Randai Minangkabau Gabungkan Kaba, Gerak Silek dan Dendang dalam Satu Pertunjukan

11 hit
Randai Minangkabau Gabungkan Kaba, Gerak Silek dan Dendang dalam Satu Pertunjukan

Sayyid Sufi Mubarok

Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau Universitas Andalas

Randai merupakan seni pertunjukan tradisional Minangkabau yang berkembang di berbagai nagari di Sumatera Barat (Sumbar).

Pertunjukan ini menggabungkan cerita atau kaba, dialog dan akting, dendang atau gurindam, serta gerak galombang yang bersumber dari silek Minangkabau.

Gabungan unsur tersebut membuat randai tidak hanya tampil sebagai tarian, tetapi juga sebagai bentuk teater tradisional masyarakat Minangkabau.

Randai dan Cerita Kaba

Cerita menjadi salah satu bagian utama dalam randai. Kaba yang dibawakan dapat menjadi dasar cerita pertunjukan, kemudian dikembangkan melalui dialog, pemeranan tokoh, dendang, dan gerak galombang.

Dalam perkembangan randai, cerita tidak harus selalu menggunakan kaba lama. Cerita baru juga dapat disusun selama tetap berkaitan dengan kehidupan dan nilai yang dikenal dalam masyarakat Minangkabau.

Hubungan antara randai dan kaba juga berkaitan dengan tradisi lisan Minangkabau. Sebelum masyarakat mengenal tradisi tulis secara luas, kaba digunakan sebagai salah satu bentuk penyampaian cerita dan informasi.

Dalam randai, tradisi tersebut kemudian hadir melalui pertunjukan yang menggabungkan cerita dengan gerak dan dendang. Karena itu, cerita yang dibawakan dalam randai tidak berdiri sendiri, tetapi disampaikan melalui beberapa bentuk seni sekaligus.

Salah satu contoh perkembangan cerita randai dapat dilihat dari penggarapan Randai Malin Nan Kondang yang dikembangkan dari kaba Malin Kundang.

Pertunjukan tersebut menunjukkan bahwa cerita yang dikenal dalam tradisi kaba dapat dialihkan menjadi pertunjukan randai dengan pendekatan seni yang lebih baru.

Cerita kemudian dikembangkan melalui unsur dramatik dan musik tanpa meninggalkan hubungan dengan kaba sebagai sumber ceritanya.

Dalam sebuah pertunjukan, cerita randai biasanya tidak disampaikan melalui dialog secara terus-menerus. Dendang atau gurindam digunakan untuk menghubungkan bagian-bagian cerita, sementara dialog dan akting digunakan ketika tokoh memainkan adegan.

Pola tersebut membuat pergantian antara cerita, gerak, musik, dan percakapan menjadi bagian dari struktur pertunjukan randai.

Gerak Galombang dan Silek

Gerak galombang menjadi ciri yang mudah dikenali dari randai. Para pemain bergerak dalam formasi melingkar sambil melakukan gerakan yang bersumber dari silek Minangkabau.

Gerakan tersebut tidak hanya menjadi pengisi pertunjukan, tetapi merupakan salah satu unsur utama randai bersama cerita, dialog, akting, dan gurindam.

Dalam gerak randai terdapat sejumlah bentuk langkah yang berkaitan dengan gerakan silek. Gerakan pembuka seperti sambah silek, langkah silek atau balabek, hingga gerakan akhir menunjukkan hubungan antara seni bela diri Minangkabau dan pertunjukan randai.

Gerak tersebut kemudian dipadukan dengan dendang sehingga pemain tidak hanya memperlihatkan kemampuan gerak, tetapi juga harus mengikuti irama pertunjukan.

Formasi melingkar atau legaran juga menjadi bagian penting dalam randai. Para pemain bergerak bersama dalam lingkaran mengikuti irama dendang dan arahan pemimpin gerakan.

Dalam beberapa bentuk pertunjukan, terdapat tukang goreh yang berperan mengatur gerakan agar pemain tetap mengikuti tempo dan pola yang telah ditentukan.

Hubungan antara silek dan randai menunjukkan bahwa gerak dalam pertunjukan tidak dapat dipisahkan dari pengetahuan tubuh yang berkembang dalam masyarakat Minangkabau.

Pemain harus memahami langkah, posisi tubuh, gerak bersama, serta hubungan gerakan dengan dendang. Karena itu, belajar randai juga membutuhkan proses latihan yang tidak hanya berhubungan dengan kemampuan bermain drama.

Dendang dan Gurindam dalam Randai

Dendang atau gurindam menjadi unsur penting lain dalam randai. Dendang digunakan untuk menyampaikan bagian cerita, menghubungkan satu adegan dengan adegan berikutnya, serta mengiringi gerak galombang.

Dalam kajian mengenai randai, gurindam ditempatkan sebagai salah satu unsur pokok yang tidak dapat dihilangkan dari bentuk pertunjukan tradisional tersebut.

