Masih Adakah Etika dan Budaya Remaja di Minangkabau Saat Ini?

1632 hit
Masih Adakah Etika dan Budaya Remaja di Minangkabau Saat Ini?

Indah Aprilika Tanjung

Mahasiswi Sastra Minangkabau, Universitas Andalas

Saat ini banyak remaja di Minang sudah melupakan falsafah hidup orang Minangkabau yaitu

Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

, dimana adat berdasarkan ajaran agama dan berdasarkan kitab suci Al Quran.

Padahal, pada zaman dulu orang Minangkabau memiliki etika yang menunjukkan prilaku santun dan segan yang merupakan ciri khas masyarakat di Minangkabau.

Namun saat ini etika remaja di Minangkabau seolah-olah hilang ditengah kesibukan dan godaan dari budaya luar.

Masalah Minangkabau pada saat kini harus diperbaiki kepada remaja di ranah Minang.

Sebagai penerus ranah Minang dalam mempersiapkan atau melawan arus globalisasi yang berjalan begitu cepat dan pesat.

Ditengah gaya hidup globalisasi saat ini, remaja Minang diibaratkan, pambao runtuah tunggak nan lah rabah, maksudnya yaitu mereka sudah sangat jauh dari jati diri mereka sebagai penerus ranah minang.

Bagaimana etika remaja Minang saat ini? Kita sering membaca dan melihat dari surat kabar maupun informasi yang ada di sosial media tentang remaja minang saat ini yang memiliki perbuatan kurang beretika dan tidak mencerminkan sebagai orang Minang.

Tatakrama masyarakat minang yang dahulunya ramah dan punya segan seolah hilang ditelan bumi.

Sikap cuek yang dimiliki remaja Minang saat ini merupakan faktor hilangnya budaya tersebut.

Sesuai dengan falsafah Minang nan kuriak iyolah kundi, nan merah iyolah sago, nan baiak iyolah budi, nan indah iyolah bahaso (Yang kuriak ialah kundi, yang merah ialah sago, yang baik ialah budi, yang indah ialah bahasa).

Namun pada saat ini, banyak remaja Minang yang tak ramah, apalagi tidak punya sopan, santun dan segan terhadap yang lebih tua tuturnya yang begitu kurang ajar membuat orang kesal dan menyebut bahwa anak tersebut tidak beretika.

Sikap saling hormat menghormati kepada orang tua sudah hilang, walaupun orang tuanya sudah sering menasehatinya namun dia hanya menjadikan perkataan itu hanyalah perkataan sampah yang berlalu dari telinga kiri keluar di telinga kanan.

Semua akibat dari perkembangan globalisasi yang menuntut agar setiap orang tidak tertinggal zaman.

Namun remaja Minang sendiri tidak dapat menyaring hal yang positif dia hanya mengikuti globalisasi yang bersifat negatif, mereka tidak bisa menyaring mana yang baik dan buruknya dari diri dan tatakrama remaja Minang itu sendiri.

Remaja Minang saat ini sudah tidak malu lagi dalam berkata carut marut baik itu kepada teman maupun kepada orang yang lebih tua padanya.

Padahal carut marut dapat membuat hati orang terluka akan perkataan kasarnya tersebut runciang jan mancucuak, sandiang jan maluko (runcing jangan menusuk, sanding jangan melukai), artinya suatu perkataan yang melukai atau menyakiti hati seseorang.

Untuk menyikapi prilaku ini dalam kehidupan remaja di Minang, kita perlu memahami norma adat dan nilai etika atau sopan santun dalam berbicara, seperti ungkapan harimau dalam paruik, kambiang juo nan musti kalua, artinya sungguh pun harimau dalam perut, kambing juga yang mesti dikeluarkan.

Ungkapan ini sering diucapkan oleh orang tua-tua dulu kepada anak dan kamanakan (keponakan, red), bagi yang tidak tahu sopan santun dalam berbicara.

Perlu kita ingat kembali pada norma adat sopan santun ketika berbicara yang diwariskan oleh leluhur kepada kita seperti kato nan ampek (kata nan empat) yang merupakan kunci adat orang Minangkabau saat berbicara.

Setiap orang disuruh memiliki perbedaan saat berbicara indak ka pernah samo datanyo sawah jo pamatang (tidak akan sama datar sawah dengan pematang), maksudnya setiap orang punya tingkatan tertentu di masyarakat.

Ada 4 kunci orang Minang dahulu saat berbicara yaitu pertama kato mandaki (kata mendaki) saat kita berbicara dengan orang yang lebih tua, seperti ayah, ibu, kakak dan lain sebagainya.

Kedua, kato manurun (kata menurun), digunakan saat berbicara dengan lawan bicara yang lebih kecil, seperti adik.

Ketiga, kato mandata (mendatar), digunakan untuk teman seumuran, biasanya perkataannya sangat bebas dan kadang juga kasar.

Keempat, kato malereng (kata melereng) digunakan untuk berbicara antara orang yang kita segani, seperti rang sumando, mertua, dan lain sebagainya.

Di saat zaman globalisasi saat ini makin berkembang, nampaknya menjadi sebuah tantangan bagi kita sebagai remaja Minang untuk dapat mengambil sisi positifnya dan memiliki dampak yang dapat membantu manusia.

Ditengah-tengah moderenisasi dan globalisasi yang menimbulkan pergeseran norma dalam beretika, yang dulunya tidak pantas.

Namun sekarang menjadi hal yang biasa-biasa saja.

Remaja Minang saat ini cenderung menyelesaikan sesuatu secara individual yang dapat menyampingkan nilai-nilai adat dan budaya yang ada.

Budaya asing menjadi patokan baginya saat ini karena dia menganggap bahwa budaya asing itu keren, padahal budaya Minang terbilang lebih baik dibanding budaya asing.

Oleh karena itu, keluarga di Minangkabau harus memilki peran penting dalam mengajarkan anaknya akan kebaikan dalam beretika dan mengajarkannya akan budaya yang ada di ranah Minang.

Lunturnya budaya minangkabau di kalangan remaja saat ini bukanlah seutuhnya salah kaum muda, namun ada aspek lain yang merupakan kesalahan kaum tua yang mulai lelah dalam memberikan pemahaman seputar etika dan budaya.

Sudah sering diajarkan oleh kaum tua tapi remaja Minang tidak menjadikan itu sebuah pelajaran penting bagi dirinya.

Sudah saatnya remaja minang mempelajari kehidupan yang dilandasi dengan adat dan budaya yang terdahulu.

Hendaknya kita sebagai orang Minang merasa bangga dengan variasi kebudayaan minang yang beragam dengan mengapresiasinya, bukan hanya sekadar bangga, tapi dengan melestarikan dan membudayakan adat, etika, dan segan yang seharusnya remaja Minang miliki pada dirinya. (***)

Komentar