioksidan yang baik bagi penderita penyakit diabetes.

Proses pengolahannya yang menggunakan suhu kurang dari 100 derajat, menyebabkan gula merah tebu lebih mudah diserap tubuh dibanding dengan gula putih.

Komentar