IDI Padang Pecahkan Rekor MURI Pelatihan Pijat Jantung

Metro- 20-11-2022 20:46
Ketua IDI cabang Padang dr Muhammad Riendra SpBTKV (K)-VE memperlihatkan piagam Rekor MURI, Minggu (20/11). (Dok : Istimewa)
Ketua IDI cabang Padang dr Muhammad Riendra SpBTKV (K)-VE memperlihatkan piagam Rekor MURI, Minggu (20/11). (Dok : Istimewa)

Penulis: Fajril

Padang, Arunala.com - Pelatihan pijat jantung secara hybrid yang diadakan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) cabang Padang berhasil mencatatkan diri dalam Museum Rekor Indonesia (MURI) dikarenakan melibatkan pengurus masjid terbanyak.

Kegiatan pelatihan pijat jantung ini diadakan sebagai rangkaian HUT ke-72 IDI dengan tema Berbakti untuk Negeri, Mengabdi untuk Rakyat, Satu IDI Terus Maju.

Penghargaan Rekor MURI tersebut diserahkan oleh Senior Customer Relation Manager MURI Triyono kepada Ketua IDI cabang Padang dr Muhammad Riendra SpBTKV (K)-VE.

Baca Juga

"Pelatihan pijat jantung ini diikuti 86 masjid di Padang dengan total peserta 2.155 orang. Kami juga menerjunkan masing-masingnya satu orang dokter di setiap masjid dan mahasiswa sehingga total relawan yang terlibat mencapai 200 orang," kata Ketua IDI cabang Padang, dr Muhammad Riendra SpBTKV (K)-VE, ketika dihubungi Arunala.com , Minggu (20/11).

Pelatihan ini, sebut Riendra, dilatarbelakangi penyakit jantung merupakan penyebab kematian tertinggi di Indonesia maupun Sumbar. Dimana 1 dari 3 kematian adalah karena jantung.

Apalagi, di lapangan, henti jantung mendadak itu belum ditangani dengan benar. Dikarenakan keterbatasan pengetahuan dan pengalaman dari masyarakat.

"Makanya, kita mencoba memberikan edukasi sekaligus melatih pengurus-pengurus masjid . Dengan harapan para pengurus masjid ini bisa memberikan pertolongan pertama jika terjadi henti jantung mendadak pada jamaah atau orang-orang sekitarnya," tutur Riendra.

Ia menjelaskan secara prinsipnya ada tiga cara pijat jantung. Pertama, harus mengenali dulu kondisi dari korban. Apakah masih sadar atau tidak.

"Biasanya, ditepuk bahunya atau dipanggil orangnya. Atau bisa juga memberikan rangsangan nyeri. Jika seandainya, korban tidak merespons berarti ada kemungkinan tidak sadar," sebutnya.

Kedua, memanggil teman. Tujuannya membantu dalam bekerja dan menjadi saksi bahwa ini merupakan tindakan pertolongan pertama.

"Jangan sampai nantinya keluarganya salah paham. Kita perlu memanggil orang-orang lain," ucapnya.

Ketiga, pelaksanaan pijat jantung. Caranya, melakukan penekanan pada tulang dada.

"Jadi bagian tengah tulang dada dilakukan penekanan dengan menggunakan dua tangan dalam posisi lurus. Jadi, sikunya tidak ditekuk tapi dalam posisi lurus. Istilahnya engselnya di pinggang bukan di siku. Sehingga, penekanannya lebih optimal," ungkap Riendra.

Setelah itu, sebutnya, dilakukan penekanan berulang-ulang dengan kedalaman diperkirakan 5 cm. "Pijat jantung itu bukan pijit.

Karena beberapa masyarakat memaknai pijit jantung itu dalam pemikirannya pijat refleksi.

Ini adalah bentuk pertolongan pertama pada pasien-pasien henti jantung," tutur Kepala IGD RSUP dr M Djamil Padang ini.

Ia mengatakan jika seandainya korban merespons, maka pijat jantungnya dihentikan.

"Atau bisa juga ketika sedang melakukan pijat jantung, datang petugas kesehatan. Sebagai orang awan diserahkan selanjutnya kepada petugas kesehatan," ucapnya.

Sementara itu, Senior Customer Relation Manager MURI Triyono mengapresiasi kegiatan yang dilakukan IDI Padang.

Ini salah satu upaya mengedukasi masyarakat di bidang kesehatan dan merupakan yang pertama melibatkan pengurus masjid terbanyak.

"Ini yang pertama kali diadakan, sebelumnya cuma pelatihan bantuan hidup secara umum," ujarnya.

Ia menilai keunikan dari pelatihan ini adalah ditujukan kepada pengurus masjid yang merupakan simpul masyarakat.

"Oleh sebab itu MURI mengapresiasi kegiatan ini dan berharap IDI Padang terus mengedukasi masyarakat karena kegiatan serupa di luar negeri malah telah diajarkan di sekolah. Di Indonesia masih banyak yang belum tahu dan paham, moga ini terus berlanjut," harapnya.

Komentar