Positive Parenting Penting bagi Anak Usia Dini

Edukasi-182 hit 05-07-2020 15:04
PENGABDIAN : Dosen dan mahasiswa Prodi Bimbingan dan Konseling STKIP PGRI Sumbar usai berikan pembekalan pada orang tua tentang pengasuhan positif pada anak usia dini, belum lama ini. (Dok : Istimewa)
PENGABDIAN : Dosen dan mahasiswa Prodi Bimbingan dan Konseling STKIP PGRI Sumbar usai berikan pembekalan pada orang tua tentang pengasuhan positif pada anak usia dini, belum lama ini. (Dok : Istimewa)

Penulis: Amazwar Ismail | Editor: MN. Putra

Padang, Arunala - Edukasi pola pengasuhan positif bagi anak usia dini menjadi target utama yang diberikan Dosen dan mahasiswa Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Sumbar, program studi (Prodi) Bimbingan dan Konseling.

Kegiatan ini dilangsungkan para dosen dan mahasiswa kepada sejumlah orang tua murid PAUD/TK di Taman Kanak-Kanak (TK) Ulul Ilmi Dadok Tunggul Hitam, Kota Padang, beberapa waktu lalu.

"Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat, kami para dosen dan para mahasiswa ingin berbagi pada sejumlah orang tua bagaimana pola asuh anak usia dini yang baik," ujar Dosen Prodi Bimbingan dan Konseling STKIP PGRI Sumbar, Mori Dianto didampingi Dosen satu prodinya, Suryadi kepada media, Sabtu (3/7) lalu.

Baca Juga

Mori menyebutkan, kegiatan yang mereka laksanakan waktu itu mengangkat tema "Pengasuhan Positif pada Anak Usia Dini".

Mori menambahkan, penekanan pola pengasuhan yang diberikan pada sejumlah orang tua murid itu yakni pola pengasuhan positif (Positive parenting).

"Pola semacam ini adalah pola asuh yang dilakukan secara suportif, konstruktif, dan menyenangkan," sebut dia.

Suportif, tambah Mori, artinya memberi perlakuan yang mendukung perkembangan anak, konstruktif artinya bersikap positif dengan menghindari kekerasan atau hukuman, serta dilakukan dengan cara yang menyenangkan.

Dari pemahaman dirinya, pendekatan dengan cara yang positif, seperti berbicara dengan lembut, membiasakan diri bertukar cerita, menyediakan waktu sendiri bersama anak, akan mendorong anak untuk mengubah sikapnya.

"Anak juga belajar mengendalikan emosi, bersikap terbuka, dan ini bisa menjadi salah satu cara dari sekian banyak cara untuk meningkatkan rasa percaya diri si kecil karena dia tidak pernah merasa dipermalukan," terang Mori lagi.

Sementara Suryadi menambahkan, kegiatan yang mereka adakan itu bertujuan membantu perguruan tinggi dalam menyusun kebijakan dan perencanaan program yang berkaitan dengan kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat, baik itu dilakukan oleh dosen maupun mahasiswa.

Di samping itu, imbuh dia, kegiatan seperti ini dapat meningkatkan kemampuan sumber daya manusia (Dosen dan Mahasiswa) dalam melakukan kegiatan dan pengabdian masyarakat.

"Tidak ada sekolah khusus untuk menjadi orang tua. Tapi, orang tua tetap perlu belajar menerapkan pola pengasuhan yang positif pada anak agar dapat membentuk karakter positif anak di masa depan," kata Suryadi.

Komentar