Mengenal lebih Dalam, Isi, dan Makna dari Rumah Gadang Minangkabau

1513 hit
Mengenal lebih Dalam, Isi, dan Makna dari Rumah Gadang Minangkabau

Yosa Adelia

Mahasiswi Jurusan Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Unand

Di dalam bukunya yang berjudul Alam Takambang Jadi Guru, A.A. Navis menjelaskan bahwa Rumah Gadang merupakan sebuah tugu hasil kebudayaan suatu suku bangsa yang hidup di daerah Bukit Barisan yang menjajar di sepanjang pantai barat Pulau Sumatera bagian Tengah.

Dinamakan sebagai sebuah tugu kebudayaan suku bangsa, dapat diungkapkan dengan rasa bangga, dalam bahasa yang liris, dan metafora yang indah dan juga kaya lalu diucapkan dengan suara yang beralun pada pidato dalam situasi yang tepat.

Bunyinya seperti ini jika kita dengar:

"Rumah gadang sambilan ruang, salanja kudo balari, sapakiak budak maimbau, sajariah kubin malayang.

Gonjongnyo rabuang mambasuik, antiang-antiangnyo disembalang.

Parabuangnyo si ula Gerang, batatah timah putiah, barasuak tareh limpato.

Cucurannyo alang babega, saga tasusun bak bada mudiak.

Parannyo si ula Gerang batata aia ameh, salo-manyalo aia perak.

Jariannyo puyuah balari, indah sungguah dipandang mato, tagamba dalam sanubari.

Didiang ari dilanja paneh. Tiang panjang si maharajolelo, tiang pangiriang mantari dalapan, tiang dalapan, tiang tapi panangua jamu, tiang dalam puti bakabuang.

Ukiran tonggak jadi ukuran, batatah aia ameh, disapuah jo tanah kawi, kamilau mato mamandang.

Dama tirih bintang kemarau. Batu talapakan camin talayang.

Cibuak mariau baru sudah. Pananjua parian bapantua.

Halaman kasiak tabangtang,Pasia lumek bagai ditintiang.

Pakarangan bapaga hiduik, pudiang ameh paga lua, pudiang perak paga dalam, batang kamuniang pautan kudo.

Lansuangnyo batu balariak, alunyo limpato bulek, limau manih sandarannyo.

Gadih manumbuak jolong gadang, ayam mancangkua jolong turun, lah kanyangbaru disiuahkan, jo panggalan sirantiah doali, ujuangnyo dibari bajambua suto.

Ado pulo bakolam ikan, aianyo bagao mato kuciang, lumpua tido lumuikpun tido, ikan sapek balayangan ikan gariang jinak-jinak, ikan puyu barandai ameh.

Rangkiangnyo tujuah sajaja, di tangah sitinjau lauik, panjapuik dagang lalu, paninjau pancalang masuak, di kanan di tangah si bayau-bayau, lumbuang makan patang pagi.

Di kiri si tangguang lapa, tampek si misikin salang tenggang, panolong urang kampuang, di musim lapa gantuang tungku, lumbuang kaciak salo manyalo, tampek manyimpan padia abuan".

Minangkabau merupakan suku bangsa yang menganut falsafah alam takambang jadi guru yang artinya masyarakat minang menyesuaikan kehidupannya pada susunan alam yang bersifat harmonis dan juga dinamis, sehingga kehidupannya menganut bakarano bakajadian.

Rumah Gadang sendiri mengandung rumusan falsafah tersebut, yaitu garis dan bentuk rumah gadang terlihat seperti dengan Bukit Barisan yang bagian puncaknya bergaris lengkung yang meninggi pada bagian tengahnya serta garis lerengnya melengkung dan mengembang ke bawah dengan bentuk segi tiga.

Atap Rumah Gadang yang lancip berguna untuk membebaskan endapan air sehingga air akan meluncur dari atap.

Bangun rumah yang membesar ke atas berfungsi untuk membebaskannya dari terpaan tempias.

