Jangan Tunggu Galodo Datang: Susur Sungai Harus Jadi Gerakan Mitigasi Bencana di Sumbar

15 hit
Jangan Tunggu Galodo Datang: Susur Sungai Harus Jadi Gerakan Mitigasi Bencana di Sumbar

Akmal

Insan SAR/Bencana

Provinsi Sumatera Barat berada di kawasan Bukit Barisan dengan puluhan daerah aliran sungai (DAS) yang berhulu di kawasan pegunungan dan bermuara ke Samudra Indonesia.

Kondisi geografis tersebut membuat sejumlah sungai di Sumatera Barat memiliki respons yang cepat terhadap perubahan cuaca dan curah hujan, terutama ketika hujan deras berlangsung di kawasan hulu.

Dalam kondisi tertentu, hujan lebat yang terjadi selama beberapa jam di wilayah hulu dapat meningkatkan debit sungai secara cepat.

Air yang mengalir deras dapat membawa material berupa lumpur, kayu, batu dan material lainnya ke wilayah hilir hingga berpotensi menimbulkan banjir bandang atau galodo.

Peristiwa yang terjadi pada 21 September 2026, ketika aliran Batang Laso menerjang kawasan perkantoran Pemerintah Kabupaten Solok di Arosuka, menjadi pengingat bahwa kondisi kawasan hulu dan jalur aliran sungai perlu mendapat perhatian serius.

Berbagai potensi hambatan aliran, termasuk pendangkalan dan sumbatan material, perlu diketahui sedini mungkin sebagai bagian dari upaya mitigasi.

Susur Sungai sebagai Langkah Mitigasi

Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah kegiatan susur sungai, yakni menyusuri aliran sungai dari hulu ke hilir atau sebaliknya untuk melihat dan memetakan kondisi sungai secara langsung.

Kegiatan ini tidak semata-mata menjadi aktivitas lapangan, tetapi dapat dijadikan instrumen mitigasi untuk mengetahui potensi ancaman sebelum berkembang menjadi bencana.

Beberapa kondisi yang perlu diperhatikan dalam kegiatan susur sungai antara lain:

* Sumbatan material kayu yang berpotensi menghambat aliran;

* Timbunan material longsor dari lereng atau bukit yang labil;

* Pendangkalan akibat sedimentasi maupun aktivitas galian yang tidak sesuai ketentuan;

* Penyempitan badan sungai atau gangguan pada sempadan sungai; dan

* Tumpukan sampah, batang pohon maupun material lain yang berpotensi membentuk bendungan alami.

Hasil pemantauan tersebut dapat menjadi bahan bagi instansi terkait untuk menentukan langkah penanganan, termasuk pembersihan material yang berpotensi menghambat aliran sebelum memasuki periode hujan dengan intensitas tinggi.

Bukan Hanya untuk Mitigasi

Susur sungai juga dapat dikembangkan sebagai kegiatan edukasi dan riset.

Dengan melibatkan masyarakat serta generasi muda, kegiatan tersebut dapat menjadi sarana untuk mengenalkan pentingnya menjaga kebersihan sungai, kawasan hulu dan lingkungan sekitar DAS.

Kegiatan di lapangan dapat dilakukan dengan metode yang disesuaikan dengan karakteristik sungai, termasuk berjalan kaki di sepanjang bantaran atau menggunakan sarana yang aman dan sesuai standar keselamatan apabila kondisi memungkinkan.

Dari sisi penelitian, susur sungai dapat dimanfaatkan untuk mengamati kualitas air, kondisi debit, biota sungai, sedimentasi, kondisi vegetasi serta tingkat kerusakan kawasan hulu.

Data tersebut penting untuk memperkuat perencanaan mitigasi berbasis kondisi nyata di lapangan.

Sejumlah Sungai Perlu Mendapat Perhatian

Melihat karakter geografis dan riwayat kejadian hidrometeorologi di Sumatera Barat, sejumlah sungai dan kawasan aliran sungai dapat dipertimbangkan sebagai lokasi prioritas pemantauan, antara lain:

1. Batang Kuranji, Kota Padang;

2. Sungai Lubuk Minturun, Kota Padang;

3. Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman;

4. Batang Malana/Batang Lona, Kabupaten Tanah Datar, termasuk jalur yang berkaitan dengan aliran material Gunung Marapi;

5. Sungai di Kecamatan Sungai Pua, Kabupaten Agam;

6. Batang Aia Pisang/Batang Muaro Pisang, Kabupaten Agam, kawasan hulu Danau Maninjau;

7. Sungai Rangeh, Kabupaten Agam;

8. Batang Lembang, Kota Solok;

9. Batang Gawan, Kabupaten Solok;

10. Batang Bayang/Sungai Gunung Nago, Kabupaten Pesisir Selatan;

11. Batang Tarusan, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan;

12. Batang Laso, Kabupaten Solok; dan

13. Sungai-sungai lainnya yang memiliki potensi ancaman serupa.

Daftar tersebut tentu bukan daftar final. Penentuan sungai prioritas perlu didukung data teknis, peta risiko, kondisi DAS, riwayat kejadian, serta hasil kajian dari instansi yang berwenang.

Perlu Melibatkan Banyak Unsur

Pelaksanaan susur sungai sebaiknya dilakukan secara terencana dan tidak menunggu sampai terjadi bencana.

Sungai yang belum mengalami kejadian banjir bandang dalam waktu dekat justru penting dipantau sebagai langkah pencegahan.

Setelah terjadi bencana, sungai yang terdampak juga perlu kembali disusuri untuk memastikan tidak terdapat sumbatan susulan atau perubahan jalur aliran yang dapat meningkatkan risiko berikutnya.

Kegiatan ini idealnya melibatkan berbagai unsur, seperti BPBD, Basarnas, instansi pekerjaan umum dan sumber daya air, PMI, TNI/Polri, pemerintah daerah, pemerintah nagari, relawan, masyarakat yang tinggal di sepanjang bantaran sungai serta unsur terkait lainnya.

Setiap temuan di lapangan juga perlu didokumentasikan secara baik melalui foto, video maupun pemetaan titik lokasi.

Jika memungkinkan, penggunaan drone dan pencatatan koordinat dapat membantu menghasilkan data yang lebih akurat untuk bahan laporan dan tindak lanjut.

Jangan Menunggu Bencana

Susur sungai hendaknya tidak dipandang sebagai kegiatan seremonial. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan bagian dari kerja nyata dalam membangun kesiapsiagaan dan mengurangi risiko bencana.

Pencegahan tentu membutuhkan biaya dan sumber daya. Namun, upaya mendeteksi serta menangani potensi sumbatan dan ancaman di kawasan hulu sebelum terjadi bencana dapat menjadi langkah penting untuk mengurangi kerugian yang jauh lebih besar di wilayah hilir.

Karena itu, sudah saatnya susur sungai dipertimbangkan sebagai agenda mitigasi yang dilakukan secara berkala dan terukur di Sumatera Barat, terutama pada sungai-sungai yang memiliki potensi risiko tinggi.

Mitigasi bukan berarti menunggu bencana datang. Mitigasi adalah ikhtiar untuk mengenali ancaman, mengurangi risiko dan meningkatkan kesiapsiagaan sebelum bencana terjadi.

Semoga berbagai upaya mitigasi bencana yang dilakukan bersama dapat menjadi ikhtiar untuk melindungi masyarakat, mengurangi dampak risiko bencana, serta mewujudkan Sumatera Barat yang semakin tangguh menghadapi berbagai ancaman bencana. (*)

(Disclaimer: isi dalam tulisan diluar tanggung jawab penerbit)

Komentar