Sunyi yang Dipelihara Kota: Ketika Tradisi Bertahan Tanpa Panggung

22 hit
Sunyi yang Dipelihara Kota: Ketika Tradisi Bertahan Tanpa Panggung

Gebby Ayumi

Mahasiswa Universitas Andalas, Jurusan Sastra Minangkabau

Sekarang kota berkembang cepat sekali. Hampir setiap hari ada bangunan baru, tempat nongkrong baru, dan tren baru yang terus muncul. Orang-orang juga makin sibuk dengan urusan masing-masing.

Semua terasa berjalan cepat, sampai kadang hal-hal lama perlahan mulai terlupakan. Salah satunya soal tradisi.

Banyak yang mengira budaya lama sudah mulai hilang karena kalah sama perkembangan zaman. Padahal sebenarnya tidak sepenuhnya begitu.

Kalau diperhatikan baik-baik, tradisi masih ada di sekitar kita, cuma cara bertahannya sudah berbeda. Ia tidak selalu muncul di acara besar atau festival budaya.

Kadang tradisi justru hidup di tempat-tempat kecil yang jarang dilihat orang. Ada yang tetap memakai bahasa daerah saat di rumah, masih menjalankan kebiasaan keluarga tertentu, atau tetap menjaga cara hidup yang diwariskan orang tua mereka.

Hal-hal sederhana seperti itu sering dianggap biasa, padahal sebenarnya itu juga bagian dari budaya.

Menurut saya, kota memang membuat banyak hal berubah, termasuk cara orang memandang tradisi. Sekarang orang lebih dekat dengan media sosial dibanding cerita-cerita lama.

Anak muda juga lebih cepat mengikuti tren baru daripada mengenal budaya di sekitar mereka sendiri. Tapi bukan berarti generasi sekarang tidak peduli.

Banyak juga anak muda yang mulai mencoba mengenalkan budaya lewat cara yang lebih dekat dengan kehidupan mereka.

Contohnya bisa dilihat di media sosial. Sekarang mulai banyak orang yang membuat konten tentang budaya, mulai dari tarian daerah, musik tradisional, sampai cerita-cerita lama yang dikemas lebih santai.

Ada juga komunitas kecil yang masih rutin latihan seni tradisional walaupun tanpa panggung besar. Mereka tetap jalan walaupun tidak terlalu ramai diperhatikan.

Menurut saya justru di situ letak menariknya. Tradisi tetap hidup walaupun tidak selalu jadi pusat perhatian.

Kadang budaya memang tidak perlu panggung besar untuk bertahan. Ia cukup dijaga oleh orang-orang yang masih peduli.

Misalnya kebiasaan makan bersama saat acara keluarga, tradisi saling membantu saat ada kegiatan di lingkungan sekitar, atau cara orang tua mengajarkan nilai sopan santun ke anaknya.

Hal-hal seperti itu mungkin terlihat kecil, tapi sebenarnya punya arti yang besar.

Saya merasa sekarang banyak orang menganggap budaya hanya sebatas pertunjukan atau sesuatu yang harus terlihat "wah". Padahal budaya juga hidup dari kebiasaan sehari-hari.

Bahkan obrolan sederhana di rumah atau cara masyarakat berinteraksi bisa jadi bagian dari tradisi yang terus diwariskan.

Karena itu, budaya sebenarnya tidak benar-benar hilang. Ia hanya berubah bentuk mengikuti keadaan zaman.

Di Indonesia sendiri, masih banyak tradisi yang tetap bertahan walaupun kehidupan terus berubah.

Data dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi juga menunjukkan kalau warisan budaya tak benda masih terus dijaga masyarakat sampai sekarang.

Mulai dari tradisi lisan, kesenian, upacara adat, sampai kerajinan tradisional masih terus ada karena masyarakatnya sendiri yang mempertahankan.

Selain itu, masih ada masyarakat yang sengaja mengajarkan budaya kepada anak-anak sejak kecil. Ada orang tua yang tetap mengenalkan lagu daerah, permainan tradisional, sampai kebiasaan adat di rumah.

Walaupun terlihat sederhana, hal seperti ini penting supaya generasi berikutnya tidak terlalu jauh dari budaya mereka sendiri.

Sebab kalau bukan dari lingkungan terdekat, anak muda sekarang mungkin akan lebih banyak mengenal budaya luar dibanding budaya yang ada di sekitar mereka.

Walaupun begitu, perkembangan zaman juga membawa tantangan baru. Sekarang budaya kadang lebih sering dijadikan konten dibanding dipahami maknanya.

Banyak orang tertarik karena tampilannya bagus, tapi tidak tahu cerita atau nilai yang ada di balik tradisi itu. Akhirnya budaya hanya lewat sebagai tren sesaat. Setelah ramai beberapa waktu, lalu dilupakan lagi.

Menurut saya itu yang cukup disayangkan. Tradisi seharusnya bukan cuma soal tampilan luar. Di dalamnya ada banyak nilai tentang kebersamaan, rasa hormat, dan cara hidup masyarakat sejak dulu.

Hal-hal seperti ini justru penting di tengah kehidupan kota yang sekarang terasa makin sibuk dan individual. Orang-orang jadi jarang saling mengenal, jarang berkumpul, bahkan kadang terlalu fokus dengan urusannya sendiri.

Karena itu, tradisi sebenarnya punya peran penting untuk menjaga rasa dekat antar manusia. Walaupun zaman berubah, nilai-nilai seperti kebersamaan dan kepedulian tetap dibutuhkan.

Mungkin bentuknya nanti tidak akan sama seperti dulu, tapi setidaknya nilai yang ada di dalamnya masih bisa dipertahankan.

Menurut saya anak muda punya peran besar dalam hal ini. Tidak harus selalu lewat acara besar atau kegiatan formal. Kadang cukup dengan mulai peduli, mau belajar, atau sekadar tidak malu mengenal budaya sendiri sudah jadi langkah penting.

Tradisi tidak harus selalu terlihat kuno. Budaya juga bisa hidup berdampingan dengan dunia modern.

Pada akhirnya saya sadar kalau tradisi memang tidak selalu hadir dengan suara yang besar. Kadang ia bertahan lewat cara yang tenang dan sederhana.

Lewat kebiasaan kecil, cerita keluarga, atau orang-orang yang diam-diam masih menjaganya sampai hari ini.

Kota boleh berubah secepat apa pun, tapi selama masih ada yang peduli, tradisi akan tetap punya tempat untuk hidup. (*)

(Disclaimer: isi dalam tulisan diluar tanggung jawab penerbit)

Komentar