Kolongnya yang dibuat tinggi agar dapat memberikan hawa yang segar, dan posisi Rumah Gadang dibuat sejajar menurut arah mata angin dari utara ke selatan agar tidak terkena panasnya matahari dan terpaan angin.

Dinding pada Rumah Gadang terbuat dari papan, kecuali dinding bagian belakang yang dari bambu.

Papan dipasang secara vertikal. Semua dinding papan rumah gadang dipenuhi oleh ukiran dan tiang yang tegak di tengah juga diberi sebaris ukiran.

Ukiran-ukiran yang ada di rumah gadang bersifat non-figuratif.

Penempatan motif ukuran disesuaikan pada susunan dan letak papan dinding Rumah Gadang.

Papan yang dipasang secara vertikal maka motifnya adalah ukiran akar.

Papan yang dipasang secara horizontal memakai ukiran geometris.

Pada bagian bingkai pintu, jendela, dan pelapis sambungan antara tiang dan bendul serta paran memakai ukiran yang bermotif lepas.

Sedangkan pada bidang yang salah satu sisinya berelung, memakai motif ukiran akar bebas.

Motif kumbang, mahkota, dan lain-lain biasanya digunakan sebagai hiasan pusat.

Sebenarnya pemberian nama pada motif ukiran tidak mempunyai pola yang jelas, karena motif yang sama tetapi berbeda jenis ukiran yang mengisi bidangnya akan memperoleh nama yang tidak berhubungan sama sekali.

Seperti antara ukiran yang bernama kaluak paku (keluk pakis) jika disalin melalui lantunan kaca akan berubah namanya menjadi kijang lain.

Lalu ukiran ramo-ramo (rama-rama) jika disalin melalui lantunan kaca namanya berubah menjadi tangguak lamah (tangguk lemah).

Selain sebagai tempat kediaman keluarga, Rumah Gadang digunakan sebagai lambang kehadiran suatu kaum, pusat kehidupan dan kerukunan, seperti tempat untuk bermufakat dan melaksanakan upacara.

Rumah Gadang juga memiliki ketentuan-ketentuan sendiri, seperti perempuan paling muda mendapatkan kamar yang paling ujung dan jika sudah mempunyai suami akan berpindah ke kamar tengah.

Perempuan yang sudah tua dan anak-anak mendapatkan kamar dekat dapur, dan gadis remaja mendapatkan kamar bersama pada ujung yang lain.

Sedangkan laki-laki tua, duda, dan bujangan tidur di surau milik kaumnya masing-masing.

Rumah Gadang biasanya ditempati oleh nenek, ibu, dan anak-anak perempuan.

Rumah Gadang dipandang suci oleh masyarakat minang dan sangat dimuliakan, sehingga setiap orang yang ingin naik ke Rumah Gadang akan mencuci kakinya di bawah tangga.

Jika perempuan yang akan bertamu ke Rumah Gadang maka harus berseru di halaman untuk menanyakan apakah ada orang di rumah, sedangkan yang laki-laki akan mendehem lebih dulu di halaman sampai ada sahutan dari atas rumah.

Laki-laki yang datang ke rumah gadang haruslah ahli rumah itu sendiri, seperti mamak rumah, orang semenda, dan laki-laki yang memang lahir di rumah gadang itu sendiri.

Laki-laki yang ingin membicarakan suatu hal dengan ahli rumah, tidak lazim membicarakannya di dalam Rumah Gadang.

Pertemuan antara laki-laki lebih baik berada di surau atau masjid, pemedenan atau gelanggang, dan balai atau kedai.

Setelah menyatakan pernyataan di atas, penulis dibuat takjub akan Rumah Gadang.

Mulai dari bangunannya yang menganut falsafah alam takambang jadi guru, ukiran-ukiran pada dindingnya, hingga peraturan yang tinggal dalam rumah gadang dan jika ingin bertamu.

Penulis berharap rumah gadang akan terus dijaga kelestariannya serta mematuhi aturan-aturan yang berlaku di rumah gadang. (*)

Komentar