102 Kasus HIV AIDS di RSUP M Djamil, Didominasi LSL

Metro- 01-12-2022 22:14
Ilustrasi virus HIV/AIDS. (Dok : Istimewa)
Ilustrasi virus HIV/AIDS. (Dok : Istimewa)

Penulis: Fajril

Padang, Arunala.com - RSUP M Djamil Padang mencatat sebanyak 102 kasus HIV AIDS sejak April tahun lalu hingga September 2022.

Data tersebut berdasar kunjungan pasien berobat ke rumah sakit rujukan Sumatera Bagian Tengah ini.

Sementara, jumlah secara keseluruhan sejak mulai penatalaksanaan di RSUP M Djamil hingga September 2022 terdata 2.568 kasus HIV AIDS. Dibanding tahun lalu terdata 2.466 kasus HIV AIDS.

Baca Juga

"Dari 102 kasus tersebut, tidak semuanya berterus terang. Hanya 65 orang yang mau berterus terang. Dimana 64 orang melakukan hubungan lelaki sesama lelaki (LSL) dan 1 orang melakukan hubungan dengan pekerja seks komersial," kata Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Tropis dan Infeksi RSUP M Djamil Padang, dr Armen Ahmad SpPD KPTI FINASIM, ketika dihubungi Arunala.com , Kamis (1/12).

Artinya, sebut Armen, angka kasus LSL di RSUP M Djamil Padang sangat tinggi. Dibanding ditularkan melalui jarum suntik, darah, hubungan seksual dengan pasangan terinfeksi HIV tanpa perlindungan maupun penularan dari ibu terinfeksi HIV kepada bayinya.

"Malah, untuk penularan melalui jarum suntik jarang ditemukan lagi," sebut Armen.

Ia menjelaskan penularan HIV AIDS ini melalui lima cairan tubuh. Yakni darah, sperma, cairan kemaluan wanita, cairan dubur dan air susu ibu.

"Kelima cairan tubuh itulah potensial bisa menularkan ke orang lain. Kalau cairan itu masuk ke tubuh orang lain, bisa mengakibatkan terjadinya HIV AIDS," ungkapnya.

Kemudian, perilaku yang bisa membuat mudah terinfeksi HIV AIDS tersebut adalah jarum suntik.

Jarum suntik tersebut masuk lewat pembuluh darah melalui virus sehingga cepat penularannya. Kasus ini jarang ditemukan lagi.

"Kedua, hubungan seks. Jika hubungan lain jenis, laki-laki dan perempuan memiliki daya tahan. Sehingga, daya tahan yang ada bisa membantu retensi tidak tinggi," sebut Armen.

Tapi, jika terjadi hubungan lelaki sesama lelaki, seks anal menjadi pilihan. Pasalnya, lapisan anus sangatlah tipis dan tidak memiliki pelumas alami, sehingga rentan timbulnya luka.

Luka pada anus membuat bakteri dan virus dapat masuk dengan mudah ke pembuluh darah sehingga mempercepat penyebaran infeksi.

"Perlu ketahui bahwa menggunakan pelumas dalam seks anal pun tidak akan mencegah risiko terjadinya luka pada anus. Selain itu, meski pasangan yang melakukan stimulasi atau penetrasi tidak mempunyai penyakit menular seksual, terdapat bakteri yang secara alami hidup di anus sehingga tetap berisiko terjangkit," tuturnya.

Komentar