Tingkatkan Kesiapsiagaan Bencana, Sumbar Gelar Pelatihan Penyusunan Rencana Kontingensi Bencana

Metro- 06-04-2026 15:11
Gubernur Mahyeldi kalungkan tanda kepesertaan pada perwakilan ASN yang ikuti pelatihan penyusunan rencana kontingensi bencana di Aula BPSDM Sumbar, Senin (6/4/2026). IST
Gubernur Mahyeldi kalungkan tanda kepesertaan pada perwakilan ASN yang ikuti pelatihan penyusunan rencana kontingensi bencana di Aula BPSDM Sumbar, Senin (6/4/2026). IST

.

"Secara keseluruhan dalam skala pulau sumatera, bencana ini menyebabkan lebih dari 1.200 korban meninggal dunia, jutaan masyarakat terdampak, dan lebih dari 1 juta jiwa mengungsi," jelasnya.

Bahkan pada laporan lapangan di Sumbar, tercatat puluhan ribu warga terdampak dan ribuan rumah mengalami kerusakan akibat banjir dan longsor.

"Peristiwa ini memberikan pelajaran

penting bagi kita semua bahwa kesiapsiagaan menjadi kunci utama dalam mengurangi risiko bencana," ucapnya.

Penanganan darurat saja tidak cukup, namun harus didukung dengan perencanaan yang matang, terstruktur, dan teruji. Salah satu instrumen penting dalam upaya tersebut adalah rencana kontingensi, yang berfungsi sebagai pedoman dalam menghadapi potensi bencana secara cepat, tepat, dan terkoordinasi.

"Saya minta kepada bisa saling bekerja sama, agar dokumen yang disusun ini menjadi berkualitas dan dapat diimplementasikan," harapnya.

Sementara itu, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Sumbar Drs. Barlius, MM mengatakan, dokumen renkon penting untuk disusun, khususnya di Provinsi Sumbar sebagai bentuk kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana.

"Karena wilayah kita mempunyai potensi bencana yang besar dan beragam, dengan ancaman bencana gempa, tsunami, banjir, banjir bandang, tanah longsor, kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, gelombang ekstrim dan abrasi.

"Dengan adanya dokumen Renkon yang kita telah susun bersama diharapakan apabila terjadi tanggap darurat bencana, maka seluruh komponen yang telah menandatangani komitmen dokumen renkon akan mengerahakan sumber daya, logistik, dan peralatan dalam penanganan bencana yang terjadi," kata Barlius.

Ia berharap dengan keterlibatan aktif unsur-unsur pentahelix kebencanaan dalam kegiatan tersebut, dapat dihasilkan output berupa pengorganisasian kebijakan dan strategi yang efektif, baik dalam aspek teknis maupun non-teknis.

"Jadi besar harapan saya kepada peserta dapat mengikuti secara serius dan berperan aktif dalam kegiatan ini, sehingga menghasilkan dokumen yang baik," pungkasnya.

Selanjutnya Barlius berharap melalui kegiatan pelatihan tersebut berharap seluruh peserta dapat memahami konsep dan metodologi penyusunan rencana kontingensi secara komprehensif, meningkatkan kapasitas koordinasi lintas sektor dan lintas wilayah, serta menghasilkan dokumen rencana kontingensi yang aplikatif dan dapat diimplementasikan saat terjadi keadaan darurat.

Akhir sambutannya, Barlius menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah dengan pentahelix antara lain TNI, Polri, dunia usaha, akademisi, media massa, serta masyarakat dalam membangun sistem penanggulangan bencana yang tangguh. (*/dpg)

Komentar