Nasrul Abit Ingin Pemprov Sumbar Ikut Kembangkan Pariwisata Bukittinggi

Metro-17 hit 12-11-2020 09:08
Calon Gubernur Nasrul Abit saat menyapa masyarakat oelaku pariwisata di Kota Bukittinggi, Senin (10/11). (Dok : Istimewa)
Calon Gubernur Nasrul Abit saat menyapa masyarakat oelaku pariwisata di Kota Bukittinggi, Senin (10/11). (Dok : Istimewa)

Penulis: Arzil

Bukittinggi, Arunala - Calon Gubernur Sumbar Nasrul Abit, mengatakan tidak terlalu sulit membangun Bukittinggi. Menurutnya, cukup dengan mengembangkan pariwisata, menata pasar, dan mendorong pertumbuhan produksi tekstil, perekonomian di Bukittinggi akan tumbuh dengan sendirinya.

"Bukittinggi ini kota pariwisata dan pusat tekstil sehingga pasar-pasar selalu ramai. Sektor ini harus didorong agar Bukittinggi maju," ujarnya saat bersilaturahmi dengan milenial Bukittinggi di CK Center Kampung Cino Bukittinggi, Senin (9/11) malam.

Dari peninjauan ke beberapa pasar, Nasrul Abit melihat bahwa pusat keramaian di Bukittinggi perlu ditata. Ia menilai bahwa hal terpenting ialah memastikan pasar tidak becek dan pedagang tertata dengan baik.

Baca Juga

Sebagai orang yang sudah lama berkonsetrasi pada pengembangan pariwisata, Nasrul Abit berpendapat bahwa daerah pariwisata seperti Bukittinggi lebih cepat berkembang dan bangkit pada masa pandemi Covid-19. Karena itu, pengembangan Bukittinggi perlu sinkronisasi antara Pemerintah Provinsi Sumbar dan Pemerintah Kota Bukittinggi.

"Ini soal kewenangan. Selama ini pemerintah provinsi tidak bisa masuk pada banyak bidang ke pemerintah kabupaten/kota. Kewenangan pemerintah provinsi hanya SMA, SMK, dan SLB; kelautan dan perikanan; kehutanan dan pertambangan.

Bidang lainnya ada di bawah kewenangan pemerintah kabupaten dan kota. Ke depan saya akan kerja sama dengan bupati dan wali kota agar pemerintah provinsi bisa masuk untuk membantu," tuturnya.

Kelebihan Bukittinggi daripada daerah lain, kata Nasrul Abit, ialah memiliki banyak objek wisata. Karena itu, wisatawan selalu ramai di kota itu, ditambah dengan industri tekstil yang berkembang pesat.

"Sekarang orang dari Padang saja ambil barang ke Bukittinggi. Sektor ini perlu didorong, seperti memberikan bantuan untuk UMKM, stimulan untuk koperasi, dan kepastian pinjaman modal," ucapnya.

Nasrul Abit juga menyampaikan bahwa jika diamanahi menjadi gubernur, ia akan melibatkan milenial dalam berbagai bidang, misalnya dalam pengembangan pariwisata, UMKM, dan ekonomi kreatif.

"Milenial bisa ambil bagian, apakah itu jadi pemandu wisata, panjual online produk UMKM, termasuk memperbaiki kemasan produk sehingga bernilai jual tinggi," ujarnya.

IC Lestarikan Tradisi

Sementara itu, calon wakil gubernur Indra Catri (IC) menghadiri tradisi adat bakaua di Nagari Lubuak Tarok, Kecamatan Lubuak Tarok, di Kabupaten Sijunjung. Dia menilai tradisi itu masih dilestarikan di nagari tersebut.

Bakaua adat merupakan tradisi turun temurun sebagai ucapan syukur setelah panen hasil pertanian di suatu daerah. Pada acara bakaua di Sijunjung, Senin (9/11), Indra Catri diundang oleh pemangku adat Nagari Lubuak Tarok.

"Alhamdulillah tradisi bakaua masih dipertahankan masyarakat Lubuak Tarok hingga kini. Tradisi seperti ini harus dilestarikan," kata Indra Catri.

Dia terkesan terhadap kegiatan adat tersebut. Menurutnya, bakaua adat merupakan perwujud antara adat dan syarak sebab di dalamnya terdapat beberapa kegiatan, seperti tahlilan, tarian khas Lubuak Tarok, dan kaul. "Ganggam arek adat jo syarak, ka langik tuah malambuang," ujarnya.

Indra Catri ingin kegiatan adat seperti itu dilestarikan oleh generasi penerus bangsa. Ia berpendapat bahwa melalui acara adat itu nilai-nilai moral di tengah masyarakat terus hidup. "Ke depan akan kita kemas lebih baik karena kegiatan seperti ini juga harus mendapat perhatian," ucapnya.

Sementara itu, Pucuk Adat Nagari Lubuak Tarok, Firman Bagindo Tan Ameh, mengatakan bahwa hadirnya Indra Catri dalam kegiatan itu merupakan momentum yang baik untuk sekaligus bersilaturahmi.

"Saya menumpangkan harapan besar kepada Indra Catri. Jika terpilih pada Pilgub Sumbar kali ini, semoga persolan adat dan budaya lebih diperhatikan oleh pemerintah," ujarnya.

Secara hukum, kata Firman, negara sudah mengatur perihal kerajaan, keraton, dan lembaga adat lainnya. Namun, dalam perwujudannya, perhatian terhadap kelestarian adat budaya masih kurang.

"Hukum ada juga sangat lemah. Kami harap ini menjadi tanggung jawab kita bersama ke depan," katanya. (rel)

Komentar