Gurindam randai memiliki bentuk yang beragam. Ada yang menggunakan pola pantun dengan sampiran yang tidak berkaitan langsung dengan cerita, sementara bentuk lainnya mempunyai sampiran yang berhubungan dengan dialog atau materi cerita.

Penggunaan bentuk tersebut menyesuaikan bagian pertunjukan yang sedang dimainkan.

Dendang juga dapat menjadi penghubung ketika sebuah adegan selesai dan cerita berlanjut ke bagian berikutnya.

Dalam perkembangan pertunjukan randai, musik internal yang berasal dari dendang dan gerakan galombang saling berkaitan.

Irama yang digunakan membantu pemain menjaga keserempakan gerakan sekaligus mempertahankan alur pertunjukan.

Sejumlah bentuk dendang memiliki posisi tertentu dalam rangkaian randai. Dalam salah satu kajian mengenai struktur randai disebutkan dendang Dayang Daini sebagai dendang pasambahan atau pembuka, Simarantang Randah pada bagian awal permainan galombang, dan Simarantang Tinggi pada bagian penutup atau pasambahan akhir.

Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa musik dalam randai mempunyai fungsi struktural, bukan hanya sebagai pengiring.

Randai di Nagari dan Perkembangannya

Randai tumbuh dalam lingkungan nagari dan berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat pendukungnya. Kajian tentang randai di Minangkabau mencatat bahwa kesenian ini hidup dan berkembang di nagari-nagari wilayah Minangkabau.

Karena setiap nagari mempunyai lingkungan sosial dan kebiasaan yang dapat berbeda, bentuk bahasa, cerita, gerak, serta cara penyajiannya juga dapat mengalami variasi.

Contoh perkembangan randai dapat dilihat di Nagari Simawang, Kabupaten Tanah Datar. Pertunjukan Randai Bujang Duano di daerah tersebut menjadi salah satu objek kajian seni pertunjukan yang memperlihatkan bagaimana randai tetap hadir sebagai bentuk pertunjukan masyarakat di lingkungan nagari.

Pengkajian terhadap pertunjukan tersebut mencakup unsur cerita dan penyajian randai sebagai teater tradisional.

Randai juga berkembang di luar Sumatera Barat melalui perpindahan masyarakat Minangkabau. Di Kuantan Singingi, Riau, misalnya, randai mulai dikenal di perkampungan sepanjang Sungai Kuantan sekitar 1937.

Pertunjukan awal yang tercatat di daerah tersebut adalah Randai Cindur Mato yang dimainkan oleh perantau Minangkabau bersama masyarakat Kampar.

Setelah berkembang di Kuantan, bentuk pertunjukannya kemudian mengalami perubahan pada lagu, tarian, tema cerita, busana, tempat pementasan, hingga keterlibatan perempuan.

Perkembangan randai di luar Sumatera Barat tersebut memperlihatkan bahwa kesenian ini dapat mengikuti lingkungan masyarakat tempat ia berkembang.

Namun, unsur utama seperti cerita, gerak galombang, gurindam, dialog, dan akting tetap menjadi bagian penting dalam pembentukan randai sebagai teater tradisional Minangkabau.

Perubahan bentuk penyajian tidak selalu berarti seluruh unsur lama hilang, karena sebagian tetap dipertahankan dalam struktur pertunjukan.

Saat ini, randai juga dapat dikembangkan melalui penggarapan naskah dan pertunjukan baru. Komunitas seni dan lingkungan pendidikan di Sumbar terus menggunakan kaba, silek, bahasa Minangkabau, dan dendang sebagai bahan pembelajaran serta penciptaan pertunjukan.

Di Universitas Andalas, misalnya, pengembangan randai juga diarahkan pada kemampuan komunitas untuk mengolah kaba menjadi naskah yang dapat dimainkan di atas panggung.

Randai pada akhirnya mempertemukan beberapa bentuk kesenian Minangkabau dalam satu ruang pertunjukan.

Kaba memberikan cerita, silek menjadi dasar gerak galombang, sementara dendang dan gurindam membantu menyampaikan cerita serta mengatur jalannya pertunjukan.

Dialog dan akting kemudian membuat tokoh-tokoh dalam cerita dapat tampil sebagai bagian dari teater.

Karena unsur-unsurnya saling berkaitan, randai tidak cukup dipahami hanya dari gerakan melingkar para pemain. Di dalamnya terdapat pengetahuan tentang kaba, bahasa Minangkabau, silek, musik, dan cara bermain bersama dalam sebuah kelompok.

Pertunjukan randai yang masih dimainkan di berbagai daerah kemudian memperlihatkan bahwa satu bentuk kesenian dapat terus dikembangkan tanpa harus melepaskan unsur-unsur yang membuatnya dikenal sebagai randai. (*)

(Disclaimer: tulisan ini diluar tanggung jawab penerbit)

Komentar