Bank Nagari Bukukan Aset Rp33,61 T di 2025, Tetap Tangguh di Tengah Dinamika Ekonomi

Ekonomi- 02-02-2026 13:15
Direktur Utama Bank Nagari Gusti Candra  didampingi jajaran direksi, komisaris dan dewan pengawas syariah memaparkan Kinerja PT Bank Nagari Tahun 2025 kepada wartawan, Senin (2/2/2026). IST
Direktur Utama Bank Nagari Gusti Candra didampingi jajaran direksi, komisaris dan dewan pengawas syariah memaparkan Kinerja PT Bank Nagari Tahun 2025 kepada wartawan, Senin (2/2/2026). IST

Padang, Arunala.com---PT Bank Nagari berhasil menutup tahun buku 2025 dengan mencatatkan pertumbuhan aset yang positif meskipun dihadapkan pada tantangan ekonomi makro yang cukup kompleks. Berdasar laporan kinerjaunauditedhingga Desember 2025, Bank Nagari membukukan total aset sebesar Rp33,61 triliun, sebuah pencapaian yang mencerminkan pertumbuhan sebesar 1,97 persen dibanding posisi Desember 2024.

"Capaian ini merupakan hasil dari langkah strategis bank dalam menjaga stabilitas di tengah melemahnya daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi daerah yang cenderung melambat," kata Direktur Utama Bank Nagari, Gusti Candra kepada wartawan saat Press Conference Kinerja PT Bank Nagari Tahun 2025 di Kantor Pusat Bank Nagari, Senin (2/2/2026).

Turut hadir Komisaris Utama Andri Yulika, Komisaris Independen Manar Fuadi dan Edrizanof, Ketua Dewan Pengawas Syariah Prof. Dr. Yasri, MS dan Anggota Dewan Pengawas Syariah Prof. Dr. Rozalinda, M.Ag, CRP. Kemudian Direktur Keuangan Roni Edrian, Direktur Operasional Zilfa Efrizon, Direktur Kredit dan Syariah Hafid Dauli, Direktur Kepatuhan Sukardi serta jajaran Pemimpin Divisi.

Gusti Candra mengungkapkan hingga akhir tahun, realisasi kredit dan pembiayaan berada di angka Rp25,27 triliun, mengalami koreksi sebesar 1,10 persen jika dibanding dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Penurunan ini dipicu oleh rendahnya permintaan kredit akibat melemahnya daya beli masyarakat serta sikap hati-hati para pelaku usaha yang cenderung menunggu momentum stabilisasi ekonomi.

"Di sisi lain, Bank Nagari juga memilih untuk menerapkan prinsip kehati-hatian yang lebih ketat dalam menyalurkan dana guna mengantisipasi risiko gagal bayar yang meningkat akibat kondisi ekonomi masyarakat yang tertekan," tegas alumni Unand ini.

Putra Lintau ini menyebutkan kondisi likuiditas bank juga mencerminkan fenomena ekonomi yang unik, di mana dana pihak ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp26,84 triliun dengan pertumbuhan tipis sebesar 0,58 persen. "Pertumbuhan yang terbatas ini berkaitan erat dengan fenomena masyarakat yang mulai menggunakan dana simpanan atau "makan tabungan" demi mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari," sebutnyanext

Komentar