Fomalhaut Zamel Tutup PFS 2026, Gaya Bedouin Berbalut Wastra Sumbar

Ekonomi- 11-08-2026 07:38
Model memeragakan koleksi desainer Fomalhaut Zamel yang terinspirasi pada kehidupan masyarakat Bedouin yang dikenal sebagai kelompok masyarakat nomaden di kawasan Jazirah Arab saat Padang Fashion Summit 2026 di The ZHM Premiere Padang, Senin (10/8/2026) malam. IST
Model memeragakan koleksi desainer Fomalhaut Zamel yang terinspirasi pada kehidupan masyarakat Bedouin yang dikenal sebagai kelompok masyarakat nomaden di kawasan Jazirah Arab saat Padang Fashion Summit 2026 di The ZHM Premiere Padang, Senin (10/8/2026) malam. IST

.

Namun, apa yang terlihat sederhana dan matang di atas catwalk ternyata melalui proses kreatif yang cukup panjang. Fomalhaut mengungkapkan, motif-motif yang digunakan dalam koleksi tersebut bukanlah motif lama yang sekadar dipakai kembali. Seluruh motif merupakan rancangan baru yang dibuat secara khusus untuk kebutuhan koleksi PFS 2026.

Pengerjaan motif bahkan telah dimulai beberapa bulan sebelum koleksi tersebut tampil di hadapan publik. Proses itu mencakup berbagai eksperimen untuk menemukan komposisi motif dan warna yang sesuai dengan gagasan besar koleksi. Tidak seluruh percobaan menghasilkan hasil sesuai harapan. Karena itu, proses trial and error menjadi bagian penting dalam perjalanan kreatif tersebut.

"Semua motif dari koleksi ini motif baru. Memang di-custom dan dibuat khusus untuk koleksi ini. Pengerjaannya sudah dilakukan beberapa bulan yang lalu," ungkapnya.

Eksplorasi warna menjadi salah satu bagian yang membutuhkan perhatian khusus. Fomalhaut tidak ingin sekadar menghasilkan warna yang sesuai dengan tren, tetapi mencari kombinasi yang mampu membangun karakter tersendiri bagi koleksi. "Karena membuat motif baru ini ada trial and error, sampai akhirnya dapat warna yang benar-benar kita inginkan dan tidak biasa," ujarnya.

Upaya tersebut kemudian terlihat ketika seluruh koleksi diperagakan. Satu per satu model bergerak menyusuri catwalk, memperlihatkan pertemuan antara karakter busana Bedouin dengan kekayaan tenun Sumatera Barat.

Lapisan busana menciptakan volume dan dimensi. Penggunaan sal memperkuat referensi terhadap kehidupan gurun, sementara tenun menjadi penanda bahwa koleksi tersebut tetap berpijak pada identitas lokal.

Hasilnya bukan reproduksi busana Bedouin, melainkan interpretasi baru atas sebuah inspirasi budaya yang diterjemahkan ke dalam konteks mode Indonesia. Di tangan Fomalhaut, gagasan tentang kehidupan masyarakat gurun menjadi titik awal. Wastra Sumatera Barat kemudian menjadi medium untuk menghidupkan gagasan itu dalam bentuk yang berbeda.

Ketika model terakhir menyelesaikan lintasan, tepuk tangan penonton mengiringi berakhirnya fashion parade. Cahaya panggung mengikuti gerakan para model hingga akhirnya Fomalhaut Zamel muncul memberikan penghormatan terakhir. Momen tersebut sekaligus menandai berakhirnya rangkaian fashion parade pada PFS 2026.

Kehadiran Fomalhaut sebagai desainer penutup memberikan pesan tersendiri bagi perhelatan mode tersebut. Wastra lokal tidak harus selalu ditampilkan dalam bentuk yang konvensional. Tenun Sumatera Barat dapat terus bergerak melalui eksplorasi motif, warna, siluet, material, serta gagasan yang datang dari berbagai latar budayanext

Komentar