.
Meski demikian, manajemen bank berhasil melakukan optimalisasi struktur dana dengan mengalihkan dana berbiaya mahal ke dana murah, sehingga rasio CASA meningkat 3,35 persen ke level 44,32 persen. "Dampak dari berbagai tekanan pendapatan operasional ini membuat laba bersih bank terkontraksi sebesar 8,24 persen menjadi Rp493,74 miliar pada akhir Desember 2025," ucap Gusti Candra.
Berbanding terbalik dengan sektor konvensional, Unit Usaha Syariah (UUS) Bank Nagari justru menunjukkan performa yang gemilang dengan pertumbuhan yang melampaui rata-rata industri. Total aset syariah melonjak hingga Rp6,49 triliun atau tumbuh 6,28 persen, didorong oleh penyaluran pembiayaan syariah yang melesat 14,66 persen mencapai Rp4,63 triliun.
"Kepercayaan masyarakat terhadap sistem syariah juga mendongkrak penghimpunan DPK syariah menjadi Rp4,91 triliun. Keberhasilan ini berdampak pada perolehan laba setelah pajak syariah yang tumbuh signifikan sebesar 15,43 persen mencapai Rp224,62 miliar. Pertumbuhan positif ini merupakan buah dari konsistensi bank dalam memberikan edukasi transaksi syariah kepada masyarakat," paparnya.
Dari sisi rasio keuangan, Bank Nagari tetap mempertahankan standar kesehatan yang terjaga. Permodalan bank dipastikan sangat kuat dengan CAR berada di angka 23,72 persen, jauh di atas ambang batas yang ditetapkan regulator sebesar 8 persen. Efisiensi manajemen dalam mengelola aset dan ekuitas juga tetap kompetitif dengan ROA sebesar 1,89 persen dan ROE sebesar 12,79 persen.
"Sementara itu, NIM terjaga pada level 5,89 persen dan fungsi intermediasi berjalan optimal dengan LDR sebesar 94,15 persen. Kualitas aset pun masih berada dalam kategori sehat dengan rasio NPL sebesar 2,40 persen, menunjukkan bahwa bank sangat selektif dalam menjaga kualitas penyaluran kreditnya di tengah tingginya risiko pemburukan kualitas pinjaman," sebutnya.
Sejumlah faktor eksternal diakui menjadi tantangan berat bagi pertumbuhan bisnis sepanjang 2025, termasuk kebijakan efisiensi belanja pemerintah melalui Inpres Nomor 1 Tahun 2025 yang berdampak pada perlambatan ekonomi daerah akibat berkurangnya transfer keuangan. Selain itu, perubahan aturan penyaluran KUR dan kendala teknis penyesuaian tarif asuransi kredit berdasarkan POJK Nomor 20 Tahun 2023 yang baru tuntas pada semester kedua turut menghambat laju ekspansi.
"Situasi diperparah oleh bencana banjir dan longsor di beberapa titik di Sumatera Barat yang merusak sektor ekonomi lokal dan memaksa masyarakat serta pemangku kepentingan untuk fokus pada pemulihan pascabencana ketimbang ekspansi usaha. Bank Nagari kini terus bersiap untuk melakukan mitigasi risiko yang lebih mendalam guna mengarungi tahun-tahun mendatang dengan lebih optimistis," tutur Gusti Candra.
Senada dengan itu, Komisaris Utama Bank Nagari, Andri Yulika, menekankan Dewan Komisaris terus mengawal ketat kebijakan manajemen agar tetap adaptif namun prudent dalam menghadapi dinamika ekonomi yang fluktuatif sepanjang 2025."Kami memberikan apresiasi kepada jajaran Direksi dan seluruh karyawan yang mampu menjaga resiliensi bank. Di tengah fenomena 'makan tabungan' dan melemahnya daya beli, fokus utama kami adalah memastikan fundamental Bank Nagari tetap kokoh. Angka CAR yang mencapai 23,72 persen adalah bukti bahwa tingkat keamanan modal kita sangat kuat untuk memitigasi risiko," ujar Andri Yulika.
Ia juga menyoroti pentingnya akselerasi transformasi digital dan penguatan Unit Usaha Syariah (UUS) sebagai mesin pertumbuhan baru. Menurutnya, pertumbuhan laba syariah yang mencapai 15,43 persen menunjukkan bahwa diversifikasi strategi bank berjalan di jalur yang tepat.
"Dewan Komisaris berkomitmen untuk terus mendorong inovasi layanan agar Bank Nagari tidak hanya menjadi lembaga keuangan, tetapi juga motor penggerak ekonomi daerah yang solutif. Kita ingin memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil tetap berorientasi pada perlindungan kepentingan nasabah dan pemegang saham, sembari menjaga kualitas aset agar tetap sehat," tambah Andri.(*next


Komentar