Dilema Guru/Dosen (Honorer)

240 hit
Dilema Guru/Dosen (Honorer)

Prof. Dr. Elfindri, SE., MA

Direktur SDGs Universitas Andalas (Unand)/ Guru Besar Ekonomi SDM Unand

Laporan UNESCO memperlihatkan guru di Indonesia hanya mampu mengurai kata dan kalimat selama 50 menit dalam kelas atau separo dibandingkan guru di Hongkong atau Korea Selatan. Demikian juga siswa, memang kemampuan narasi mereka begitu rendah.

Ini tidak akan jauh berbeda bilamana dilakukan kajian tentang bagaimana mahasiswa di negara kita dibanding dengan negara dimana mutu pendidikannya sudah berkualitas.

Ini pula yang disimpulkan oleh Prof Fasli Jalal kemaren, Sabtu 21 November 2020 waktu Webinar dengan tema "Meningkatkan mutu SDM Indonesia bersama Dr Jahen Fachrul Rezki, seorang Ekonom muda alumni SMA 1 Padang dari LPEM UI, yang diselenggarakan oleh MM STIE Has, di Bukittinggi.

Beliau mengutip laporan Bank Dunia, "education without learning". Anak-anak kita semakin banyak yang sekolah tetapi dia tidak memperoleh proses learning yang baik.

Alasan utama jelas pada mutu guru dan dosen. Apalagi pada masa pandemi, ada potensi kehilangan golden age siswa dan mahasiswa kita. Karena mereka belajar di rumah dengan peranan guru dimainkan oleh orang tua. Adapun proses daring dalam proses belajar ini hanyalah sebagian kecil untuk memenuhi keperluan learning peserta didik.

Dilema apa yang perlu diatasi? Adalah dilema kualitas guru/dosen. Masalah sejak lama diketahui. Pemerintah juga masih belum efektif dalam menyiapkan calon guru/dosen, belum juga efektif dalam proses rekrutmen, karena sistem pengangkatan yang rigid.

Dari yang sudah diangkat jadi PNS masih perlu pemetaan. Guru baik penempatan baik. Itu sasaran yang mesti dicapai. Tapi yang banyak adalah guru baik tepi penempatan tidak. Atau guru kapasitas kurang penempatan tidak tepat.

Di dunia PT sangat terasa. Dosen sudah diangkat anyak yang mengulur pergi sekolah kalaupun asa banyak juga asal sekolah asal piluh bidang yg todak difikirikan keoerluan da keteroakaiannya sewaktu kembali.

Mendorong guru meningkatkan kapasitasnya tidaklah mudah mengingat kualitas LPTK kita ya mentok. Kualitas pendidikan Pascasarjana juga tidak selalu kukuh dalam meningkatkan kualitas. Guru sebagaimana dosen banyak yang tidak pandai dalam proses riset dan menulis.

Bulan ini penulis mereview 98 berkas usulan dosen untuk penelitian muda, rata rata mereka lemah di metodologi dan bahasa. Mereka sarjana tetapi tidak siap untuk jadi guru dan dosen.

Sementara guru honorer atau dosen memilih status itu karena formasi permanen terbatas. Ada yang bertahan jadi guru dan bagus, tapi tentu banyak yang masih harus dibenahi. Bertahan jadi guru dengan kapasitas seadanya memang memilukan.

Oleh karena yang mungkin bisa dilakukan adalah tetap kapasitas guru/dosen ditingkatkan baik kemampuan akademik maupun pedagogi mereka.

Para kandidat gubernur dan cagub beserta kandidat bupati dan wali kota, para rektor dan kelembagaan LL Dikti mesti benar benar merasa penting bahwa penguatan kelembagaan LPTK dan penyelenggara pascasarjana memang memerlikan revitalisasi ulang.

Bahwa guru tidak bisa sembarangan digarap. Mesti terencana, konsisten dan berkualitas. Pengembangannya mesti disusun dengan cara bersama, metoda yang baru, kalau mungkin ada kemudahan dan kelenturan untuk memperbaikinya.

Pimpinan daerah mesti lihat ini suatu yang penting agar dilema guru/dosen tertangani. Mungkin kita bisa bercermin dari bagaimana Garuda menggembleng karyawannya dalam bekerja atau taxy Blue Bird. Ada rencana dan pentahapan yang matang.

Setelah direstorasi kemudian guru/dosen diberi semangat yang menggebu-gebu agar mereka membuat terobosan dan menjadi champion dalam bekerja, bukan menyandarkan hidup dan tidak mau ditingkatkan kapasitasnya.

Program kompensasi guru honorer, atau riset dosen muda mesti syaratnya berat. Bagi yang ikut mesti tahapan berikutnya adalah bagaimana mereka menyiapkan dengan proses learning yang benar.

Pandemi membuat kita kerja keras. Jika abai maka pendidikan kita tertatih tatih ada pendidikan tetapi proses learning tidak terbangun.

Komentar