Kalibrasi Penting untuk Keakuratan Arah Kiblat

Metro- 18-10-2022 20:39
Tim kalibrasi arah kiblat Kemenag Sumbar saat turun ke lapangan, Selasa (18/10). (Dok : Istimewa)
Tim kalibrasi arah kiblat Kemenag Sumbar saat turun ke lapangan, Selasa (18/10). (Dok : Istimewa)

Penulis: Fajril

Padangpariaman, Arunala.com —Kantor Wilayah Kementerian Agama Sumbar menurunkan tim kalibrasi arah kiblat ke KUA Revitalisasi se-Sumbar. Ini dalam rangka menyempurnakan arah kiblat di tempat ibadah se-Sumbar.

Hari ini, Selasa (18/10), tim yang berasal dari Bidang Urusan Agama Islam di bawah Koordinator Ikrar Abdi bersama Tim Teknis Ihsanul Fikri, Budi Riva dan Pertiwi Immawati mengunjungi KUA Kecamatan Nan Sabaris, Padangpariaman dan KUA Pariaman Tengah Kota Pariaman.

"Banyak aplikasi yang bisa digunakan untuk mengukur arah kiblat, namun hal itu hanya bisa digunakan untuk kepentingan pribadi. Untuk pembangunan masjid yang cukup luas maka perlu menggunakan theodolit karena hasilnya berbeda jauh. Karena tingkat ketelituannya cukup tinggi, 1 per 3600 derajat," kata Tim Teknis, Ihsanul Fikri.

Baca Juga

Ia menegaskan jika tidak, akan berpengaruh kepada pembangunannya.

Hal ini juga berdampak kepada ibadah masyarakat. Namun kalibrasi (pengukuran) arah kiblat ini sifatnya pasif.

"Kementerian Agama tidak bisa jemput bola, harus ada permintaan dulu dari masyarakat. Ketika Kemenag tiba-tiba melakukan pengukuran arah kiblat akan menimbulkan pertanyaan dari masyarakat. Dan akan menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Kenapa arah kiblatnya diukur," jelas lulusan Fakultas Syariah UIN Imam Bonjol ini.

Jika tidak punya aplikasi, kompas atau theodolit sambungnya masyarakat juga bisa melakukan kalibrasi arah kiblat secara mandiri melalui rasydul kiblat.

"Peristiwa rasydul kiblat ini terjadi dua kali dalam setahun. 28 Mei jam 16.18 WIB dan 16 Juli jam 16.27 WIB. Masyarakat bisa melakukan kalibrasi menggunakan bayang-bayang. Hasilnya sama dengan theodolit," tuturnya.

Sementara itu, Kabid Urusan Agama Islam (Urais), Edison dihubungi terpisah mengatakan kalibrasi arah kiblat satu dari sepuluh layanan masyarakat yang mesti ada di KUA dan SDM-nya harus tersedia.

"Mengingat salat sebagai Ibadah mahdhah dan fardhu a'in bagi setiap individu, maka perlu dikaji sarat dan rukunnya, supaya salat itu sah dan diterima Allah SWT. Agar tidak menimbulkan pro dan kontra di tengah jamaah masjid dan masyarakat, sebelum arah kiblat diukur ulang, atau pembangunan masjid baru ada baiknya dimusyawarahkan terlebih dulu," ungkapnya.

Setelah sepakat sambung Kabid Urais, pengurus masjid atau masyarakat bisa mengirimkan surat permohonan pengukuran arah kiblat ke KUA.

"Atau Kankemenag kabupaten kota atau langsung ke Kantor Wilayah Kementerian Agama Sumbar," pungkas Kabid. (*)

Komentar