Fomalhaut Zamel Tutup PFS 2026, Gaya Bedouin Berbalut Wastra Sumbar

Ekonomi- 11-08-2026 07:38
Model memeragakan koleksi desainer Fomalhaut Zamel yang terinspirasi pada kehidupan masyarakat Bedouin yang dikenal sebagai kelompok masyarakat nomaden di kawasan Jazirah Arab saat Padang Fashion Summit 2026 di The ZHM Premiere Padang, Senin (10/8/2026) malam. IST
Model memeragakan koleksi desainer Fomalhaut Zamel yang terinspirasi pada kehidupan masyarakat Bedouin yang dikenal sebagai kelompok masyarakat nomaden di kawasan Jazirah Arab saat Padang Fashion Summit 2026 di The ZHM Premiere Padang, Senin (10/8/2026) malam. IST

.

Dengan cara itu, tradisi tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu. Ia dapat menjadi bahan bakar kreativitas untuk melahirkan karya baru yang memiliki relevansi dengan perkembangan industri mode.

Selain Fomalhaut Zamel, malam terakhir PFS 2026 juga diisi sejumlah desainer, sekolah, komunitas, dan talenta fesyen lainnya. Mereka di antaranya Refri Yulianto, SMKN 8 Padang, Ganevo x Riza, Hengki Romeo x Face Model, Jass by Bgaan, Jun's, Bagaya x Arie Yuza, Tala Rahayu, serta Zhio William x Limpapeh.

Rangkaian fashion parade kemudian berlanjut melalui penampilan Ridho Hassmar, IYIN, Rela Tulisia x Khalifa, dan Uzzy Butik. Panggung PFS 2026 juga mendapat sentuhan internasional melalui kehadiran Arma Couture dari Malaysia serta Fuzeedesigns by Ofuzkel Fashion Corner dari Australia.

Keberagaman penampil tersebut memperlihatkan bahwa PFS tidak hanya menjadi ruang bagi desainer lokal, tetapi juga menjadi titik temu bagi berbagai pelaku industri mode dari dalam dan luar negeri.

Pada kesempatan penutupan, Wali Kota Padang Fadly Amran menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan PFS 2026. Mulai dari desainer, model, pelaku industri kreatif, komunitas hingga berbagai pihak yang mendukung terselenggaranya rangkaian kegiatan tersebut.

Menurut Fadly, keberadaan PFS memiliki arti lebih luas daripada sekadar menghadirkan pertunjukan busana. Bagi Pemerintah Kota Padang, fashion dapat menjadi salah satu medium untuk memperkenalkan identitas daerah, termasuk kekayaan budaya dan wastra Sumatera Barat, kepada masyarakat yang lebih luas.

"Padang Fashion Summit bukan hanya tentang fashion, tetapi bagaimana kita mengangkat identitas dan kekayaan budaya Sumatera Barat agar semakin dikenal. Kita ingin wastra dan karya para desainer tidak hanya tampil di panggung, tetapi juga memiliki nilai ekonomi dan mampu menembus pasar yang lebih luas," ujar Fadly Amran.

Menurutnya, kekayaan budaya akan memiliki daya hidup yang lebih panjang apabila mampu dipertemukan dengan kreativitas dan kebutuhan zaman. Karena itu, ekosistem fashion dan ekonomi kreatif perlu dibangun secara bersama-sama, melibatkan pemerintah, desainer, pelaku UMKM, komunitas, generasi muda hingga berbagai sektor industri lainnyanext

Komentar