Permintaan Tebu Lawang Turun Drastis

Ekonomi-125 hit 26-07-2020 11:35
Marlin Tanjung, seorang petani Tebu Lawang yang mengaku penjualan Tebu Lawang menurun. (Dok :Istimewa)
Marlin Tanjung, seorang petani Tebu Lawang yang mengaku penjualan Tebu Lawang menurun. (Dok :Istimewa)

Penulis: Amazwar Ismail | Editor: MN. Putra

Agam, Arunala - Pulau Jawa yang selama ini menjadi pasar potensial untuk penjualan Tebu Lawang, asal Agam. Biasanya ada ratusan batangan Tebu Lawang yang rutin para petani tebu di daerah itu dikirim melalui darat ke seberang Pulau Sumatera itu.

Misalnya Marlin Tanjung, pria berusia 59 tahun yang merupakan salah seorang petani Tebu yang ada di Nagari Lawang, Kecamatan Matur ini.

Dia menjelaskan, dirinya bersama beberapa petani Tebu Lawang lainnya rutin mengirim tebu batangan ke Pulau Jawa, dan beberapa tempat lainnya.

Baca Juga

"Namun sejak pandemi Covid-19 ini, permintaaan akan Tebu Lawang di Jawa jadi jauh berkurang," kata Marlin mewakili teman-temannya sesama petani tebu, di Lawang, Agam, Sabtu (25/7).

Dalam kondisi normal (sebelum Covid, red), sebut pria ini, petani Tebu Lawang tinggal mengirimkan tebu sesuai pesanan dari masing-masing langganan mereka yang ada di Pulau Jawa itu.

Dirinya juga mengakui, dengan kondisi pandemi hari ini, jelas beri pengaruh terhadap tingkat penjualan Tebu Lawang ini.

Dia menyadari, dengan pandemi Covid-19 ini semua tentu terkena dampak, namun karena ini menyeluruh, semua harus ikhlas menerima.

Kami setuju dengan pemerintah, kesehatan harus diutamakan. Dan kami berharap agar Corona ini cepat berlalu," sebut Marlin.

Disinggung mengenai harga jual, Marlin mengatakan harga Tebu Lawang berkisar antara Rp 3.000, hingga Rp 3.300, per batangnya. Diakui Covid-19 tidak mempengaruhi harga jual, namun permintaan tebu yang sangat jauh berkurang.

Dia bersama-sama petani tebu berharap agar pemerintah dapat mencarikan solusi agar perekonomian masyarakat setempat dapat kembali pulih seperti sediakala.

Di sisi lain, Marlin juga mengakui kondisi yang sama juga dialami tempat biasa mereka jualan yakni di kawasan wisata Puncak Lawang yang merupakan destinasi wisata unggulan di Kabupaten Agam.

Di tempat wisata itu biasanya Tebu Lawang bisa terjual agak lima puluh batang, dengan begitu kami sudah dapat Rp.150.000. Kalau kini bisa tidak ada penjualan sama sekali," ucap Marlin lagi.

Namun dengan masa paceklik ini, baik petani Tebu Lawang dan juga sebagai besar warung-warung yang juga dilengkapi dengan spot-spot fotografi di kawasan wisata itu, seakan mati suri.

"Senin sampai Jumat bisa dikatakan tidak ada pengunjung sama sekali, harapan kami di Sabtu Minggu, faktanya itu pun tak seberapa," ungkap Marlin.

Komentar