Abdul Khak: Jadikan Bahasa Negara yang Utama

Metro-243 hit 29-05-2021 08:09
Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Dr Abdul Khak ssat memberikan penghargaan kepada para juara pertama Uda dan Uni Duta Bahasa Sumbar 2021, Jumat malam (28/5). (Foto : Arzil)
Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Dr Abdul Khak ssat memberikan penghargaan kepada para juara pertama Uda dan Uni Duta Bahasa Sumbar 2021, Jumat malam (28/5). (Foto : Arzil)

Penulis: Arzil

Padang, Arunala - Wildan Massyiyan Chaniago, dan Aficha Leony terpilih sebagai Uda dan Uni Duta Bahasa Sumatera Barat (Sumbar) 2021 yang diselenggarakan Balai Bahasa Sumbar pada malam final pemilihan duta bahasa tersebut, di salah satu hotel berbintang di Padang, Jumat malam (28/5).

Pada malam final itu, Wildan dan Aficha mengungguli sembilan pasangan finalis lainnya. Atas keberhasilan yang mereka raih sebagai peringkat 1 Duta Bahasa Sumbar 2021 ini, maka mereka akan mewakili Sumbar pada pemilihan Duta Bahasa Nasional 2021 yang akan diselenggarakan di Jakarta nanti.

Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Dr Abdul Khak menyebutkan pemilihan Duta Bahasa ini sudah jadi tradisi bagi Badan Bahasa, dan kegiatan ini sudah lama diadakan dan rutin tiap tahun.

"Ada pun tujuan dari kegiatan ini agar para anak-anak muda ini, walaupun nantinya mereka bekerja tidak berhubungan langsung dengan bahasa, tapi terhadap bahasa negara (Indonesia, red) harus memartabatkan dan mengutamakan, mengingat kebanyakan dari para duta bahasa ini bakal jadi pemimpin atau pengusaha yang mereka itu menguasai bahasa di ruang publik masing-masing," kata Abdul Khak kepada Arunala.com seusai pemilihan Duta Bahasa Sumbar 2021 itu, Jumat malam.

Misalnya, lanjut Abdul Khak, menjadi bupati atau wali kota, maka kabupaten atau kota ini jelas dibawah kekuasaan dia, dan mestinya dia akan mengutamakan pengunaan bahasa negara ketimbang bahasa asing.

"Itu intinya yang saya inginkan dari pelaksanaan pemilihan duta bahasa itu," tukasnya.

Hal lain yang sampaikan Abdul Khak menyangkut adanya istilah-istilah asing yang memang konsepnya harus dikuasai dan sudah memadankannya dalam bahasa Indonesia.

"Tidak mungkin semua istilah asing itu kita serap utuh, karena bila hal itu kita lakukan maka ada kemudiannya bahasa Indonesia itu akan penuh dengan bahasa asing, lalu warna bahasa Indonesia jadi hilang," ujar Abdul Khak.

Komentar