.
Anak stunting, kata Nila, juga menderita penyakit periodontal, enamel defect yaitu terjadinya disfungsi ameloblast pada fase pembentukan gigi. Sehingga enamel menjadi lebih tipis.
"Erupsi gigi terlambat yaitu terjadinya telat tumbuh gigi yang lebih lambat dibanding dengan usia erupsi anak normal, gigi berlubang karena menurunnya laju, komposisi dan fungsi saliva disertai dengan enamel defect, malokusi," tutur alumni S-3 Biomedik Unand ini.
Dan, kata Nila, crowded akibat premature loss dan persistensi gigi serta oral hygiene yang rendah. Ini dikarenakan kemampuan motorik dan kognitif rendah untuk menjaga oral hygene index (OHI) .
"Pada saat anak didiagnosa stunting, jika intervensi awal dilakukan, memungkinkan anak untuk catch up growth yaitu mengejar pertumbuhan untuk sesuai standar," ungkapnya.
Ia mengatakan catch up growth secara biologis mungkin terjadi jika lingkungan anak perbaiki secara menyeluruh termasuk lingkungan di rongga mulut. Salah satu contoh pemberian terapi zinc.
Dimana anak yang diberi suplementasi zinc selama enam bulan menunjukkan berat badan sebanyak 1,4 kg dan tinggi 5,7 mm.
"Tetapi kelainan kognitif, psikomotorik, rongga mulut, bukan otomatis terkoneksi dan masih diderita anak stunting, tanpa perubahan," ucapnya.
Ia berharap semua perlu berkolaborasi melakukan terapi holistic yang dilakukan untuk penanganan anak stunting.
"Apalagi penanggulangan stunting menjadi salah satu misi penting Indonesia dalam mencapai target Indonesia Emas 2045," tutur Nila.
Sementara Rektor Unand Prof Dr Yuliandri SH MH mengatakan Prof Dr drg Nila Kasuma MBiomed merupakan profesor pertama di Fakultas Kedokteran Gigi Unand.
"Kami mengucapkan selamat kepada Prof Nila Kasuma," kata Yuliandri.
Ia mengatakan selama empat tahun terakhir berdasar dari orasi ilmiah yang disampaikannya telah memfokuskan penelitian terhadap anak stunting. Serta menjalin kerja sama dengan ahli di bidang hukum.


Komentar