BNPB Mencatat Korban Gempa Bumi Terbanyak

Metro-444 hit 21-01-2021 20:02
Tim Penyelamat dengan menggunakan anjing pelacak mencari para korban yang tertimpa reruntuhan akibat gempa bumi di Sulawesi Barat beberapa waktu lalu. (Dok : Istimewa)
Tim Penyelamat dengan menggunakan anjing pelacak mencari para korban yang tertimpa reruntuhan akibat gempa bumi di Sulawesi Barat beberapa waktu lalu. (Dok : Istimewa)

Penulis: Darizon Y

Jakarta, Arunala -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat hingga 21 Januari 2021 ini sebanyak 185 bencana.

Data per 21 Januari 2021, pukul 10.00 WIB, bencana hidrometeorologi masih mendominasi jumlah bencana hingga minggu keempat Januari tahun ini.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati dalam rilisnya yang diterima Arunala.com , Kamis (21/1) menerangkan bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor dan puting beliung mendominasi kejadian bencana.

Baca Juga

"Catatan BNPB, sebanyak 127 kejadian banjir terjadi di beberapa wilayah di Indonesia, sedangkan tanah longsor 30 kejadian dan puting beliung 21 kejadian. Kejadian bencana lain yang tercatat yaitu gelombang pasang lima kejadian dan dua kali gempa bumi," tulis Raditya.

Dari sejumlah kejadian, lanjutnya, meskipun banjir paling sering terjadi, gempa bumi paling banyak mengakibatkan korban jiwa hingga kini yakni sebanyak 91 jiwa.

Masih dari data BNPB, korban luka-luka akibat gempa bumi 1.172 jiwa, tanah longsor 26, puting beliung tujuh orang dan banjir lima orang.

"Total kerusakan rumah rusak akibat gempa bumi berjumlah 1.896 unit dengan tingkat yang berbeda. Rinciannya, rumah rusak berat 147 unit, rusak sedang 63 unit, dan rusak ringan 1.686 unit," terang Raditya.

Dia melanjutkan, dari rumah rusak, jumlah kerusakan akibat gempa bumi, khususnya yang terjadi di Sulawesi Barat, masih dalam proses pendataan di lapangan. Dari kategori rusak berat, tanah longsor masih menyebabkan kerusakan paling tinggi yaitu 45 unit, disusul gelombang pasang atau abrasi 40, banjir 38 dan puting beliung 24.

Bencana juga mengakibatkan kerusakan fasilitas publik. Dari sejumlah kejadian bencana, kerusakan pada fasilitas penduduk berjumlah 18 unit, rumah ibadah 15, kesehatan 3, kantor 2 dan jembatan 25.

"Kerusakan fasilitas publik akibat gempa masih dalam pendataan," imbuhnya.

Sementara itu, perkembangan terkini dampak gempa bumi M6,2 Sulawesi Barat per 21 Januari 2021, pukul 08.00 WIB tercatat korban meninggal berjumlah 91 jiwa, hilang 3, luka berat 253, luka ringan 679, luka sedang 240. Warga yang mengungsi berjumlah 9.910 jiwa.

Di Kabupaten Mamuju teridentifikasi sementara 5 titik pengungsian, seperti di Jalu 2, Stadion Mamuju, Gerbang Kota Mamuju, Tapalang dan Kantor Bupati. Sedangkan di Kabupaten Majene, dua titik teridentifikasi yaitu di SPN Malunda dan Desa Sulet Malunda.

"Pascagempa, upaya penanganan darurat masih berlangsung hingga hari ini, Kamis (21/1). Gubernur Sulawesi Barat telah menetapkan status Tanggap Darurat Bencana Gempa bumi selama 14 hari, terhitung dari 15 Januari 2021 hingga 28 Januari 2021," sebut Raditya.

Melihat dampak bencana, masyarakat selalu diimbau untuk tetap waspada dan siaga. Terkait bencana hidrometeorologi, BNPB meminta masyarakat untuk memperhatikan prakiraan cuaca yang diinformasikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), mengingat puncak musim hujan masih terjadi hingga Februari 2021.

Potensi bahaya lain yaitu gempa bumi yang dapat terjadi setiap saat, seperti yang terjadi di Sulawesi Barat. Di samping itu, ancaman bahaya lain yaitu pandemi Covid-19 yang masih terus terjadi penularan di tengah masyarakat.

Dirinya menerangkan, BNPB mengingatkan untuk melakukan persiapan keluarga dalam menghadapi sejumlah potensi bahaya tersebut. Diskusikan di antara keluarga dengan terlebih dulu mengidentifikasi potensi bahaya dan risiko di sekitar.

Masyarakat, kata Raditya, dapat memanfaatkan aplikasi, seperti InaRISK, Info BMKG, Magma Indonesia untuk mengetahui potensi bahaya dan risiko. Selanjutkan anggota keluarga dapat mendiskusikan upaya konkret yang dapat dilakukan di sekitar tempat tinggal.

"Setiap keluarga memiliki tingkat risiko yang berbeda, seperti parameter anggota keluarga, topografi di sekitar rumah, kekuatan bangunan, atau pun tata ruang rumah," pungkasnya. (*)

Komentar